Kamis, 30 November 2017

Nenek Ine (in memoriam)

Sudah satu bulan kepergiannya. Aku memanggil beliau Nenek Ine, sapaan kepada Nenek dari bahasa Musi Banyuasin, Sekayu, tepatnya Bailangu, Sumatera Selatan, tempatnya lahir. Melalui tulisan ini, aku simpan kenangan tentang Nenekku.

Nenekku seorang yang pintar secara akademik,
ia bersekolah di Sekolah Guru dan Hakim Agama di Malang,
ia bercerita mendapat nilai ilmu pasti 9,
ia satu-satunya perempuan yang diangkat menjadi penilik sekolah,
Nenek dengan percaya diri berkata bahwa aku termasuk pintar dalam akademik adalah karena keturunannya.

Nenekku seorang pensiunan pegawai negeri sipil, yaitu guru,
begitu juga dengan Nek Anang, seorang pensiunan hakim pengadilan agama,
Nenek pernah berkelakar dan berkata bahwa salah satu alasan ia memilih Nek Anang (kakekku) adalah jika ia menjadi janda karena ditinggalkan oleh suami terlebih dahulu maka ia akan mendapat pensiunan suami.

Nasihat nenek.. jangan pernah meninggalkan sholat,
selalu tumakninah dan sholatlah tepat waktu,
Nenek Ine seorang yang sangat strict tentang Thoharoh,
ia selalu perfeksionis menjaga kesucian sebelum melaksanakan sholat,
Nenek selalu mengucapkan Lailahaillallah sebelum tidur,
Kata Nenek, jikalau beliau meninggal dalam keadaan tidur, ia akan masuk surga dengan mengucapkan itu,
pada masa sebelum ia tidak sadar dan kritis pun, yang diingatnya adalah sholat.

Nenekku sepertinya sama seperti nenek lain kebanyakan, yang selalu menceritakan cerita yang itu-itu saja secara berulang-ulang,
Nenek berkata, ada seorang laki-laki yang menyukai dulu bernama Abu,
tetapi tak sampai menikah karena nenek tidak sreg,
Abu jarang sholat, walaupun nenek kagum dengan abu yang tidak menyentuh tangannya saat nonton bareng dulu,
Sepeninggal Nek Anang, Abu sempat melamar Nenek Ine tetapi beliau tolak dengan alasan ia masih merasa almarhum suaminya masih ada di hadapannya walaupun telah mendahuluinya,
yang kemudian Abu balas dengan pernyataan bahwa dirinya ibarat emas yang tak pernah berubah sedari dulu. (yang kemudian pernyataan tersebut melekat terus di benak Nenek)
Nenek bilang, Nenek memilih Nenek Anang karena ia agamanya bagus dan selalu menjaga sholat lima waktu.


Nenekku seorang yang blak-blakan dalam berbicara,
bukan seseorang yang baper terhadap perasaan orang lain dan tidak mudah tersinggung,
Nenekku seorang yang gigih,
beliau berjuang hingga akhirnya bisa memperbaiki nasib dengan bersekolah di Malang
Nenekku seorang yang cukup cerewet dan senang mengobrol,
Pada masa tuanya, ia tidak memakai alat bantu dengar sehingga terkadang sulit menangkap perkataan orang sekitar

Nenekku berpetuah padaku agar tidak hanya memiliki pacar satu saja,
agar kalau suatu saat si A berpaling,
maka masih ada si B,
tapi nek... ian satu pacar aja gak punya :( (oke skip bagian ini)

Nenekku selalu ingin untuk sholat di awal waktu,
beliau selalu ingin dibangunkan di awal waktu shubuh,
dan bertanya kapan adzan berkumandang,
entahlah, mungkin ia berpikir takut belum melaksanakan sholat sebelum ajal mendahuluinya.

Nenekku memiliki nafsu makan yang baik,
cemilan yang ia suka adalah yang manis dan ia tidak terlalu suka cemilan asin
favorit nenekku adalah rasa keju,
malah aku pernah rebutan richeese dan martabak dengan nenek,
ah.. lucu juga kalau diingat.

Nenekku seorang yang hidupnya sehat,
ia tidak memiliki masalah kesehatan yang berat di masa tuanya,
ia meminum banyak air putih setiap harinya,
mungkin itu menjadi salah satu alasan mengapa ia panjang umur hingga 86 tahun

Nenekku selalu bertanya-tanya kapan ia akan pergi,
cita-citanya ingin mati dalam keadaan khusnul khatimah,
nenek hanya ingin seluruh dosanya telah diampuni oleh Allah SWT,
beliau berkata tidak ingin hidup hingga 90 atau 100 tahun.
Nenek pun berwasiat, ia tidak ingin ada tahlilan jika ia mati,
karena ia berkata hal tersebut adalah bid'ah.

Selamat jalan, Nenekku,
tak ada lagi orang yang selalu bertanya kapan adzan akan berkumandang,
tak ada lagi pasang popok secara bergiliran antara aku dan saudara-saudaraku pada malam hari,
tak ada lagi orang yang selalu menyanyikan nyanyian khas setiap hari,
aku hanya bisa berdoa agar kuburmu dilapangkan, dosamu diampuni dan amal ibadahmu diterima oleh Allah,
semoga Nenek bisa bertemu dengan Allah di surgaNya kelak,
aamiin.



Senin, 20 November 2017

Catatan (curhat) Perjalanan Online Shop

Jenis-jenis customer online:

1. Sudah membaca  informasi dari keterangan caption sehingga tidak bertanya lagi dan langsung mengirim format order aja. Yang ini paling menyenangkan apalagi kalo belinya banyak dan langsung transfer seketika dengan m-banking. Hehehe


2. Banyak tanya karena tidak membaca keterangan dengan lengkap. Tidak jarang komplain ketika barang sampai tidak sesuai isi hatinya padahal seharusnya sudah ada di caption. Hehe... Oke lah asal tidak hit n run apalagi kalo beli banyak masih dimaklumi kok😊


3. Hit and Run. Order tapi ga transfer :( makanya sebagai olshop lebih senang pake sistem first pay first get aja jadi ga usah keep barang buat 1 customer.


4. Mengirim bukti transfer palsu. Hati-hati ya para olshopper, selalu langsung cek mutasi kalo ada konfirmasi pembayaran.


5. Agak labil karena masih milih-milih pesanan dan belum tau mau pesan model yang mana tapi pengen "jajan". Walhasil suka bertanya ke admin dengan pertanyaan seperti yg matching yang mana atau tidak jarang bilang "aku tanya suamiku dulu ya sis yang mana" atau "gajadi yang itu sis suamiku ga suka". 😅


6. Curigaan. Bertanya "ini ga nipu kan ya?" atau bahkan malah menyuruh admin foto selfie dengan produk, minta foto "real pict", atau foto paket dia. Kalo lagi sedikit sih paketnya masih memungkinkan sis, tapi kalo lagi rame ya repot karena yang dipacking bukan satu paket aja. Huhu. Be a smart buyer, sisters. Cek testimoni, tagged photos, ownernya siapa dll. Karena mau penipu ataupun bukan gaakan mungkin jawab kalo dia penipu 😁😁.

Ada yang mau nambahin? 😄

Tapi..... segimana pun bawelnya customer sebagai penjual yang berusaha memberikan service terbaik akan tetap berusaha sabar dan ramah menjawabnya.


Tanpa sisters yang setia @bytwin.ian bukanlah apa-apa 😊😊😘

Senin, 06 November 2017

How I Know

how do I know if I am falling in love or not?
every cheesy articles seems relatable to read,
every "galau-tausiyah" feels not as cheesy as I read before,
every love songs are addictive to listen,

every time I am going outside home,
I prepare a sudden meet if there will be you,
every time I wear makeup,
I want you to see that I could be more beautiful,
every time I feel alone,
I imagine if you could be here with me,
every time I see another girl chases you,
I feel insecure and want myself to stop being stupid,
every time you react of anything I did,
I exaggerate myself again,

I really hate myself when I think about you,
I feel like I am not my usual self,
I am harsh to myself to keep myself sane,
I don't want to lose my rationality just because I like you

My selfishness want me to keep my pride,
I want to stop hoping,
Even though you are annoying to always popping up in my head,
I want you to know that I am really thankful to meet you,
Because I could heal my wounded self from my past,
Sorry if I didn't treat you better,
I just want to protect my fragile heart from unwanted hope,
Because I know it will hurt myself deeply if I hope too much,
Do I have to forget about you? Let's see..

Rabu, 18 Oktober 2017

untitled

aku ini hanyalah orang yang tak pernah masuk hitunganmu,
siapalah diriku ini? hanya salah seorang pengagum dari banjirnya penggemarmu,

ibarat aku ini hanya sehelai baju di tumpukan terbawah lemari yang bukanlah menjadi favoritmu,
seolah aku ini hanyalah aspal jalanan yang kau lewati setiap hari tapi tak pernah menjadi perhatianmu,
aku ibarat secangkir kopi pahit saat kau menginginkan teh manis,
aku hanyalah angin yang kau anggap lalu saat kau mengharapkan udara segar,
aku seperti semak belukar saat yang kau cari adalah bunga,

aku sadar,
aku tidak bisa berharap apa-apa,
aku hanya sekedar mengagumimu,
bahkan menyebutmu dalam doaku pun aku takut,
aku hanya berharap Tuhan memberikanku yang terbaik,
hingga akhirnya pun ku sadari,
aku terlalu berharga untuk berharap pada sesuatu yang semu..

Selasa, 12 September 2017

hmmm (curhat)

Berhubung sekarang umur gw tidak semuda beberapa tahun lalu dan bukan lagi seseorang yang memikirkan target pada organisasi mahasiswa, skripsi, ataupun tugas kuliah, sebagai perempuan normal.. jujur gw mengakui bahwa sekitar 50-75% kegalauan yang gw rasakan adalah tentang jodoh. Setelah lulus kuliah rasanya galaunya belum sebesar ini, malah gw merasa ingin bisa settled dalam hal penghasilan, sudah S2 dsb.

Alhamdulillah... 1 tahun ke belakang ini Allah begitu baik, walaupun gw diberi kegagalan, ternyata gw diberikan nikmat rezeki yang sebelumnya tidak pernah gw sangka. Nah, inipun yang membuat gw merasa sudah cukup puas menghilangkan penasaran tentang apa yang disebut karir dan kerja keras ataupun kerja gila, mumpung masih single. Sekarang pun rasa galaunya berubah, gw rasa gw sudah cukup dalam memuaskan ego pribadi untuk merasakan kerja gila... dan beralih ke, "kapan ya kira-kira gw nikah? ada gak ya yang mau sama orang kayak gw ini?". Walaupun masih ada mimpi lain yang belum terwujud, tapi gw rasa saat ini sudah cukup sebagian ambisi itu terpenuhi.

Dulu, waktu gw masih lebih belia, sepertinya gw adalah orang yang lebih memaksakan kehendak pada takdir dan Tuhan.. tak terkecuali ketika menyukai seseorang. Tapi sekarang? sepertinya tidak. Semakin gw ngerasa kalo gw itu berharga, gw gak mau sembarangan dan pengen sama orang yang bisa menghargai dan menerima gw apa adanya aja (yang tentu sesuai dengan kriteria). Yang gw cari bukan dari segi materi ataupun harta berlimpah kok. Sama sekali bukan. Dan walaupun gw suka ke seseorang, gw gak mau lagi buat doa ke Allah spesifik dengan satu nama, biar Allah aja yang putusin siapa yang baik untuk gw, maupun gw baik untuk dia.

Seorang teman dan artikel so called nasihat cinta bilang, "yaudah kalo emang suka ya bilang aja kalo kita suka, siapa tau dia juga suka". Kok sebagai perempuan pemalu gw gak mau ya, gw gengsi :))). Toh kalopun ujungnya ga sama orang yang gw suka sekarang ya gak papa, selama gw bisa belajar menerima orang yang mau menerima gw. (ah gitulah pokoknya). Karena kadang gw berpikir kalo mencintai itu hanyalah ilusi dari sebab merasa bahwa kita dicintai. Terlebih gw hanyalah perempuan, bukan laki-laki yang lebih bebas memilih.

Lagi-lagi semakin dewasa gw harus belajar ikhlas... kalo gak semua yang gw mau bisa tercapai, dan itulah yang dinamakan takdir, dan ini hanya dunia yang sementara. :)