Rabu, 14 Oktober 2015

Dulu

Dulu, aku pernah terjebak dengan rasa yang susah dijelaskan untukmu.
Dulu, kau selalu datang ke pikiranku.
Dulu, namamu sempat hadir dalam doaku.
Dulu, aku merasa bodoh karena menyukaimu.
Dulu, kau adalah sebab kata-kata indah yang bisa dengan mudahnya kurangkai pada tiap tulisanku.
Dulu, aku merasa kau lah yang ku inginkan.
Dulu, aku selalu membayangkan apa pada saat aku ada di angkutan umum, di mall akan bertemu denganmu secara tiba-tiba.
Dulu, kau adalah orang yang hadir dalam benakku saat lagu-lagu cinta terdengar di telingaku.
Dulu, aku menerka-nerka apakah kau juga menyukaiku.


Tapi itu dulu,
Sekarang aku tak ingin lagi berharap, karena itu semua hanya membuat lelah diriku sendiri.
Sekarang aku malu jika mengingat bahwa aku pernah senorak itu menyukai seseorang.
Sekarang kupikir aku tak menyukaimu lagi.

Dear kamu, semoga hidupmu baik-baik saja, selalu sehat wal afiat, dan makin menyenangkan ya sekarang :))

Jumat, 09 Oktober 2015

Idealisme Syariah Pasca Kampus

Disclaimer: 
Tulisan ini ditulis oleh seorang fresh-graduate dari Ilmu Ekonomi Syariah IPB yang baru saja wisuda awal September 2015. Tulisan ini hanya merupakan pendapat dan pemikiran penulis saja, tidak bermaksud menghakimi atau mengatur pilihan orang lain. Hanya sekedar sharing pendapat dan tidak memaksa orang lain untuk sependapat :)

Semasa saya kuliah, terutama pada tingkat 2 hingga tingkat 3, saya sangat aktif berorganisasi pada Himpunan Mahasiswa Ekonomi Syariah, yang bernama Sharia Economics Student Club (SES-C), bahkan saya juga lumayan aktif pada lingkup regional Jabodetabek sebagai staff ahli di bidang Litbang FoSSEI (Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam). Semasa kuliah, baik pada saat mendengarkan kuliah dosen maupun di luar kelas, idealisme saya sebagai mahasiswa ekonomi syariah terhitung lumayan. Tidak pernah terbayangkan rasanya saya akan mengkhianati idealisme yang telah saya bangun semasa kuliah.

Saya pun berpikiran demikian pada teman-teman maupun kolega di sekitar saya. Saya berpikir, dengan pendidikan yang telah kita tempuh selama itu, masa sih mereka tega untuk mengkhianatinya selepas lulus dan berakhirnya masa studi?

Pandangan saya pun berubah total setelah saya melepas status mahasiswa saya. Saya juga dapat dikatakan lulus lebih awal dibandingkan teman-teman sekelas saya. Mungkin bagi para mahasiswa tingkat 2-3 yang belum merasakan perjuangan skripsi hingga akhir lalu perjuangan mencari pekerjaan ataupun beasiswa ataupun mencari suami, mereka belum mengetahui betul mengapa banyak orang-orang yang idealismenya semakin memudar pasca kampus. Mereka juga belum mengalami langsung bagaimana persaingan di dunia pasca kampus dalam mendapatkan pekerjaan idaman.

Awal-awal saat saya lulus idealisme saya masih terasa menggebu-gebu. Saya menolak untuk mendaftar semua lowongan kerja bank konvensional. Teman saya yang berseberangan mayor dengan saya, yaitu Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, mengatakan bahwa tidak masalah bekerja di bank konvensional, karena rejeki bisa datang dari mana saja. Saya langsung mengutarakan bahwa "Rejeki? Kalau sumber uang yang dihasilkan adalah dari riba yang notabene haram, maka itu bukanlah rejeki.. tetapi MUSIBAH."

Lama kelamaan, idealisme yang dulu terasa menggebu-gebu itu memudar. Pernah suatu kali saya tergoda untuk mendaftar internship di bank konvensional skala multi nasional. Saya bertanya pada beberapa kerabat saya tentang magang di bank ribawi. Jawaban mereka pun masih idealis. Saat itu saya merasa bersyukur bahwa lingkungan saya yang mengingatkan saya untuk tetap teguh pendirian pada pilihan untuk tidak bekerja di bank ribawi.

Mungkin bagi sebagian orang, bekerja di bank konvensional, menabung, melakukan kegiatan kredit rumah, serta meminjam uang pada bank ribawi tersebut adalah suatu hal yang lumrah karena biasa dilakukan oleh masyarakat. Tetapi jika saja kita tahu bahwa banyak ayat Al-Quran maupun Al-Hadits mengatakan bahwa riba jelas-jelas haram. "Memakan" uang riba adalah dosa yang amat berat, bahkan salah satu hadits mengatakan bahwa dosa riba yang paling kecil adalah sama seperti dosa berzina dengan ibu kandung sendiri. Naudzubillah. 

Sebagai orang muslim, mari kita gunakan analogi seperti ini.. kita semua tau kan bahwa daging babi itu haram? Lalu jika kita adalah muslim yang taat dan normal, tentu kita akan merasa jijik kan memakan daging babi? Nah, sama halnya dengan kita memakan uang riba, itupun haram. 

Sejujurnya ada sedikit rasa sedih saat teman saya yang berkata "Ah bank syariah juga sama aja sebenernya sama bank konvensional kan", apalagi jika yang mengatakan hal tersebut adalah orang yang pernah belajar ekonomi syariah dan tau hukumnya. Saya pun menjawab bahwa jelas berbeda, karena pada bank syariah masih ada Dewan Pengawas Syariah yang mengontrol aktivitas bank agar tetap patuh pada prinsip syariah. Konsep yang ditawarkan pada syariah pun berbeda dengan konvensional. Sistem ekonomi syariah, termasuk perbankan, merupakan sistem yang harus dipahami dengan iman kepada Allah SWT. Mengapa demikian? Karena jika kita tidak percaya pada hukum Allah SWT yang mengatakan dengan tegas bahwa maysir, gharar, maupun riba adalah haram hukumnya, maka penjelasan macam apapun akan menjadi percuma untuk mereka yang memang dasarnya tidak percaya.

Sebagian besar kolega saya yang lain masih idealis untuk menolak berkarir di lembaga keuangan konvensional. Perlahan, saya menjadi lebih toleran terhadap teman atau orang lain yang (padahal) saat mahasiswa menggeluti kegiatan ekonomi syariah tetapi bekerja pada bank ataupun lembaga keuangan lain yang konvensional/non syariah. Saya sangat mengerti sekali mengapa banyak orang yang tidak lagi seidealis dulu. Alasan-alasan yang mereka utarakan pun juga saya pun merasakannya. Walaupun demikian, saya berusaha untuk "keras" terhadap diri sendiri dan tetap teguh pendirian untuk tetap bertahan.

Berikut adalah alasan-alasan yang sering saya dengar jika (yang dulunya) aktivis ekonomi syariah. ataupun orang muslim yang telah mengetahui bahwa riba itu haram tetapi tetap memilih untuk berkarir di bank konvensional:
1.  "Namanya juga masih fresh graduate, wajar lah pekerjaan apapun diambil. Yang penting kan niatnya aja."
2.  "Cari kerja kan sekarang susah, lagian kerja di bank kan lumrah-lumrah aja. Daripada jadi pengangguran. Jangan terlalu pemilih lah dalam cari pekerjaan."
3.   "Gaji di bank syariah itu kan kecil, mending kerja di bank konven aja sih kalo gitu mah yang gajinya jauh lebih gede."
4.   "Ah bank syariah juga gak murni syariah kok, mirip-mirip aja sama bank konvensional"
5.   "Bank Syariah sama Bank Konven yang penting mah bayar zakat aja"
6.   "Gapapa untuk sementara ini kerja di konven dulu buat tambah pengalaman, nanti abis itu karir setelahnya tetep di syariah."


Finally, menurut gw, hidup ini bukan sekedar tentang mencari uang dan bekerja, tetapi tentang mempertahankan apa yang kita yakini sebagai kebenaran. Dan jawaban tentang pilihan itu tetap adanya dalam hati. Jika hatimu memang berkata bahwa kerja tersebut tidak masalah, ya lakukan saja. Tapi jika dalam hatimu kau ragu-ragu dan merasa janggal dalam hati, tetaplah pada pendirian tersebut. Bismillah, semoga Allah mempermudah saya mempertahankan apa yang saya yakini.

Rabu, 16 September 2015

Cantik? Apa Penting?

Sebenarnya apa sih standar cantik?
Jika menonton drama korea, maka mereka selalu menyebut standar cantik mereka adalah memiliki double eyelid, tubuh kurus semampai dengan body mass index di bawah 18.5, pipi yang tirus, kulit semulus dan seputih susu maupun hidung yang mancung tapi kecil.

Lain lagi ketika saya mendengarkan keluhan-keluhan perempuan-perempuan di sekitar saya maupun saya sendiri mengenai kelemahan fisiknya. Cantik yaitu tubuh langsing dengan shape S line, alis yang tebal dan rapi, gigi yang rapi, pipi yang tirus, serta rambut yang tebal.

Emang cantik sepenting itu ya?
Hal yang biasa kita dengar apabila ada seseorang yang menikah atau berpacaran dengan si A atau si B adalah "cantik ga tuh orangnya", atau pula "lebih cantik mana dengan mantannya". Apalagi jika saya sedang bercengkrama dengan kolega saya yang laki-laki, pasti obrolan mereka tidak jauh dari membandingkan kecantikan perempuan-perempuan yang sering berseliweran di depan mata mereka. Bahkan sebagian dari mereka terlihat seperti terobsesi untuk memiliki pasangan hidup yang menurut mereka cantik.

Seorang teman berkata bahwa ia tidak merasa bahwa dirinya cantik. Ah, saya tak percaya dengan perkataannya itu. Saya yakin bahwa dia tau bahwa dia cantik. Dia juga pasti tahu betapa banyak pasang mata laki-laki yang sering mencuri pandang pada parasnya yang menawan. Mungkin dia hanya ingin terlihat rendah hati saat berbicara pada saya. Atau malah dia ingin saya memujinya lebih lanjut (?). Atau malah dia memang pada dasarnya seorang yang tawadhu.

Teman saya itu merupakan perempuan yang banyak menjadi incaran para laki-laki di sekitarnya untuk dijadikan pacar. Yaa, tidak terhitung kali ya berapa banyak laki-laki yang sering memberinya perhatian berupa kado boneka, sms sok perhatian, ataupun mengantar jemput dia ke kosannya. Lalu saya pun berpikir, jika memang karena kecantikan membuat perempuan tersebut menjadi lebih sulit menjaga dirinya, bukankah berarti kecantikan itu adalah ujian? Ujian agar perempuan cantik itu tidak sembarang meladeni para laki-laki yang membutuhkan sekedar gandengan. Lalu, jika demikian pun, kecantikan juga menjadi ujian bagi para perempuan untuk tidak menjadi sombong. Yaitu sombong merasa bahwa dirinya menjadi pujaan lelaki dibandingkan dengan perempuan yang biasa-biasa saja parasnya. 

Lalu, saat saya sedang mengobrol dengan teman saya yang lain, saya mengatakan padanya bahwa saya merasa bahwa apalah pentingnya cantik, karena cantik yang ada pada wajah hanyalah sementara.  Kecantikan pasti akan memudar seiring usia. Cantik itu tidak sepenting itu, kawan. Yang penting adalah menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan terus berkarya. Apalah pentingnya kecantikan jika tidak beriman kepada Tuhan. Apalah pentingnya kecantikan jika sebenarnya tak bahagia. Masih banyak hal lain yang bisa menjadi sumber kebahagiaan di dunia ini. Teman saya pun menyangkal perkataan saya. Ia mengatakan pada saya bahwa saya bisa mengatakan hal seperti itu karena wajah saya masih bisa dikatakan cantik, sementara saya tidak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi "jelek". Dia berkata alangkah beruntungnya orang cantik, separuh dari masalah hidupnya menjadi lebih mudah karena kecantikannya. Apa benar begitu? Hmm.. padahal menurut saya wajah dia tidak se"jelek" yang dia katakan, ah. Wajahnya tidak jelek kok.

Saya pun pernah mendengar bahwa ada seorang laki-laki yang minta dicarikan pacar baru saat dia patah hati. Saat ditanya bagaimana kriteria yang dia inginkan, dia menjawab yang terpenting adalah cantik. Ia berkata bahwa jika seseorang cantik maka kelakuan dan akhlak dapat diubah, sementara kecantikan tidak dapat diutak-atik lagi. Apa benar? Ah, menurut saya tidak juga. Bukankah justru kebalikannya? Kalau sifat dan perilakunya sudah tidak baik, maka sulit untuk merubah dia menjadi "orang lain". Maksudnya, "orang lain" yang berperilaku dan berakhlak sesuai dengan kriteria yang dia inginkan. Lain halnya dengan masalah fisik, menurut saya lebih mudah mengubahnya ketimbang perilaku. 

Bagaimana pun berbeda-bedanya pemikiran orang, bagiku, memiliki fisik yang terlihat indah memang membutuhkan usaha sih. Yaa tidak dapat dipungkiri sih kalau gen dari lahir juga berpengaruh.Gendut? ya bisa diet dan berolahraga hingga mencapai bentuk tubuh ideal. Jerawatan dan kulit muka kusam? ya datang aja ke klinik kecantikan. Lalu tinggal memakai pakaian yang rapi dan sedikit modis, gak akan jelek-jelek amat kok. 

Jika ada yang bilang bahwa ia terlihat cantik natural, saya yakin sebenarnya ia pun tidak senatural itu. Pasti aslinya dia usaha kok biar tetap terlihat seflawless itu. Kecantikan itu adalah amanah, kawan. Jika kau tak menjaganya dengan baik maka kau pun tidak lulus ujian dalam menjaga amanah itu. 

Untuk perempuan-perempuan yang merasa bahwa kau tidak cantik, banyak-banyaklah bersyukur, sayang. Rawatlah tubuhmu tetapi bukan untuk memamerkannya. Saya yakin semua perempuan dapat terlihat lebih baik dari sebelumnya jika mengeluarkan usaha yang lebih dari sebelumnya. Lagipula, kau pun memiliki kesempatan yang sama dengan orang lain untuk mengeluarkan seluruh usaha pun untuk berkarya. Kecantikan pasti akan pudar seiring berjalannya waktu, tetapi isi kepala dan hatimu tidak. Tetaplah percaya diri dan semangat, kawan. Jangan iri pada wanita-wanita cantik itu, mungkin itulah ujian hidup mereka, dan bagian dari ujian hidupmu ada pada hal lain yang berbeda darinya.

ditulis di Bogor tanggal 16 September 2015.

Senin, 14 September 2015

Kerja Keras



Selepas gw lulus sidang dan mengurus segala berkas administrasi agar resmi melepas status mahasiswa dari kampus Institut Pertanian Bogor, rutinitas gw pun berubah total. Dari masa-masa sebelumnya sangat sibuk mengurusi acara kepanitiaan dan belajar untuk ujian, dilanjutkan dengan mengejar segala hal-hal yang diperlukan untuk skripsi gw, hingga dinyatakan lulus. Lalu gw pun memulai bisnis pakaian kecil-kecilan, lalu gw juga menjadi kasir di Karima Swalayan, toko milik orang tua. Gw menjadi kasir karena beberapa pegawai sedang keluar dari toko dan orang tua gw membutuhkan orang sebagai kasir, jadilah gw dipaksa jaga toko. Daripada bosen kalo jaga toko yaudahlah ya gw bawa laptop buat sekalian nonton drama korea (walau kenyataannya gw jadi terlalu sibuk buat ke-hectic-an jaga toko).
Oh iya, Karima itu toko kayak Alfamart/Indomaret gitu aja sih bentuknya, cuma toko Karima itu jauh lebih besar skalanya daripada Alfamart/Indomaret, karena lebih banyak menjual grosiran buat warung-warung kecil di daerah sekitarnya. Agak jengkel sih kadang kalo ada orang yang menganggap kalo gw jaga kasirnya sama dengan warung hehe. 
Selama gw jaga toko, ada beberapa pelanggan yang gw hapal muka-mukanya karena hampir tiap hari selalu belanja. Ya tau kan ya kalo mostly yang belanja warung-warung kecil gitu jadi sebagian besar dari mereka adalah orang-orang kalangan menengah ke bawah. Kadang hal yang bikin hati maupun pikiran gw merenung dan miris adalah melihat belanjaan warung-warung kecil itu sih. Kebanyakan belanjanya rokok, mie instan, kopi-kopi instan, ciki-ciki dan jajanan penuh MSG. Kenapa gw miris? ya bayangin aja, berarti sebagian besar masyarakat kelas bawah di Indonesia menjadi pasar kapitalis buat jajanan-jajanan yang kurang sehat kan. 
Orang-orang yang sering belanja ini macem-macem sih "wujud"nya, kalo customer warung sih kebanyakan bapak-bapak, ibu-ibu, anak kecil yang disuruh orang tuanya, remaja cabe berhotpants atau terong yang lagi smsan sama yayangnya, atau bahkan nenek-nenek yang menyelipkan uang di dalam dalamannya. Tapi gak jarang juga sih customer biasa/non grosiran belanja keperluan keluarga gitu. Nah salah satu dari orang yang sering belanja ke Karima itu (bahkan menurut gw sih paling sering ke toko) adalah bapak-bapak, sebut saja dia Pak Andi (bukan nama sebenarnya). Bahkan dia ke toko udah kayak makan nasi sih kayanya, bisa 3 kali sehari. 
Pas pagi-pagi tadi setelah gw nganterin adek gw ke sekolah, gw ketemu Pak Andi di belokan sebelum ke rumah, dia sedang bekerja mengantarkan koran-koran ke rumah-rumah. Lalu gw pun menyapa dia dengan ramah sambil berlalu seiring dengan gw ngegas motor.  Ya bukannya lebay sih, cuma saat itu bikin gw mikir aja. Dan bikin hati gw agak terhenyak dan malu sih..
Dia aja yang udah berumur kepala sekian masih semangat bekerja, masih pagi-pagi buta udah aktif jadi loper koran. Dilanjut jaga warung dia, terus ngisi stok di warungnya tiap 3-4kali sehari karena dia gak mau berhutang untuk menyetok lebih banyak di tokonya. Lalu gw? -____- 
Rasanya gw pengen lebih produktif lagi, ada rasa nyesel juga sih kenapa dulu gak lebih giat buat belajar ielts, atau sekedar ikut kegiatan yang bisa membuat cv lebih impresif.
 Tapi seengganya, dengan gw ketemu dan berpapasan sama dia hari ini membuat gw sadar sih, di usia muda ini, gw mau ngapain? Bismillah, pengen rasanya tiap hari jadi lebih produktif dan ga boleh ada waktu diam-diam males lagi. Walau rasanya masih susah sih, tapi gw berusaha supaya gw harus tetap sibuk. Soalnya kalo gak sibuk (minimal ada yang dikerjain) tuh berbagai pikiran baper, galau, dan ga penting tuh suka berdatangan.
Makasih Pak Andi telah menyadarkan gw. Semangat bekerja!


ditulis sambil tidur-tiduran oleh Ian yang sedang butuh motivasi biar jangan mager,
jam 15.01 di Bogor tanggal 14 September 2015.

Selasa, 08 September 2015

Mommy says..

Pernah suatu hari aku bertanya pada ibuku..
"Bu, kayaknya menikah itu perempuan cuma kayak pembantu aja ya.. Cuci baju, cuci piring, beresin rumah, masak, setrika, dll. Kayanya kalo nikah ga bisa seneng-seneng lagi deh."
Ibu jawab "Ya mungkin sebagian emang terasa gitu sih, tapi kan kalo nikah seneng banget pas punya anak."

Kata-kata ini sering terngiang di telingaku. Aku, adalah sumber kebahagiaan ibu :"")
Whenever I remember about it, suddenly I feel warm..

Rabu, 08 Juli 2015

STOP MEROKOK (DI SEKITAR SAYA)

Saya seorang perempuan berumur 21 tahun yang tinggal di Bogor, Indonesia dari lahir hingga sekarang. Saya tinggal di keluarga maupun lingkungan yang kebanyakan perokok. Saya mengidap penyakit asma dan alergi debu (rhinitis) pada saluran pernafasan saya. Ya, asma saya memang tidak secara langsung dipengaruhi oleh "polusi" udara. Penyakit asma yang saya miliki adalah alergi terhadap pengawet dan penyedap rasa pada makanan. Tetapi, menghirup asap rokok juga tak jarang membuat saya sesak nafas dan alergi debu saya kambuh. Bersin-bersin dan berujung pada flu berkepanjangan. 
Dear para perokok, saya tidak tertarik dengan betapa enaknya menghisap rokok bagi kalian dan saya pun sama sekali tidak berminat untuk menyicipi rasa merokok tersebut. Walau saya berkeyakinan bahwa rokok memang haram dan memiliki lebih banyak mudharat daripada manfaat, tetapi saya tidak masalah dan tidak ikut campur dengan kebiasaan kalian merokok JIKA TIDAK MEROKOK DI SEKITAR SAYA. Bahkan jika kalian anggap itu masih berjarak jauh dari saya, menurut saya bau asap tersebut masih tercium karena hidung saya sangat sensitif.
Berikut adalah alasan mengapa para perokok tidak berhak merokok di tempat umum, terutama di dekat saya:
  1. Orang lain berhak menghirup udara segar. 
  2. Saya TIDAK SUDI asap rokok tersebut masuk ke paru-paru saya.
  3. Orang lain yang berada di dekat anda belum tentu memiliki kondisi kesehatan yang prima, anda tidak tahu kan kalau saja orang yang terkena asap rokok anda itu adalah pengidap asma, ISPA, dll?
  4. Apa anda yakin bahwa anda tidak mengganggu orang lain? Saya sangat kesal dengan orang yang percaya diri mengatakan bahwa asap merokok mereka tidak mengganggu dan ingin dimaklumi oleh orang yang tidak merokok dan ingin menghirup udara bersih serta segar. Jangan tanyakan pada diri anda sendiri apakah rokok tersebut mengganggu atau tidak, tanyakan pada orang sekitar anda. Kalau saya yang ditanyakan sih ya saya jawab jujur, JELAS MENGGANGGU.
  5. Apa anda tidak sayang dengan tubuh anda sendiri? Benda bernama rokok yang anda hisap hanya mengandung zat berbahaya. Belum pernah saya dengar orang yang memiliki kebiasaan merokok menjadi lebih sehat daripada sebelumnya saat dia tidak merokok.
  6. Merokok sama saja membakar uang anda sendiri. Sudahlah, akui saja.. sebagian budget anda dialokasikan untuk merokok kan.
  7. Beberapa perokok yang ngeyel jika dinasehati dan diperingatkan untuk merokok sering mengatakan bahwa "merokok bisa saja sakit, tidak merokok belum tentu sakit". Dalam mengambil kesimpulan, janganlah berpatokan pada data pencilan/outlier. 
  8. Perokok yang ngeyel dan sering ngotot untuk merokok dimanapun dia mau walaupun banyak anak-anak dan orang-orang yang memiliki penyakit pernapasan juga ada yang mengatakan bahwa seharusnya orang lain memaklumi dia, menganggap lumrah, dan membiasakan diri menghirup asap rokok. Ini adalah perokok yang paling menjengkelkan bagi saya. Saya adalah korban, kenapa saya yang harus mengalah? Saya berhak menghirup udara segar, kenapa saya yang harus memaklumi? Dia yang mengganggu, kenapa orang lain yang harus bersabar?
  9. Ada lagi alasan ngeyel bahwa rokok (katanya) memiliki manfaat. Walaupun menurut sebagian orang ngeyel rokok memiliki manfaat, tetapi tentu saja LEBIH BANYAK MUDHARATNYA. Bukankah kaidah agama sangat jelas? Bahwa hal yang lebih banyak mudharat daripada manfaat harus ditinggalkan.
  10. (bakal ditambah)
Kalau memang tidak bisa berenti merokok, minimal jangan ganggu dan mengajak-ngajak orang lain untuk menghirup asap rokok anda. Saya sebagai penderita penyakit asma dan rhinitis merasa sangat terganggu dengan asap rokok. Saya berhak untuk menghirup udara bersih dan segar. Saya pun tidak sudi membiarkan asap tersebut masuk ke paru-paru saya.