Rabu, 16 September 2015

Cantik? Apa Penting?

Sebenarnya apa sih standar cantik?
Jika menonton drama korea, maka mereka selalu menyebut standar cantik mereka adalah memiliki double eyelid, tubuh kurus semampai dengan body mass index di bawah 18.5, pipi yang tirus, kulit semulus dan seputih susu maupun hidung yang mancung tapi kecil.

Lain lagi ketika saya mendengarkan keluhan-keluhan perempuan-perempuan di sekitar saya maupun saya sendiri mengenai kelemahan fisiknya. Cantik yaitu tubuh langsing dengan shape S line, alis yang tebal dan rapi, gigi yang rapi, pipi yang tirus, serta rambut yang tebal.

Emang cantik sepenting itu ya?
Hal yang biasa kita dengar apabila ada seseorang yang menikah atau berpacaran dengan si A atau si B adalah "cantik ga tuh orangnya", atau pula "lebih cantik mana dengan mantannya". Apalagi jika saya sedang bercengkrama dengan kolega saya yang laki-laki, pasti obrolan mereka tidak jauh dari membandingkan kecantikan perempuan-perempuan yang sering berseliweran di depan mata mereka. Bahkan sebagian dari mereka terlihat seperti terobsesi untuk memiliki pasangan hidup yang menurut mereka cantik.

Seorang teman berkata bahwa ia tidak merasa bahwa dirinya cantik. Ah, saya tak percaya dengan perkataannya itu. Saya yakin bahwa dia tau bahwa dia cantik. Dia juga pasti tahu betapa banyak pasang mata laki-laki yang sering mencuri pandang pada parasnya yang menawan. Mungkin dia hanya ingin terlihat rendah hati saat berbicara pada saya. Atau malah dia ingin saya memujinya lebih lanjut (?). Atau malah dia memang pada dasarnya seorang yang tawadhu.

Teman saya itu merupakan perempuan yang banyak menjadi incaran para laki-laki di sekitarnya untuk dijadikan pacar. Yaa, tidak terhitung kali ya berapa banyak laki-laki yang sering memberinya perhatian berupa kado boneka, sms sok perhatian, ataupun mengantar jemput dia ke kosannya. Lalu saya pun berpikir, jika memang karena kecantikan membuat perempuan tersebut menjadi lebih sulit menjaga dirinya, bukankah berarti kecantikan itu adalah ujian? Ujian agar perempuan cantik itu tidak sembarang meladeni para laki-laki yang membutuhkan sekedar gandengan. Lalu, jika demikian pun, kecantikan juga menjadi ujian bagi para perempuan untuk tidak menjadi sombong. Yaitu sombong merasa bahwa dirinya menjadi pujaan lelaki dibandingkan dengan perempuan yang biasa-biasa saja parasnya. 

Lalu, saat saya sedang mengobrol dengan teman saya yang lain, saya mengatakan padanya bahwa saya merasa bahwa apalah pentingnya cantik, karena cantik yang ada pada wajah hanyalah sementara.  Kecantikan pasti akan memudar seiring usia. Cantik itu tidak sepenting itu, kawan. Yang penting adalah menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan terus berkarya. Apalah pentingnya kecantikan jika tidak beriman kepada Tuhan. Apalah pentingnya kecantikan jika sebenarnya tak bahagia. Masih banyak hal lain yang bisa menjadi sumber kebahagiaan di dunia ini. Teman saya pun menyangkal perkataan saya. Ia mengatakan pada saya bahwa saya bisa mengatakan hal seperti itu karena wajah saya masih bisa dikatakan cantik, sementara saya tidak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi "jelek". Dia berkata alangkah beruntungnya orang cantik, separuh dari masalah hidupnya menjadi lebih mudah karena kecantikannya. Apa benar begitu? Hmm.. padahal menurut saya wajah dia tidak se"jelek" yang dia katakan, ah. Wajahnya tidak jelek kok.

Saya pun pernah mendengar bahwa ada seorang laki-laki yang minta dicarikan pacar baru saat dia patah hati. Saat ditanya bagaimana kriteria yang dia inginkan, dia menjawab yang terpenting adalah cantik. Ia berkata bahwa jika seseorang cantik maka kelakuan dan akhlak dapat diubah, sementara kecantikan tidak dapat diutak-atik lagi. Apa benar? Ah, menurut saya tidak juga. Bukankah justru kebalikannya? Kalau sifat dan perilakunya sudah tidak baik, maka sulit untuk merubah dia menjadi "orang lain". Maksudnya, "orang lain" yang berperilaku dan berakhlak sesuai dengan kriteria yang dia inginkan. Lain halnya dengan masalah fisik, menurut saya lebih mudah mengubahnya ketimbang perilaku. 

Bagaimana pun berbeda-bedanya pemikiran orang, bagiku, memiliki fisik yang terlihat indah memang membutuhkan usaha sih. Yaa tidak dapat dipungkiri sih kalau gen dari lahir juga berpengaruh.Gendut? ya bisa diet dan berolahraga hingga mencapai bentuk tubuh ideal. Jerawatan dan kulit muka kusam? ya datang aja ke klinik kecantikan. Lalu tinggal memakai pakaian yang rapi dan sedikit modis, gak akan jelek-jelek amat kok. 

Jika ada yang bilang bahwa ia terlihat cantik natural, saya yakin sebenarnya ia pun tidak senatural itu. Pasti aslinya dia usaha kok biar tetap terlihat seflawless itu. Kecantikan itu adalah amanah, kawan. Jika kau tak menjaganya dengan baik maka kau pun tidak lulus ujian dalam menjaga amanah itu. 

Untuk perempuan-perempuan yang merasa bahwa kau tidak cantik, banyak-banyaklah bersyukur, sayang. Rawatlah tubuhmu tetapi bukan untuk memamerkannya. Saya yakin semua perempuan dapat terlihat lebih baik dari sebelumnya jika mengeluarkan usaha yang lebih dari sebelumnya. Lagipula, kau pun memiliki kesempatan yang sama dengan orang lain untuk mengeluarkan seluruh usaha pun untuk berkarya. Kecantikan pasti akan pudar seiring berjalannya waktu, tetapi isi kepala dan hatimu tidak. Tetaplah percaya diri dan semangat, kawan. Jangan iri pada wanita-wanita cantik itu, mungkin itulah ujian hidup mereka, dan bagian dari ujian hidupmu ada pada hal lain yang berbeda darinya.

ditulis di Bogor tanggal 16 September 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar