Selasa, 16 Februari 2016

Nikah?


Cinta adalah hal yang banyak diagung-agungkan hampir seluruh orang. Bahkan orang yang berpikiran paling logis dan rasional dapat berubah menjadi orang yang paling melankolis dan irrasional ketika jatuh cinta. Karena cinta mereka bisa melakukan banyak hal, mulai dari bertransformasi menjadi orang yang lebih baik hingga membenarkan perilaku dosa. Dibandingkan perempuan-perempuan di sekitar gw, gw merupakan seorang perempuan yang cenderung lebih banyak menggunakan logika dan lebih sedikit memakai hati dalam pemikiran serta keputusan-keputusan yang gw ambil.

Sebelumnya, sewaktu gw menjadi mahasiswa, banyak sekali "dongeng-dongeng" akan betapa indahnya menikah muda. Ditambah lagi dengan dakwah islami yang menyebar di media sosial maupun dunia nyata yang menyatakan bahwa pacaran itu haram. Menikah pun semakin diasosiasikan sebagai "pacaran halal". Hmmm iya sih awalnya gw juga mikir gitu. "Asik kali yaa kalo nikah muda". "Asik kali yaa kalo punya temen blabla...". Tapi lama-lama pemikiran semacam itu pun bergeser karena banyak hal. Pernikahan di otak gw bukan lagi tentang pacaran halal, tetapi sebagai suatu hal yang perlu dipertimbangkan secara hati-hati dan tidak bisa terburu-buru, setidaknya bagi gw pribadi.

Setelah lulus, teman-teman seangkatan gw pun mulai banyak yang memutuskan menikah, apalagi kan sekarang jaman taaruf-taarufan. Dan entah kenapa semua kabar-kabar pernikahan yang gw terima, dari mulai kabar yang udah terverfikasi sampe kabar burung, membuat gw merasa..... tua dan awkward. Gw jd merasa seperti diingatkan bahwa di umur 20an gw ini pun nanti akan ada giliran gw juga. Dan gw pun heran kenapa mereka merasa sesiap itu untuk menikah? Sudah ikhlas menjadi istri seseorang. Dan gw juga heran sama temen gw yang bilang "persiapkan nikah blabla"... hmmm emang apanya yang harus disiapin? Bukannya itu sekedar common sense? Apalagi kalo siapin dari segi agama, bukannya tujuan siapin itu karena Allah? Kenapa harus siapin karena nanti bakal ada suami bakal nikah bakal jadi ibu blablabla?

Apalagi kalo emak gw, sodara, atau temen bilang "belajar rapih-rapih biar nanti kalo punya laki terbiasa". HELLOO~~ ini nih yang paling bikin gw malah jadi males nikah muda. Gw mikir.. ummm... emang nikah jadi pembantu gitu ya? Hmmm iya sih emang kebanyakan laki-laki kan pemales urus rumah, tapi kan gak berarti gw rapih-rapih tujuannya suami keles, rapih-rapih mah rapih-rapih aja supaya rapih (ya pokoknya maksud gw gitu).Yang lebih absurd lagi kalo gw liat akun dakwah atau obrolan temen gw tentang "Panjangkan jilbab, tutup aurat, jangan berdandan karena suami lebih suka yang blabla". Horeee gw sih gak punya suami, jadi bebas dong? Lagi-lagi gw berpikir, kalo mau jadi yang lebih baik ya berubahlah karena Tuhan, bukan karena "impian punya suami sempurna".

Dan salah satu hal yang masuk di otak gw juga adalah, menikah itu adalah tentang menunda realisasi ambisi dan cita-cita. Yaa mungkin sih bagi sebagian orang dan "pakar-pakar nikah" itu nikah gak akan membuat cita-cita hilang dan pergi, tapi kan tetep aja kan pasti akan tertunda? Misalnya aja kalo mau s2, atau membangun bisnis startup, atau malah bangun karir kantoran, dll... kalo nikah, bagi perempuan, pasti prioritas pun akan berubah menjadi keluarga, harus banyak mengalah dan banyak yang jadi pertimbangan. Yaa mungkin ada sebagian perempuan yang bisa mengejar cita-cita tanpa melupakan keluarga, tapi kan itu outlier bukan modus atau mean dalam data hahaha. Apalagi kalo udah hamil, hmmm pasti nanti abis melahirkan harus nyusuin anak, urus semua-muanya tentang anaknya juga. Dan gw berpikir pasti kalo udah jadi seorang ibu mau gak mau pasti pikiran akan selalu tercurah buat anak. Kalo belum siap, lebih baik nanti aja pas udah siap lahir batin, ketika jalan menuju cita-cita sudah terbuka, ya minimal terbuka setengahnya. Saat itulah gw mampu buat ikhlas dan memprioritaskan seluruh pikiran dan waktu buat keluarga. Lagian kalo sekarang kagak ada juga sih yang lamar (dan ini bukan kode ya maksudnya) hahaha.

Selanjutnya adalah tentang kesetiaan. Hal yang bayanginnya aja bikin merinding disko adalah diselingkuhin atau dipoligami. Soal isu ini bikin gw sebel, apalagi kalo sebabnya adalah karena si istri dianggap gak cantik lagi, sudah menua, dan sudah menggendut. HELLO~~ kan si suaminya juga udah gak secakep dulu, udah tua juga, perutnya juga udah buncit, palingan menang di duitnya doang sih yang nambah banyak (okay duit bukan "doang"). Ngeliat banyak kasus-kasus kayak gini sih yang bikin gw takut. Mungkin ketakutan dan kegalauan kayak gini gak hanya ada di pihak perempuan ya. Bagi laki-laki, dia takut pasangannya pergi karena dia gak selalu ada dan uangnya habis. Bagi perempuan, dia takut pasangannya pergi karena kelak kulit cantiknya pun akan keriput dan menua dimakan oleh waktu.

Belum lagi soal isu poligami. (Oke sebelumnya disclaimer: ini adalah pandangan gw sebagai perempuan atas isu itu). Gw gak menganggap poligami adalah sesuatu yang haram karena memang firman Allah SWT dalam Al Quran membolehkan hal tersebut. Dan menurut gw sah-sah aja kalo memang semua pihak di keluarga itu mau, pilihan hidup mereka. Tapi gw gak akan mau mengambil pilihan hidup macam itu. Dan yang gw gak setuju adalah kalau poligami hukumnya dikatakan sunnah, sedangkan hal itu sebenarnya hukumnya mubah (boleh) saja. Bisa sih dikatakan "adil", tapi bagi gw pribadi, buat apa "membagi" kalau bisa "dapat semua"? Dan hati yang terluka karena diselingkuhi atau dipoligami bukan hanya sekedar karena "cinta yang terbagi", tetapi juga soal "harga diri". Perasaan dibuang dan disepelekan itu menyebalkan. Soal isu ini sensitif sih, alhamdulillah gw tidak terlahir dari latar belakang keluarga yang ayahnya punya istri lebih dari satu. Berikut pengamatan gw tentang poligami:

Pertama, biasanya poligami itu terjadi kalau istri pertama tidak punya penghasilan sendiri. Posisi istri pun dianggap dibawah dari "level" suaminya. Yang awalnya enjoy-enjoy aja jadi Ibu Rumah Tangga, nemenin suaminya berjuang dari miskin, pas udah tua pun suaminya banyak uang sedangkan dia gak menghasilkan uang sama sekali. Suaminya pun mikir kalo dia poligami istrinya gak akan berani buat gugat cerai, karena istrinya "susah gerak". Istrinya pun milih sabar demi anak-anaknya walaupun rasanya sakit hati. Kedua, perempuan yang rela dipoligami biasanya menikah karena "agama dan Allah SWT" dan "kewajiban", not because of what so called "love". Perempuan ini biasanya merasa bahwa cukup berat tugasnya di rumah.. melayani suami, mengurus anak, merapihkan rumah, dll dll. Lalu dia pun merasa tugas beratnya itu akan berkurang jika "bagi-bagi tugas" dengan perempuan lain. Lumayan kan, suaminya gak selalu ada di rumah, ya jadi setengah minggu aja. Ngurang deh sebagian kewajiban dia. Tapi bagi perempuan yang menikah karena cinta atau gak nganggap kewajiban itu sebagai "beban"? Ya sorry-sorry aja deh bagi-bagi :D. Ketiga, kalo dipoligami itu nanti uang dan harta warisan bagian istri dibagi dua, tiga, atau empat ke istri-istrinya. Nah ini nih malesin. Terus kalo si istri meninggal duluan, harta warisan dia bakal gede bagian buat suaminya. Dipake deh tuh uangnya buat seneng-seneng sama si madu. Hahaha (sorry if I sound rude). Dan banyak hal lain tentang poligami tapi gw udah males nulisnya :p.

Yaa tapi walaupun banyak banget hal yang membuat gw skeptis tentang pernikahan, bukan berarti gw gak mau nikah sih. Bukan apa-apa, kalo gw gak nikah nanti gw gak bisa menyempurnakan separuh agama dan lebih parahnya gw lebih takut kalo pas gw udah tua gw menjelma jadi nenek-nenek sebatang kara yang hidup sama kucing hahaha. Cita-cita gw sesimpel jadi ibu dan istri yang memprioritaskan keluarga, bisa mengaktualisasikan diri gw, dan punya penghasilan sendiri sih.Then again, gw minta maaf kalau postingan ini menyinggung pihak tertentu. Tulisan ini murni catatan pribadi dan catatan santai aja :D

Sabtu, 06 Februari 2016

Pengalaman dan Persiapan Mengikuti Tes IELTS

Tulisan ini dibuat karena gw berjanji ke diri sendiri kalau nilai IELTS gw minimal 6.5 dengan masing-masing elemen minimal 6 (sesuai syarat beasiswa dan universitas yang gw mau), gw akan posting di blog tentang cerita perjalanan gw mengikuti tes IELTS ini. 

Disclaimer: Saya tidak mengambil preparation course karena sudah merasa cukup pada writing dan speaking section. Saya mengikuti kursus bahasa inggris di LIA selama 4 tahun dari 2006-2010 (saat SMP-SMA). Jika ada yang merasa kurang di writing dan speaking section, dan membutuhkan skor tertentu dalam jangka waktu dekat alangkah baiknya mengambil preparation course. Tentunya berbeda dengan listening dan reading section yang lebih mudah dilatih sendiri tanpa tutor.

Setelah lulus dari sidang dan segala aktivitas mengurus kelulusan, gw semangat untuk belajar IELTS. Sebelumnya, dari organisasi gw, SES-C IPB, ngadain acara pelatihan dan simulasi IELTS tanpa speaking, gw yang sebelumnya sama sekali gak familiar dengan format dll IELTS ikut simulasi tanpa persiapan. Sebenernya setelah gw belajar sendiri, gw jadi tau sih itu soal IELTSnya ambil dari buku Cambridge aja ternyata. Skor gw saat itu adalah Listening 6, Reading 5, Writing 5. Setelah itu gw jadi semangat dan tertantang buat ningkatin kemampuan IELTS.

Langkah pertama, gw beli buku kecil tentang tips IELTS dan beberapa tesnya, lumayan sih buat dibaca2, warna pink-hitam gitu deh bukunya. Setelah beres sidang, gw penasaran tentang kemampuan speaking dan writing gw, akhirnya gw datang ke ILP Cimanggu Bogor yang di Jalan Baru, nanyain tentang ada atau gak prediction test buat IELTS disitu dan ternyata disana juga tempat tes resmi dari IALF buat tes. Gw pun mikir buat uji kemampuan yaudah gw mau tes prediction aja dulu dan seterusnya belajar sendiri kalo emang skor writing dan speaking gw udah cukup buat syarat. Harga untuk mock test disitu untuk non native examiner IDR 250.000, sedangkan kalo mau near native examiner IDR 300.000. Berhubung IELTS asli kan examinernya bule, yaudah gw pilih near native examiner aja.

Saat gw mock test disitu, yang gw agak kecewa adalah kertas soal listening yang gak bisa dicoret-coret, padahal kalo tes aslinya kan lembar soal listening bisa dicorat-coret jadi lebih gampang untuk konsen mindahin jawabannya. Yaudahlah ya tapi kan itu mock test ini. Bagian speakingnya examiner gw laki-laki bule yang masih muda, gw lupa siapa namanya haha cuma lumayan berkesan sih speaking ini, karena kan sebelumnya gw ga pernah sama sekali. Hasil dari mock test gw saat itu adalah Listening 5, Reading 5, Writing 6.5, dan Speaking 7. Agak shock sih karena gw sebelumnya kepedean tentang listening sama reading.

Abis itu gw liat-liat dan browsing tentang biaya kursus IELTS Preparation, kok mahal-mahal semua ya bagi gw yang kantongnya pas-pasan, sekitar 3,5-5jutaan. Malah gw sempet ikutan placement test gratisan dari tempat kursus yang lagi promo stand di Botani Square hahaha tapi ujungnya gak jadi. Emang sih awalnya ayah bilang kalo dia mau bayarin biaya gw les IELTS, tapi gw ngerasa gak enak aja abis lulus kuliah minta-minta uang lagi, walau ujungnya gw tes IELTS pake uang ayah sih :p
Atas dasar skor prediction test gw yang gw anggap cukup untuk writing dan speaking, gw memutuskan untuk fokus belajar pada listening dan reading aja dulu. Gw pun akhirnya inisiatif buat download materi IELTS dari Cambridge 1-10 dan Barrons versi lama. Tapi setelah gw belajar dan try out sendiri lagi, kok materinya gak cukup ya, gw takut sampe ujung gw belajar soal-soal itu hasilnya masih stagnan aja. Dari hasil browsing gw, nilai Listening dan Reading untuk Academic Training itu skalanya kira-kira begini berdasar hasil jumlah bener dari total 40 soal:


source: https://ieltstacticsblog.wordpress.com/2015/10/17/do-you-know-how-ielts-band-score-is-calculated/
Karena skor Listening dan Reading yang relatif stagnan dan jalan di tempat di skor 5 sampe maksimal 6 aja (pernah sih sekali skor gw 6.5 terus langung jingkrak-jingkrak), akhirnya gw memutuskan untuk memperbanyak amunisi dengan download banyaaaak banget materi, diantaranya yang menurut gw bagus adalah Cambridge IELTS Trainer, Macmillan Testbuilder, Complete IELTS band 6.5-7.5 (ini recommended banget sih menurut gw, soalnya dia bukunya kayak buku les gitu dan ngebuat gw bisa belajar step by step dan ada tips-tipsnya juga), ya pokoknya banyak banget lah sampe ujung-ujungnya banyakan yang ga kepake haha karena gw dikejar waktu dan mungkin gw kurang konsisten dalam menerapkan jadwal belajar.
Pertama untuk Listening, kesulitan dan kesalahan yang gw alami adalah:
- jawaban yang diminta adalah yang tidak terdengar jelas karena kosakata yang agak advanced di telinga gw, terutama untuk section 4.
- ini fatal sih, kurang huruf "s" saat menulis jawaban, misalnya yang diminta adalah "books" bukan "book", maka salah. Atau gw tidak menulis grammar secara sesuai dengan yang diminta soal, bukan yang kita dengar. Misalya di isian soal ditanya "Nationality", di speaker terdengar "...from Indonesia", isinya yang benar bukan "Indonesia", tapi "Indonesian".
- ada beberapa kata yang gw gak hapal spellingnya
- tidak move on untuk soal yang terlewat, padahal harusnya move on aja soalnya nanti soal selanjutnya bisa salah dan cek di ujung section aja.
- jawabannya mengecoh, awalnya misalnya dia bilang "Thursday", eh terus ganti jadi "Wednesday".
- kurang konsentrasi, bahkan 2 detik skip aja jawabannya ilang, jadi konsentrasi itu penting banget.

Kedua, untuk Reading, kesulitan yang gw alami adalah:
- awalnya gw agak sulit memahami isi bacaan dan malah jadi isi asal aja karena udah keburu males baca vocab-vocab yang menurut gw advanced, tapi pelan-pelan belajar gw akhirnya bisa memahami isi bacaan.
- pada soal yang ada, tertulis rephrase dari kalimat yang ada di paragraf, gak sama persis terutama vocabnya, jadi harus teliti.
- waktu yang terbatas, makanya tiap latihan gw selalu ngasih limit dan liat jam agar masing2 section gak lebih dari 20 menit. Kalo bisa sih malah section 1 yang relatif lebih gampang dari section 2 dan 3 bisa dipress waktunya biar untuk section 2 dan 3 bisa punya lebih banyak waktu.
- sama kayak listening, grammar pada isian reading juga kadang salah kalo gak teliti.
- pada tipe soal Yes, No, Not Given atau True, False, Not Given... kadang suka salah faham antara false atau not given, bahkan kebolak balik juga pahamnya. atau malah diminta soal ditulisnya yes/no, nulisnya malah true/false. 
- biar lebih gampang gw suka baca dulu soal baru baca pelan-pelan nyari jawaban dari bacaannya, bukan baca dulu semua baru isi, karena gw pelupa. Tapi lagi-lagi beda-beda tiap orang, kalau kalian lebih nyaman baca dulu semua baru isi ya berarti bagusnya memang begitu :)

Untuk writing, gw lebih banyak belajar dari kosakata apa aja yang harus digunakan sih, buat pembuka, penghubung, dan penutup. Pas gw les bahasa inggris di LIA jaman sekolah dulu, pernah dan sering sih tes nulis gitu. Jadi kalo gw nulis bagian writing biasanya sih:
-Paragraf awal: introductory statement, lalu di kalimat akhir thesis statement yang menyatakan apa yang akan kita tulis di body paragraph.
-Paragraf kedua, tiga, empat, lima dst (yang jelas body paragraph): ditulis dengan penghubung "First, Second, Third,..." atau bisa juga "Next, After that, ...". Tulis pendapat kita aja tentang tulisan itu atau fakta-fakta yang ada di task 1, sesuai apa pernyataan kita.
-Paragraf akhir: nulis awal-awalnya tentang simpulan dan di ujung adalah rephrase dari thesis statement yang kita tulis di paragraf awalnya.

Untuk speaking, gw semaksimal mungkin mengurangi "nggg...." "hmmm...", gw berusaha untuk bicara secara rileks aja hehe. Tips-tips yang gw dapat tentang tes IELTS banyak dari web ielts-simon.com, buku-buku yang gw download (yang gw inget sih Complete IELTS band 6.5-7.5), sama buku yang gw beli dari gramed itu sih (lupa bukunya entah kemana). Bagi kalian yang mau belajar ielts, tentukan aja cara belajar paling efektif buat diri sendiri, karena beda-beda sih tiap orang.
Sempet berhenti juga sih gw belajar IELTS karena bulan Desember gw kerja kontrak di BPJS satu bulan, awalnya gw ambil tawaran jobnya karena gw butuh uang buat tes IELTS, eh tapi ternyata qadarullah uangnya kepake buat berkas yang lain. Setelah gw beres kontrak, gw ngebut ngelengkapin berkas beasiswa dan gw pun memberanikan diri buat ambil IELTS tanggal 23 Januari 2016 di British Council Jakarta. Jujur gw ngerasa belom siap banget, apalagi gw selama ini hanya fokus belajar di Listening dan Reading (malahan gw suka males belajar reading karena lebih lama waktu untuk belajar 1 tesnya dibanding listening hahaha).

Gw daftar tes secara online dan disuruh transfer ke rekening bank HSBC british councilnya. Venue untuk tes Listening, Reading, dan Writing di Millenium Hotel Sirih Jakarta dan tanggal 24nya tes speaking di kantor British Council di Office 8 SCBD. Sampai di hari H, gw dari bogor naik KRL terus naik gojek dari stasiun Sudirman (katanya sih harusnya lebih deket dari stasiun Tanah Abang). Mana sempet gw deg-degan banget takut telat si abang gak tau jalan, padahal gw udah bilang itu deket BI tapi dia gatau BI itu apa ternyata -_- (oke skip). 

Sampe sana ternyataaaa, antrinya panjang banget, sampe mengular ke belakang, eh mana gw kebelet tapi takut antrian gw disalip, akhirnya gw tahan-tahan aja dulu deh, sialnya saat semua barang harus dititip dan ditinggal biar pas masuk ruangan cuma bawa KTP aja, ternyata gak boleh ke WC dulu -_-. Jadi buat yang mau tes IELTS, gw saranin kalo emang mau buang air kecil dari sebelum registrasi aja yaa. Akhirnya gw buang air kecil di tengah-tengah reading test gw ijin ke WC karena gw udah usahain buat section 1 biar kurang dari 20menit jadi gw bisa ke belakang hahaha. Makan waktu 5menit lebih dikit sih, no problem lah ya daripada nahan kebelet hahaha. 

Saat tesnya, kalo waktu sudah habis kita bener-bener harus lepasin alat tulis dari tangan, dan gw baru nyadar ternyata jawaban reading yang gw hapus dan ganti di last minute adalah yang bener -__-. Saat tes writing, ternyata task 1nya bukan grafik atau chart, tapi mendeskripsikan perubahan tempat dari 4 tahun lalu dan sekarang gitu. Kalo task 2nya sih ya mirip2 aja lah sama yang ada di buku Cambridge 1-10. 
Besoknya gw tes speaking di Office 8 dan gw yang ga pula ngerti jalan jadi jalan kaki dari halte Polda kesana, dan ternyata jauh ya bok, jadi kalo dari situ nanti ada Grand Lucky Superstore terus ada jalan tikus kecil masuk deh ke Office 8-nya. Sampe sana gw nunggu giliran gw speaking sama mister siapa ya gw lupa apa ga nanya namanya ya haha. Tema general dari speaking itu adalah tentang animal dan beberapa pertanyaan general aja. 

Setelah beres semua rangkaian tesnya, gw deg-degan banget nunggu hasilnya, apalagi gw gak yakin untuk hasil tes writing bisa cukup. Semua pikiran tentang tes mahal sayang duit blabla muncul di otak gw kalo skor gw ga mencukupi. Akhirnya... setelah menunggu lama tanggal 5 Februari 2016 keluar hasilnya dan alhamdulillah tidak mengecewakan dan bahkan saking terharunya gw liat hasil speaking sama writing sampe pengen nangis :"") (lebay sih tapi emang iya).


Gak percuma lah ya gw ngeprint soal-soal dan segala waktu yang gw habiskan buat persiapan, alhamdulillah skor gw cukup dan lebih dikit buat syarat. Jalan masih panjang, Bismillah... Sekian tulisan gw, buat kalian yang mau tes IELTS juga, goodluck yaa :)