Jumat, 20 Mei 2016

Cerita tentang Berdoa

Mumpung 2 hari lalu gramed diskon 30% langsung beli 3 buku sekaligus. Dan salah satu buku yang gw beli judulnya "Jangan Lelah Berdoa", penulisnya Nasrudin Abd Rohim, ada salah satu bagian yang paling berkesan. 

Ceritanya.. (ini pake bahasa saya sendiri ya bukan sesuai redaksi di bukunya) Nabi Musa selalu melihat seseorang yang berdoa kepada Allah dengan tertunduk, tapi tak kunjung dikabulkan. Terus Nabi Musa bicara ke Allah, "Ya Allah jika saja aku memiliki apa yang ia minta dalam doanya, maka aku ingin sekali memberikan kepadanya. Sayang sekali aku tidak memiliki apa yang ia minta." Lalu Allah pun menjawab, "Wahai Musa sesungguhnya Aku jauh lebih menyayanginya dibandingkan engkau menyayangi dirinya. Tetapi setiap ia berdoa, ia selalu saja mengingat kambing miliknya. Bagaimana Aku bisa mengabulkan doanya jika setiap berdoa ia mengingat hal selain Aku?"

MasyaAllah, baca itu langsung introspeksi diri sih.. :))

Kamis, 05 Mei 2016

Semuanya Saling Sepaket

Berawal dari keresahan dan kegalauan saya, saya pun mencurahkan isi hati saya pada saudara kembar saya. Ia mengatakan "...bersama kelemahan ada kekuatan lu kok....". Hal ini membuat saya merasa bersemangat dan pulih dari keresahan tersebut. Saya ini orang yang sering berpikir mengenai sesuatu dan bergumam dalam kepala sendiri. Semua hal yang berlawanan itu semuanya saling mengisi, namun ada juga yang menjadi bumerang.

Saya orang yang keras kepala dan berkeinginan kuat bahkan dianggap ambisius, namun hal itulah yang membuat saya mampu menguasai hal yang sebelumnya tak saya duga bahwa seorang Ian. Seorang Ian mampu mengemudikan motor dan mobil lalu mendapatkan SIM A dan SIM C di umur 17 tahun. Seorang Ian bertekad ingin masuk ke PTN karena dihantui rasa ingin "balas dendam" dan "gagal" karena tidak menembus sekolah di SMA favorit/unggulan. Saya selalu latihan soal hampir setiap hari saat SMA, dari kelas X saya mengikuti bimbingan belajar karena ingin mengikuti ujian tulis SNMPTN. Yang walaupun akhirnya saya masuk IPB tanpa tes pada pilihan pertama saya, Ilmu Ekonomi Syariah. Dan seterusnya dan seterusnya sifat keras kepala itulah yang mengantarkan saya mencapai hal-hal yang sebelumnya saya kira tidak bisa saya capai. 

Tetapi sifat keras kepala dan ambisi itu juga yang membuat saya menjadi tidak sabaran, dan terkadang memiliki harapan terlalu tinggi. Harapan memang harus tetap ada, tetapi kalau terlalu tinggi maka hanya akan membuat kita jatuh lebih tinggi ketika gagal. Saya memang sering gagal berkali-kali, tetapi kali ini saya sadar, setinggi apapun mimpi tetap harus memiliki ruang untuk lebih legowo dan tawakkal.

Saya orang yang blak-blakan dan berbicara secara terang-terangan juga cerewet, karakter itulah yang membuat saya lebih mudah mengutarakan pendapat, dan beberapa masalah menjadi lebih cepat selesai dan teratasi. Tetapi karakter itu juga yang terkadang membuat saya tanpa sadar menyakiti perasaan orang lain. Padahal saya tidak bermaksud demikian. Yah, maklum deh.. darah Sumatera.

Pernah terbersit dalam hati, saya menyesal atas hal-hal yang terjadi karena sifat impulsif saya, karena keterlambatan, karena keraguan. Tetapi kemudian saya berpikir lagi... bahwa tak ada yang perlu disesali, karena setiap langkah yang saya ambil memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri, dan saya sudah bertanggung jawab atas semua itu. Saya harus berdamai dengan diri saya sendiri, sebagaimana saya mampu memaafkan orang lain, maka saya pun harus mampu memaafkan kesalahan-kesalahan diri saya di masa lampau. Saya bertekad untuk bersiap menghadapi hari esok dengan seluruh energi yang saya miliki dengan maksimal. Suatu saat apabila saya mendapati kegagalan (lagi), saya tidak akan menyesal dan menyalahkan diri sendiri.. karena saya sudah mengusahakan yang terbaik.

Minggu, 01 Mei 2016

Sepupu Bukanlah Mahram

Saya bukanlah perempuan yang bercadar, belum berjilbab syari yang sangat lebar ataupun lebar. Sampai sekarang, sejak Oktober 2009 saya memutuskan berhijab, saya masih belajar untuk berhijab secara sempurna. Saya memang hanya seorang muslimah biasa saja, belajar untuk memakai rok, tetapi terkadang walau jarang masih memakai celana jeans. Walaupun hijab saya masih jauh dari sempurna, saya adalah orang yang memegang teguh prinsip saya. Saya menjaga dan tidak ingin aurat saya dilihat oleh sembarang orang yang bukan mahram.

Darimanakah standar saya menjaga aurat terhadap orang lain? Hal tersebut tercantum pada Al Quran surah An-Nur ayat 31, "Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”  

Untuk lebih mudahnya, nih saya comot dari google diagram mahram (sumber: http://berkhalifah.com/siapa-saja-mahram-kita-dalam-islam/)


Bagi orang lain yang tidak memiliki prinsip yang sama dengan saya, terutama keluarga, seringkali mereka mengatakan bahkan memaksakan kehendak mereka bahwa sepupu juga boleh melihat aurat karena masih saudara. Padahal, berdasarkan dalil yang ada, sepupu (alias anak dari saudara kandung ayah) tidaklah termasuk pada mahram wanita. Rumah saya merupakan rumah yang terkadang ada beberapa laki-laki yang harus masuk karena keperluan bisnis orang tua ataupun saudara yang berkunjung. Hal ini membuat risiko aurat saya terlihat oleh orang yang bukan mahram besar. 

Kenapa saya marah? Karena usaha saya menjaga aurat dan mempertahankan prinsip saya gagal saat ada orang, terlebih laki-laki yang bukan mahram saya, yang mengatakan dan beralasan bahwa mereka masuk ke rumah secara tidak sengaja, padahal mereka sama sekali tidak mengucapkan salam dan/atau mengetuk pintu sebelum masuk yang membuat saya gagal. Mengapa saya kesal? Karena seharusnya jika mereka bertamu dan menyadari ada wanita berhijab didalamnya, seharusnya memperhatikan adab sesuai firman Allah SWT pada surah An-Nur ayat 28-29.

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik agar kau selalu diingat." (28)
"Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu "Kembalilah!" Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (29)

Yang saya sebal adalah jika saya dipaksa untuk melanggar prinsip hidup saya bahwa "gakpapa kali sepupu ngeliat aurat mah, kan saudara". Maka sepupu tersebut seenaknya masuk rumah tanpa mengetuk pintu dan memberi salam sehingga saya tidak bisa siap-siap berhijab pakaian. Gak bisa dong, sembarangan gitu, prinsip saya kan tidak seperti itu. Apalagi saya sudah pernah menghimbau pada dia untuk masuk dengan salam dan ketuk pintu. Ini membuat saya emosi dan marah. Apalagi prinsip hidup saya diremehkan begitu saja. Akan sangat merepotkan diri saya, dong, jika di dalam rumah saja saya harus berbaju tertutup. Rumah itu kan hijab juga bagi perempuan. Kalau masih ngomong "berprinsip boleh tapi jangan saklek", itu tandanya masih belum menghargai sepenuhnya prinsip orang, sih.

Bagi seorang muslimah seperti saya yang selalu menjaga auratnya agar tidak terlihat pada laki-laki selain mahram, rasanya sangat sedih, marah, dan beragam perasaan tidak enak bercampur jika saya gagal menjaga aurat agar tidak terlihat. Terus terang saya rasanya sangat kesal, sedih, serta sakit hati saat orang malah mencemooh saya. Rasanya kecewa saat suatu hal yang telah dijaga hari demi hari hilang begitu saja. Bahkan saya bisa saja marah tak terkontrol jika hal itu terjadi.

Saya sadar bahwa tidak semua perempuan berprinsip dan berpikiran seperti saya untuk menjaga aurat. Saya menghargai prinsip dan pemikiran tersebut, dan saya akan sangat senang kalau prinsip dan pemikiran saya pun dihargai. Makin kesal dan sedih rasanya jika prinsip saya ini dibilang lebay atau radikal. Padahal jika aurat saya terlihat, maka yang dirugikan dan jadi gak enak kan saya dong, tubuh saya pun ya saya yang berhak mengaturnya siapa saja yang boleh melihat. Sama seperti perempuan lain yang mengatakan "perayaan kebebasan tubuh", sama dong berarti dengan prinsip saya, terserah dan otonomi saya untuk memperlihatkan tubuh saya ke siapa.

Melalui tulisan ini saya berpesan pada setiap laki-laki, dan apalagi pada setiap perempuan lain yang bisa saja berprinsip beda untuk menghargai prinsip hidup setiap orang, salah satunya muslimah seperti saya ini. Hal yang menurutmu biasa saja dan tidak penting, bagi orang seperti saya adalah hal yang penting untuk dijaga. Masing-masing manusia memiliki prinsip hidupnya masing-masing, bukan?