Kamis, 05 Mei 2016

Semuanya Saling Sepaket

Berawal dari keresahan dan kegalauan saya, saya pun mencurahkan isi hati saya pada saudara kembar saya. Ia mengatakan "...bersama kelemahan ada kekuatan lu kok....". Hal ini membuat saya merasa bersemangat dan pulih dari keresahan tersebut. Saya ini orang yang sering berpikir mengenai sesuatu dan bergumam dalam kepala sendiri. Semua hal yang berlawanan itu semuanya saling mengisi, namun ada juga yang menjadi bumerang.

Saya orang yang keras kepala dan berkeinginan kuat bahkan dianggap ambisius, namun hal itulah yang membuat saya mampu menguasai hal yang sebelumnya tak saya duga bahwa seorang Ian. Seorang Ian mampu mengemudikan motor dan mobil lalu mendapatkan SIM A dan SIM C di umur 17 tahun. Seorang Ian bertekad ingin masuk ke PTN karena dihantui rasa ingin "balas dendam" dan "gagal" karena tidak menembus sekolah di SMA favorit/unggulan. Saya selalu latihan soal hampir setiap hari saat SMA, dari kelas X saya mengikuti bimbingan belajar karena ingin mengikuti ujian tulis SNMPTN. Yang walaupun akhirnya saya masuk IPB tanpa tes pada pilihan pertama saya, Ilmu Ekonomi Syariah. Dan seterusnya dan seterusnya sifat keras kepala itulah yang mengantarkan saya mencapai hal-hal yang sebelumnya saya kira tidak bisa saya capai. 

Tetapi sifat keras kepala dan ambisi itu juga yang membuat saya menjadi tidak sabaran, dan terkadang memiliki harapan terlalu tinggi. Harapan memang harus tetap ada, tetapi kalau terlalu tinggi maka hanya akan membuat kita jatuh lebih tinggi ketika gagal. Saya memang sering gagal berkali-kali, tetapi kali ini saya sadar, setinggi apapun mimpi tetap harus memiliki ruang untuk lebih legowo dan tawakkal.

Saya orang yang blak-blakan dan berbicara secara terang-terangan juga cerewet, karakter itulah yang membuat saya lebih mudah mengutarakan pendapat, dan beberapa masalah menjadi lebih cepat selesai dan teratasi. Tetapi karakter itu juga yang terkadang membuat saya tanpa sadar menyakiti perasaan orang lain. Padahal saya tidak bermaksud demikian. Yah, maklum deh.. darah Sumatera.

Pernah terbersit dalam hati, saya menyesal atas hal-hal yang terjadi karena sifat impulsif saya, karena keterlambatan, karena keraguan. Tetapi kemudian saya berpikir lagi... bahwa tak ada yang perlu disesali, karena setiap langkah yang saya ambil memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri, dan saya sudah bertanggung jawab atas semua itu. Saya harus berdamai dengan diri saya sendiri, sebagaimana saya mampu memaafkan orang lain, maka saya pun harus mampu memaafkan kesalahan-kesalahan diri saya di masa lampau. Saya bertekad untuk bersiap menghadapi hari esok dengan seluruh energi yang saya miliki dengan maksimal. Suatu saat apabila saya mendapati kegagalan (lagi), saya tidak akan menyesal dan menyalahkan diri sendiri.. karena saya sudah mengusahakan yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar