Sabtu, 25 Juni 2016

My Support System

Sayang banget sama 2 perempuan ini, ibuku dan saudara kembarku..
Tanpa mereka, mungkin sekarang aku sudah hancur lebur tak mampu tersenyum lagi.
Tanpa mereka, mungkin aku tidak bisa semangat lagi mengejar cita-citaku.
Dan tanpa kurencanakan, air mataku jatuh saat menulis post ini.
Terimakasih yaAllah, sudah memberi aku ibu dan saudara kembar yang aku sayangi dan juga sayang aku.

Jumat, 24 Juni 2016

Review My Daughter Seo Young


Udah lamaaa banget pengen nulis review drama korea ini di blog. Walaupun drama 50 episodes ini release tahun 2012, yang berarti 4 tahun lalu, tapi gw pribadi nonton ini pas jaman-jaman skripsi (2015) dan rasanya ngena banget nontonnya. Gw ini termasuk picky dalam nonton drama korea, film, dan sejenisnya. Misalnya, cerita pertama harus menarik dan minimal visual yang diberikan bikin gw betah liatnya, atau plot yang diberikan jelas (bukan asal kejut tapi gak ada plot kayak drama terbaru itu tuh yang bikin Song Joong Ki terkenal). Hahaha.

Nonton film My Daughter Seo Young ini setelah nonton drama Lee Bo Young yang lain, "I Hear Your Voice (2013)". Karakternya beda banget yang diperanin dia di IHYV dan MDSY. Suka banget deh sama kualitas akting istri Jisung ini, bagus bangeeet. Sampe terbawa sama pendalaman perannya. Nih, poster drama My Daughter Seo Young..


Oke, gw jabarkan sinopsisnya berdasarkan apa yang gw tonton (buat yang belum nonton dan berminat untuk nonton, maaf ya kalo agak spoiler). Jadi ceritanya, Seo Young ini terlahir dari keluarga yang tadinya normal aja, tapi tau-tau ada krisis moneter IMF yang membuat ayahnya di-PHK saat dia dan saudara kembar laki-lakinya, Sang Woo, masih SMA kelas 2. Seo Young dan adik kembarnya sama-sama punya cita-cita jadi dokter, tapi mereka diremehkan oleh guru sekolah bahwa gak pantas orang miskin mau masuk kedokteran yang biaya kuliahnya tinggi. Seo Young yang setiap ujian selalu mendapat peringkat satu di sekolah pun kesal dan semakin ingin membuktikan bahwa ia dan adiknya mampu walau miskin.

Lanjut, Seo Young akhirnya memutuskan buat DO sekolah dan ngumpulin uang selama 1 tahun penuh jadi tukang delivery dan diam-diam naro berkas Sang Woo ke jurusan kedokteran. Uang hasil kerja kerasnya pun dipakai Sang Woo kuliah. Sementara dia mengalah, memilih melanjutkan sekolahnya di jurusan hukum biar jadi pengacara karena cepat kaya dan sekolahnya lebih cepat lulus menurut dia. Saat masa-masa sulit itu, ayahnya pun gemar judi dan gak sukses-sukses ikutan bisnis MLM. Itu membuat Seo Young harus nombokin utang bapaknya terus sementara dia sendiri udah kesusahan. Kekesalan dan kebencian Seo Young pada bapaknya akhirnya mencapai puncaknya saat ibunya meninggal sedangkan bapaknya main judi. Dia yang walaupun benci dan sering ngomong kasar ke bapaknya malah bayarin utang bapaknya lagi saat ibunya mati pake uang buat kuliahnya di semester akhir.


Seo Young tadinya udah mau nyerah sama mimpinya buat lulus dan jadi pengacara, tau-tau datang kakak kelasnya yang nawarin bantuan biar dia gak usah defer kuliah dengan jadi tutor anak dari keluarga kaya yang selalu bebal mau dikasih tutor apapun, tapi dikasih bayaran dua kali lipat. Long story short, kakak dari si anak tutor, Woo Jae, jatuh cinta ke Seo Young dan ngajak dia nikah. Seo Young udah terlanjur bohong bilang bahwa ayahnya udah mati, karena mikirnya toh gaakan mungkin keluarga kaya ngasih ijin anak laki-lakinya nikah sama cewek miskin kayak dia. Eh, yang ada pokoknya dengan segala bumbu drama si cowok boleh nikah sama dia dan bikin dia bingung bukan kepalang. 

Seo Young pun yang awalnya nolak karena dia udah bohong tentang bapaknya akhirnya gak kuat dan bohong ke bapaknya kalo dia sekolah ke luar negeri. Dan ternyata bapaknya jadi tamu bayaran di pernikahan Seo Young. Bapaknya walaupun sedih dan sangat terpukul tapi gak bilang ke siapa-siapa dan mutusin ngumpet biar Seo Young gatau kalo dia ngeliat perkawinan itu. Dan bapaknya selalu ngeliat keadaan anaknya dan mastiin kalo Seo Young baik-baik aja. 

Begitulah kurang lebih cerita intinya, tapi masih banyak sidestorynya yang juga menarik. Setelah nonton sampe beres, kurang lebih yang gw tangkap, secara garis besar si penulis cerita ingin memberi pesan kalau kita baru bisa merasakan apa yang orang rasakan kalo kita udah merasakan ada di posisi dia. Ada lagi cerita tentang keluarga yang suaminya tajir melintir tapi dingin dan galak ke anak-anaknya, sementara suami yang hangat dan romantis tapi hartanya gak melimpah.. sedangkan masing-masing istrinya iri satu sama lain. Yang gw suka dari drama ini, banyak nilai positif yang bisa diambilnya. Nih, gw kasih snapshot bagian-bagian adegan yang jadi favorit gw karena captionnya quote-able:

1. Saat Woo Jae ngasih nasihat ke adiknya, Seong Jae yang gagal.
 

2. Saat Seo Young ngehibur Seong Jae yang lagi sedih banget karena ngerasa bersalah kalo dia ternyata... (tonton aja deh haha)


 3. Saat ibunya Ho Jeong nasihatin dia tentang pernikahan hahaha




4. Saat Sang Woo melamar Ho Jeong walaupun gak cinta tapi ikhlas karena tau itu yang terbaik




5. Saat Ho Jeong patah hati tau kalo Sang Woo pacaran sama Migyeong. Well, Hojeong, I know how  that damn brokenheart feels.. wkwkwk



6. Saat ibunya Woo Jae takut kalo Seo Young bakal beneran jadi menantunya.





7. Saat bapaknya curhat ke Sangwoo





8. And the last :))


Sebenernya masih banyak sih kayaknya, tapi yaudah deh segitu aja dulu. Yah pokoknya gw suka banget sama drama ini, karena saat nonton gw bisa relate ceritanya. Overall, this drama is really worthed to watch. Walaupun sebenernya menurut gw bisa jadi padat ga harus 50 episode. Lee Bo Young eonni dapet Daesang (grand prize) dari drama ini :))

Rabu, 22 Juni 2016

Unclear

I'm a dreamer who still survives,
up until now I'm still wondering when I will get a happiness.
I still remember clearly the time I used to pray devotedly, diligently to God,
I do everything I could do,
I innocently think that my prayers will come true,
Then day by day it comes, and it isn't (yet) to be mine,

Am I wrong? I (think) I have done everything I could.
Is the problem is on myself? I've prayed and tried my best.
Am I unworthy enough to succeed? Then I'm wondering if I really want it or it is only a mere obsession.
Don't I deserve happiness? God, after I've been through a lot, now I even scared of hoping and praying anything I want. It is only You that knows what's best for me.
I don't want to blame my own self in the past,
I'm weak enough to be blamed.
I will stand for myself so that I will keep standing.
I have to forgive my own self for my every mistakes, just like I forgave others.

Dear God...
I believe you've prepared your destiny for me.
After such a rumbling I felt in my heart,
I know and realize that what other people gets so damn easily but I can't reach it even if I teared the last drop of my blood is not my mistakes.
It's just... the price that I have to pay in order to get this lesson,
the price that I have to pay to be wiser, stronger, more enduring.
It may sound cliche, but I still feel blessed with that failures, so that I won't immaturely and innocently hope for something that is not the only way.
There are ways to get happiness and peace even without it.
I do really believe that someday I will smile with no more pain left behind when reading this post, remembering what I've been through, and I will salute my own self.
I just.... still working to get that "someday" and haven't meet that "someday" yet.

Dear God, I only want happiness now..............

Kamis, 16 Juni 2016

Menghormati Orang yang Puasa dan Tidak Puasa

Menimbrung tema yang sedang panas di bulan Ramadhan ini: menghormati orang yang tidak berpuasa. Terus terang saya tidak benar-benar tidak setuju dan juga tidak benar-benar setuju dengan pemahaman ini, karena saya pun pernah merasakan di posisi tidak enak saat sekolah dan kuliah dulu, walau tidak berpuasa karena siklus bulanan, saya tetap menahan lapar hingga sakit maag karena bingung dimana saya bisa membeli makan, atau sekedar tempat makan bekal yang saya bawa, yang ujungnya saya jadi pasrah saja menahan lapar. Karena, masa sih saya harus makan di toilet? Bahkan orang sekitar saya pun ada yang berpemikiran kalau wanita yang sedang tidak berpuasa lebih baik makan sedikit saja, karena kan biar bagaimanapun ini bulan puasa. Ummm, gimana ya... perempuan yang tidak berpuasa karena menstruasi kan harus bayar utang puasa juga. Jadi, sama aja kok sebenernya. 

Menurut saya sih, sebenarnya, tidak terlalu menjadi masalah kantin dan restoran-restoran buka saat siang hari, karena kan banyak juga orang-orang yang memiliki udzur tidak berpuasa, orang non muslim, dan orang yang tidak bisa memasak karena berbagai alasan, asalkan masih menjaga kesucian bulan puasa dengan tirai penutup. Tapi... yang saya bingung, seharusnya aturan penutupan rumah makan saat siang hari itu juga menguntungkan rumah makannya sih, dengan penduduk mayoritas muslim, logikanya sisi permintaan (demand) masyarakat kan berkurang. Nah, kalau yang beli makanannya memang non muslim, atau orang yang memiliki udzur tidak puasa sih ya tidak masalah, tapi kalau yang beli adalah orang muslim yang malas berpuasa, atau anak sekolah yang berbohong mengaku puasa ke orang tuanya saat sampai rumah... bukannya berarti sama saja dengan menjual barang "haram"? Apa penjual tersebut tidak merasa terbebani secara moril? Walaupun gak mungkin juga penjual menginterogasi saat berjualan. Kalo saya yang jualan, mungkin kalo laki-laki terlihat sehat saya minta lihat KTPnya dulu kali ya, kalo muslim gak saya kasih. Ya tapi bisa juga dia beralibi makanan dibawa pulang untuk buka puasa.

Berita yang sedang hangat adalah penyitaan makanan di warteg oleh petugas satpol PP karena melanggar perda. Ya sebenarnya pasti ada pro kontra sih atas perda tersebut, tetapi kalau ditilik secara hukum, berarti memang ibu warteg itu salah kan karena melanggar hukum. Saya pun di Bogor sangat senang dengan suasana mall di saat Ramadhan, restoran semuanya menggunakan penutup tirai untuk menghormati orang yang berpuasa dan menjaga kesucian bulan Ramadhan. Walaupun di hari pertama sulit mencari restoran yang buka karena Ibu tidak sempat memasak, tapi yang saya lihat sih, beberapa pedagang kaki lima masih aktif jualan makanan aja tuh. Saya sih masih berusaha berprasangka baik aja dengan pembelinya, apalagi kalau perempuan. Hehehe.

Kesimpulan saya sih, masing-masing daerah punya perda masing-masing dan sudah sepantasnya ditaati warga daerahnya. Dan apa masalahnya, sih, menjaga kesucian bulan Ramadhan dan menghormati muslim yang berpuasa. Tidak aneh-aneh kok, dengan penutup tirai di rumah makan, dan tidak makan di depan umum saja sih menurut saya itu sudah cukup. Toh, tidak merugikan dan yang tidak berpuasa masih bisa makan di tempat lain , tetap kenyang kan. :))

Minggu, 12 Juni 2016

Patah Hati

Siang hari yang cerah itu berganti menjadi senja,
Senja pun berakhir menjadi malam,
Kalau aku yakin malam yang sangat panjang akan berganti pagi,
Mengapa aku harus khawatir saat gelap dan dinginnya malam datang?

Bahan makanan itu ada tetapi belum siap dimakan,
Setelah dimasak pun akhirnya akan menjadi makanan,
Kalau aku yakin bahwa lapar akan berganti kenyang jika makan,
Mengapa aku harus khawatir aku akan lapar selama-lamanya?

Bumi berrotasi setiap hari,
Kadang kita berdiri saat bola bumi itu di atas, di samping, atau di bawah,
Tuhan memiliki kekuatannya melalui yang disebut gaya gravitasi,
Mengapa kita takut untuk terjatuh saat kita di bawah?

Darah keluar saat kulit terluka,
Luka tersebut lama kelamaan akan sembuh,
Bahkan tanpa diobati,
Mengapa kita harus takut merasakan sakit selama-lamanya?