Kamis, 16 Juni 2016

Menghormati Orang yang Puasa dan Tidak Puasa

Menimbrung tema yang sedang panas di bulan Ramadhan ini: menghormati orang yang tidak berpuasa. Terus terang saya tidak benar-benar tidak setuju dan juga tidak benar-benar setuju dengan pemahaman ini, karena saya pun pernah merasakan di posisi tidak enak saat sekolah dan kuliah dulu, walau tidak berpuasa karena siklus bulanan, saya tetap menahan lapar hingga sakit maag karena bingung dimana saya bisa membeli makan, atau sekedar tempat makan bekal yang saya bawa, yang ujungnya saya jadi pasrah saja menahan lapar. Karena, masa sih saya harus makan di toilet? Bahkan orang sekitar saya pun ada yang berpemikiran kalau wanita yang sedang tidak berpuasa lebih baik makan sedikit saja, karena kan biar bagaimanapun ini bulan puasa. Ummm, gimana ya... perempuan yang tidak berpuasa karena menstruasi kan harus bayar utang puasa juga. Jadi, sama aja kok sebenernya. 

Menurut saya sih, sebenarnya, tidak terlalu menjadi masalah kantin dan restoran-restoran buka saat siang hari, karena kan banyak juga orang-orang yang memiliki udzur tidak berpuasa, orang non muslim, dan orang yang tidak bisa memasak karena berbagai alasan, asalkan masih menjaga kesucian bulan puasa dengan tirai penutup. Tapi... yang saya bingung, seharusnya aturan penutupan rumah makan saat siang hari itu juga menguntungkan rumah makannya sih, dengan penduduk mayoritas muslim, logikanya sisi permintaan (demand) masyarakat kan berkurang. Nah, kalau yang beli makanannya memang non muslim, atau orang yang memiliki udzur tidak puasa sih ya tidak masalah, tapi kalau yang beli adalah orang muslim yang malas berpuasa, atau anak sekolah yang berbohong mengaku puasa ke orang tuanya saat sampai rumah... bukannya berarti sama saja dengan menjual barang "haram"? Apa penjual tersebut tidak merasa terbebani secara moril? Walaupun gak mungkin juga penjual menginterogasi saat berjualan. Kalo saya yang jualan, mungkin kalo laki-laki terlihat sehat saya minta lihat KTPnya dulu kali ya, kalo muslim gak saya kasih. Ya tapi bisa juga dia beralibi makanan dibawa pulang untuk buka puasa.

Berita yang sedang hangat adalah penyitaan makanan di warteg oleh petugas satpol PP karena melanggar perda. Ya sebenarnya pasti ada pro kontra sih atas perda tersebut, tetapi kalau ditilik secara hukum, berarti memang ibu warteg itu salah kan karena melanggar hukum. Saya pun di Bogor sangat senang dengan suasana mall di saat Ramadhan, restoran semuanya menggunakan penutup tirai untuk menghormati orang yang berpuasa dan menjaga kesucian bulan Ramadhan. Walaupun di hari pertama sulit mencari restoran yang buka karena Ibu tidak sempat memasak, tapi yang saya lihat sih, beberapa pedagang kaki lima masih aktif jualan makanan aja tuh. Saya sih masih berusaha berprasangka baik aja dengan pembelinya, apalagi kalau perempuan. Hehehe.

Kesimpulan saya sih, masing-masing daerah punya perda masing-masing dan sudah sepantasnya ditaati warga daerahnya. Dan apa masalahnya, sih, menjaga kesucian bulan Ramadhan dan menghormati muslim yang berpuasa. Tidak aneh-aneh kok, dengan penutup tirai di rumah makan, dan tidak makan di depan umum saja sih menurut saya itu sudah cukup. Toh, tidak merugikan dan yang tidak berpuasa masih bisa makan di tempat lain , tetap kenyang kan. :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar