Sabtu, 31 Desember 2016

Ketika aku gagal dan ingin bangkit

Dulu, saat kegagalan yang begitu menohok itu, gagal LPDP 2 kali,
dunia serasa runtuh,
ragaku seperti dihempas badai,
jiwaku seperti hilang,
mimpiku menguap dan berdifusi pada angin
masa depanku seperti hilang

Aku merasa seperti produk gagal, mengapa aku gagal dua kali? Apa memang aku tak pantas? Apa memang ini hukuman untukku? YaAllah dari sekian banyak orang lain berhasil mengapa aku digagalkan. Mengapa aku sebodoh itu untuk sesuatu yang sangat mudah didapatkan orang lain?

Aku berusaha kuat. Aku berusaha tegar. Aku menutup diriku dari keramaian. Aku malu yaAllah. Aku tak ingin orang lain tau dan meremehkan aku. Aku yang biasanya tak tahan untuk bicara dengan sifat keterbukaanku tak ingin membaginya pada siapapun. Aku block, unfollow, dan hapus semua keyword "LPDP" agar aku lupa dan move on dari semua kesedihan itu. Aku jalani hari demi hari dengan (berusaha) sabar. Aku browsing segala blog untuk membangkitkan semangatku. Mencari-cari barangkali ada yang senasib denganku, dan dengan cara itu aku menghibur diriku sendiri.
Dua sampai bahkan tiga bulan hatiku masih sangat terasa sakit saat melihat awardee LPDP di social media, mendengar kata LPDP, dan bahasan apapun tentang LPDP. Aku bahkan uninstall Path untuk move on.

Hari demi hari ku jalani dengan penuh kesedihan. Dalam hati aku bersyukur walaupun sakit sekali dan merasa bahwa dunia tidak adil, tetapi aku mendapat kepastian, dan yang jelas aku tidak berharap pada angan semu lagi. Aku jalani hari demi hari dengan melankolis. Aku pelan-pelan membenahi semuanya. Sempat sih aku masih berharap pada beasiswa ketiga yang aku daftar, tapi penolakan ketiga tidak begitu terasa sakit apa-apa. Sepertinya aku sudah mulai kebal terhadap penolakan. Walau ya.. tetal ada rasa nyess dan sakit sih dalam hati.

Batinku bersyukur.. Alhamdulillah yaAllah..  Kau menjadikan aku lebih kuat dengan dua kali kegagalan. Kau memberikan aku takdir yang lebih indah.

Setelah mendapatkan kepastian, kujalani hidup dengan usaha penuh untuk sabar, setiap hari aku memaksa diri menjadi kasir di toko milik orang tuaku dan diberi upah. Mencoba melamar kerja tapi aku menyadari bahwa semangatku bukan disana, bukan pada karir dunia kerja kantoran yang dikejar orang-orang lain.

Aku mencoba mengeluarkan modal pada sisa-sisa tabungan yang aku punya. Dalam hati aku sedih dan takut, yaAllah bahkan stok dagang aku sebelumnya aja dalam waktu tiga bulan masih lumayan bersisa. Bagaimana sekarang? Dimana masa depanku yaAllah. Apa aku sanggup sejahtera dengan cara berbeda dari sekelilingku? Apa aku bisa memiliki penghasilan seperti pegawai-pegawai kantoran itu?

Hatiku masih sakit. Bahkan melihat quote di krl saja air mataku menetes. Aku sampai malu dengan orang yang melihatku menangis. Hatiku berkata, "YaAllah mengapa hidupku jadi seperti ini,  apa masa depan indah itu masih layak untukku?".

Atas dasar kuasa dan pertolongan Allah, walau usahaku baru berjalan hitungan bulan. Dan itu semua tidak mulus, terjal jalan yang ku lalui. Sendiri aku jalani itu semua. Dengan modal keberanian, kepasrahan, bahkan bisa dibilang nekat dengan resiko sangat tinggi.. Aku sekarang berada di titik ini. Tak perlulah aku besar-besarkan dan umbar. Karena ya memang, tak ada yang bisa diumbar. Bismillah.. Permudahlah yaAllah..

-ian yang sekarang sudah merasa hidup sekarang sudah jauh terasa lebih baik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar