Saya bukanlah perempuan yang bercadar, belum berjilbab syari yang sangat lebar ataupun lebar. Sampai sekarang, sejak Oktober 2009 saya memutuskan berhijab, saya masih belajar untuk berhijab secara sempurna. Saya memang hanya seorang muslimah biasa saja, belajar untuk memakai rok, tetapi terkadang walau jarang masih memakai celana jeans. Walaupun hijab saya masih jauh dari sempurna, saya adalah orang yang memegang teguh prinsip saya. Saya menjaga dan tidak ingin aurat saya dilihat oleh sembarang orang yang bukan mahram.
Darimanakah standar saya menjaga aurat terhadap orang lain? Hal tersebut tercantum pada Al Quran surah An-Nur ayat 31, "Katakanlah kepada wanita yang
beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan
janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak
daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan
janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah
mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami
mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara
laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita
Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang
tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti
tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui
perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah,
hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
Untuk lebih mudahnya, nih saya comot dari google diagram mahram (sumber: http://berkhalifah.com/siapa-saja-mahram-kita-dalam-islam/)
Bagi orang lain yang tidak memiliki prinsip yang sama dengan saya, terutama keluarga, seringkali mereka mengatakan bahkan memaksakan kehendak mereka bahwa sepupu juga boleh melihat aurat karena masih saudara. Padahal, berdasarkan dalil yang ada, sepupu (alias anak dari saudara kandung ayah) tidaklah termasuk pada mahram wanita. Rumah saya merupakan rumah yang terkadang ada beberapa laki-laki yang harus masuk karena keperluan bisnis orang tua ataupun saudara yang berkunjung. Hal ini membuat risiko aurat saya terlihat oleh orang yang bukan mahram besar.
Kenapa saya marah? Karena usaha saya menjaga aurat dan mempertahankan prinsip saya gagal saat ada orang, terlebih laki-laki yang bukan mahram saya, yang mengatakan dan beralasan bahwa mereka masuk ke rumah secara tidak sengaja, padahal mereka sama sekali tidak mengucapkan salam dan/atau mengetuk pintu sebelum masuk yang membuat saya gagal. Mengapa saya kesal? Karena seharusnya jika mereka bertamu dan menyadari ada wanita berhijab didalamnya, seharusnya memperhatikan adab sesuai firman Allah SWT pada surah An-Nur ayat 28-29.
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik agar kau selalu diingat." (28)
"Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu "Kembalilah!" Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (29)
Yang saya sebal adalah jika saya dipaksa untuk melanggar prinsip hidup saya bahwa "gakpapa kali sepupu ngeliat aurat mah, kan saudara". Maka sepupu tersebut seenaknya masuk rumah tanpa mengetuk pintu dan memberi salam sehingga saya tidak bisa siap-siap berhijab pakaian. Gak bisa dong, sembarangan gitu, prinsip saya kan tidak seperti itu. Apalagi saya sudah pernah menghimbau pada dia untuk masuk dengan salam dan ketuk pintu. Ini membuat saya emosi dan marah. Apalagi prinsip hidup saya diremehkan begitu saja. Akan sangat merepotkan diri saya, dong, jika di dalam rumah saja saya harus berbaju tertutup. Rumah itu kan hijab juga bagi perempuan. Kalau masih ngomong "berprinsip boleh tapi jangan saklek", itu tandanya masih belum menghargai sepenuhnya prinsip orang, sih.
Bagi seorang muslimah seperti saya yang selalu menjaga auratnya agar tidak terlihat pada laki-laki selain mahram, rasanya sangat sedih, marah, dan beragam perasaan tidak enak bercampur jika saya gagal menjaga aurat agar tidak terlihat. Terus terang saya rasanya sangat kesal, sedih, serta sakit hati saat orang malah mencemooh saya. Rasanya kecewa saat suatu hal yang telah dijaga hari demi hari hilang begitu saja. Bahkan saya bisa saja marah tak terkontrol jika hal itu terjadi.
Saya sadar bahwa tidak semua perempuan berprinsip dan berpikiran seperti saya untuk menjaga aurat. Saya menghargai prinsip dan pemikiran tersebut, dan saya akan sangat senang kalau prinsip dan pemikiran saya pun dihargai. Makin kesal dan sedih rasanya jika prinsip saya ini dibilang lebay atau radikal. Padahal jika aurat saya terlihat, maka yang dirugikan dan jadi gak enak kan saya dong, tubuh saya pun ya saya yang berhak mengaturnya siapa saja yang boleh melihat. Sama seperti perempuan lain yang mengatakan "perayaan kebebasan tubuh", sama dong berarti dengan prinsip saya, terserah dan otonomi saya untuk memperlihatkan tubuh saya ke siapa.
Melalui tulisan ini saya berpesan pada setiap laki-laki, dan apalagi pada setiap perempuan lain yang bisa saja berprinsip beda untuk menghargai prinsip hidup setiap orang, salah satunya muslimah seperti saya ini. Hal yang menurutmu biasa saja dan tidak penting, bagi orang seperti saya adalah hal yang penting untuk dijaga. Masing-masing manusia memiliki prinsip hidupnya masing-masing, bukan?
