Selasa, 27 Desember 2022

Kecil

Hari ini aku sedih,

lalu aku lihat di luar sana,

seekor kucing tetap menjalani harinya untuk makan tidur seperti biasa,

bapak-bapak tukang parkiran tetap bekerja sebagaimana harinya,

tikus got tetap berusaha mencari makan dan peluang hidupnya,

ada orang lain di belahan bumi lain yang mendapat kesenangan di hari ini,

ada pula yang ya biasa-biasa saja, bahkan aku berharap bisa biasa saja sepertinya,

ada pula yang sedang tertimpa musibah, setidaknya aku masih lebih beruntung darinya,

para pekerja tetap harus berangkat pagi agar tetap tepat waktu sampai di kantornya,

ada pula ibu rumah tangga yang sedang merapihkan rumahnya,

bumi tetap berrotasi di garis edarnya,


.... tapi bisakah aku egois sejenak?

Aku sedang sedih, aku juga ingin memvalidasi perasaanku sendiri.

Aku tau semua perasaan di dunia ini hanya temporer, tapi izinkan aku berbenah.

Hati ini walau kecil, tapi tetap terasa besar untukku, yang hanya sebuah titik kecil di bumi ini.

Jumat, 07 Januari 2022

Perjalanan

 Saat aku berpikir tidak ada lagi harapan, 

Allah datangkan lagi harapan baru.


Saat aku berdoa meminta keinginanku,

Allah berikan yang jauh lebih baik dari obsesiku.


Saat aku lalai beribadah,

Allah datangkan musibah yang mendekatkanku kembali padaNya.


Saat aku bersedih,

Allah hadirkan cara untukku melihat dari perspektif baru.


Saat aku merasa kurang,

Allah cukupkan semuanya untukku.


Saat aku merasa lemah,

Allah kuatkan aku.

Jumat, 11 Mei 2018

Bank syariah atau riba?

Disclaimer dulu sebelumnya:
Gw gak kerja di bank syariah ataupun lembaga keuangan syariah lain, gw cuma lulusan S1 ilmu ekonomi syariah di ipb angkatan 48 (lulusnya tahun 2015). Gw juga gak berniat memojokkan orang yang kerja di lembaga keuangan konvensional, karena tugas gw cuma menyampaikan dan ngasih tau apa yang benar dan salah. Bukan untuk ngatur-ngatur hidup orang lain 😊.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan gw, biasanya orang yang skeptis sama bank syariah itu terbagi dua, (1) orang yang (maaf) kurang islami dan jadi mikirnya "yaudahlah sama aja, emang apanya yang beda" dan berakhir di bank konvensional, atau (2) orang yang islami banget dan nganggep bagi hasil bank syariah pun sama aja haram, jadi mikirnya ya gapapa nabung aja di bank konvensional asal ga ambil bunganya, juga gak mau ambil kredit bank syariah karena ragu sama kehalalannya.

Well, gw akui gw sendiri pake kok atm bank konvensional, tapi sekadar untuk 'transaksi' ya bukan untuk 'menabung'. Setiap rekening gw saldonya sekian ya langsung gw transfer ke rekening bank syariah gw, gw punya 2 atm bank syariah yang tujuannya menabung. Gw pake hanya untuk kemudahan orang transfer karena ga bisa dipungkiri semua kebanyakan masih pake atm bank konvensional. Sebenernya sama aja sih prinsip gw ini kayak lembaga zakat gitu yang masih pake bank konvensional, hanya untuk kemudahan, dan gak makan bunganya, yang pun jauhh lebih rendah dari biaya admin bulanan banknya.

Terus ceritanya kemaren gw naik taxi online pulang dari mall di Jakarta bareng sepupu gw. Nah driver mobilnya kepo jadi dia nanya, "Saya kira pulang pengajian Mba, bajunya kayak jamaah mamah dedeh nih jangan-jangan."

Panjang lah ya gw juga lupa dia ngomong apa aja terus dia nanya lagi, "Mba masih kuliah atau udah lulus?". Dan singkat cerita nyampe ke sepupu gw bilang kalo dia lulusan ekonomi syariah di Trisakti. Disini lah si bapak memulai nanya-nanya yang agak ngajak gw debat.

Bapaknya nanya "Wah kebetulan nih Mba, saya mau nanya, "ekonomi syariah" tuh maksudnya gimana ya?

Gw jawab, "ya sama aja pak kayak ekonomi biasa, bedanya ada yang dilarang dan ada yang diperbolehkan. Sebenernya menurut saya, ekonomi syariah itu baru bisa dipahami kalo beriman, karena ini tentang halal haram."

"Emang bunga sama keuntungan apa tuh Mba bedanya? Semisal saya kredit mobil 100jt terus bank dapat keuntungan 50jt. Itu apa bedanya berarti. Kan sama aja kan mba berarti sama bank biasa."

"Kalo margin itu dr akad murabahah ibarat saya minta tolong ke temen nih pak beliin minum, nah ada komisi keuntungan buat dia semisal 500, nanti bayarnya dicicil bulanan. Kalo bunga langsung dari pokok utangnya"

(panjang lah ya Bapaknya ngajak debat dan diakhiri kata "Bener ga?" ke gw tapi selalu gw jawab balik)

"Nah kalo gitu sama aja dong Mba berarti, bener ga?"

"Ngga sih pak beda, lebih ke konsep awalnya, kalo bank syariah itu patokannya ke nilai barangnya, tapi kalo bank konvensional itu dari value uangnya. Emang beda tipis pak tapi ya beda."

"Oh jadi beda tipis nih mba?"

"Ya iya pak sama aja kayak Bapak makan ayam, yang satu disembelih pake Bismillah yang satu lagi nggak. Sama-sama ayam kan Pak tapi yang satu halal dan satunya lagi haram."

...(dari sini pun Bapaknya udah mulai berhenti ngajak debatnya)

"Emang ayam kalo gak disembelih pake bismillah haram ya mba?"

"Ya iya pak. Kalo bank konvensional mah udah ibarat babi."

(Terus gw bilang potongan ayat al baqarah 275 saking semangat haha dan pembagian halal haram menurut fiqh.)

Terus bapaknya ketawa dan bilang, "Berarti mba bagus nih kuliahnya gak main-main ya ngerti ilmunya," dan gak ngajak debat lagi sampe ke akhir perjalanan.

Well, menurut gw sih, yang namanya perintah agama dan syariat halal dan haram itu gak selalu logis, tapi karena Tuhan kita emang memerintahkan demikian. Dan bagi sebagian orang lain yang gak beriman, ya akan memandang aneh karena tidak masuk logika mereka. Dan itulah agama, banyak aturan yang tidak logis, karena logika manusia itu terbatas, Dia lebih tau.

Minggu, 22 April 2018

being a young adult

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (QS Al-Ankabut ayat 64)

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya umur, semakin banyak pelajaran hidup yang gw dapat. Sebenernya lebih ke pemahaman dan "kesabaran" ke diri sendiri sih. Semakin dewasa semakin belajar kalo segala sesuatu itu seringnya terjadi ya akan terjadi aja. Tanpa menunggu kita siap, ga peduli kita marah kepada takdir, meratap, apalagi teriak-teriak. Seringnya malah kejadian yang kayak gitu yang membuat kita belajar dan siap. Ngerti ga? ya maksudnya kayak gitu lah ya.

Alhamdulillah, sekarang udah sekitar 1,5tahun usaha online baju gw berjalan. Usaha online yang terlihat adem ayem aja padahal sebenernya tricky juga bagaimana mempertahankan sales, marketing, omzet dll. Begitu juga tantangan-tantangan, apalagi kalo mulai gw ngerasa ga sesuai ekspektasi dan target. Banyak banget pelajaran yang gw dapet, sampe sekarang pun gw masih usaha dan doa terus buat ini. Ya mungkin ini juga yang membuat kebanyakan orang punya persepsi lebih enak jadi pegawai tetap di suatu perusahaan besar/pns/bumn. Karena gw pun sampe sekarang masih ngerasa gejolaknya. Tapi bagi gw, justru ini yang seru! Gimana caranya gw survive di tengah persaingan kayak sekarang.  Gimana caranya memenangkan hati customers. Gimana caranya menghadapi komplain dll. Dan ngebuat gw makin percaya kalo rejeki itu Allah yang atur. Mau kita anggap diri kita sekecil apapun juga tapi ternyata tetep ada aja tuh celah rejekinya. Alhamdulillah.

Nah, namanya manusia yah, pasti setelah dapet yang lumayan, jadi punya ekspektasi dan keinginan ke arah lebih besar dan makin ke depan. Gw sempet kok punya goals pengen beli rumah, pengen beli mobil, pengen punya aset ini aset itu. Sampe akhirnya pikiran itu menggelitik pikiran dan mengubah gw menjadi orang yang ngoyo, dan tidak menikmati dan berkurang syukur dengan apa yang gw udah punya di hari ini dan sekarang. Akhirnya gw berpikir, gimana kalo pola pikirnya diubah? Berusaha dengan lepas dan bebas aja sekarang, tanpa harus terbebani, toh gw masih bisa makan enak, tidur nyenyak tanpa harus sengoyo itu. Karena semua terjadi juga sesuai kehendak Tuhan. Kita juga cuma bisa berdoa dan berusaha. Dan gw percaya, karunia Allah SWT datang di saat hambanya merasa buntu-buntunya, tiba-tiba datang solusi masalahnya.

Begitu pun dengan jodoh, gw akui selama ini gw sering baper liat orang terdekat gw, temen-temen, atau bahkan selebgram yang udah nikah di usia muda. Sementara gw sendiri ya masih gini-gini aja. (Maklumi kegalauan gw ya hehe). Terus gw pun mikir, kalo gw terlalu fokus ke arah sana sebagaimana dengan gw fokus mau punya rumah dan bukan menikmati momen hari demi hari, yang ada gw malah ngoyo dan jadi orang yang kurang bersyukur kan? Karena hidup itu sejatinya menerima dengan penuh syukur apa yang Allah berikan pada kita. 

Kamis, 30 November 2017

Nenek Ine (in memoriam)

Sudah satu bulan kepergiannya. Aku memanggil beliau Nenek Ine, sapaan kepada Nenek dari bahasa Musi Banyuasin, Sekayu, tepatnya Bailangu, Sumatera Selatan, tempatnya lahir. Melalui tulisan ini, aku simpan kenangan tentang Nenekku.

Nenekku seorang yang pintar secara akademik,
ia bersekolah di Sekolah Guru dan Hakim Agama di Malang,
ia bercerita mendapat nilai ilmu pasti 9,
ia satu-satunya perempuan yang diangkat menjadi penilik sekolah,
Nenek dengan percaya diri berkata bahwa aku termasuk pintar dalam akademik adalah karena keturunannya.

Nenekku seorang pensiunan pegawai negeri sipil, yaitu guru,
begitu juga dengan Nek Anang, seorang pensiunan hakim pengadilan agama,
Nenek pernah berkelakar dan berkata bahwa salah satu alasan ia memilih Nek Anang (kakekku) adalah jika ia menjadi janda karena ditinggalkan oleh suami terlebih dahulu maka ia akan mendapat pensiunan suami.

Nasihat nenek.. jangan pernah meninggalkan sholat,
selalu tumakninah dan sholatlah tepat waktu,
Nenek Ine seorang yang sangat strict tentang Thoharoh,
ia selalu perfeksionis menjaga kesucian sebelum melaksanakan sholat,
Nenek selalu mengucapkan Lailahaillallah sebelum tidur,
Kata Nenek, jikalau beliau meninggal dalam keadaan tidur, ia akan masuk surga dengan mengucapkan itu,
pada masa sebelum ia tidak sadar dan kritis pun, yang diingatnya adalah sholat.

Nenekku sepertinya sama seperti nenek lain kebanyakan, yang selalu menceritakan cerita yang itu-itu saja secara berulang-ulang,
Nenek berkata, ada seorang laki-laki yang menyukai dulu bernama Abu,
tetapi tak sampai menikah karena nenek tidak sreg,
Abu jarang sholat, walaupun nenek kagum dengan abu yang tidak menyentuh tangannya saat nonton bareng dulu,
Sepeninggal Nek Anang, Abu sempat melamar Nenek Ine tetapi beliau tolak dengan alasan ia masih merasa almarhum suaminya masih ada di hadapannya walaupun telah mendahuluinya,
yang kemudian Abu balas dengan pernyataan bahwa dirinya ibarat emas yang tak pernah berubah sedari dulu. (yang kemudian pernyataan tersebut melekat terus di benak Nenek)
Nenek bilang, Nenek memilih Nenek Anang karena ia agamanya bagus dan selalu menjaga sholat lima waktu.


Nenekku seorang yang blak-blakan dalam berbicara,
bukan seseorang yang baper terhadap perasaan orang lain dan tidak mudah tersinggung,
Nenekku seorang yang gigih,
beliau berjuang hingga akhirnya bisa memperbaiki nasib dengan bersekolah di Malang
Nenekku seorang yang cukup cerewet dan senang mengobrol,
Pada masa tuanya, ia tidak memakai alat bantu dengar sehingga terkadang sulit menangkap perkataan orang sekitar

Nenekku berpetuah padaku agar tidak hanya memiliki pacar satu saja,
agar kalau suatu saat si A berpaling,
maka masih ada si B,
tapi nek... ian satu pacar aja gak punya :( (oke skip bagian ini)

Nenekku selalu ingin untuk sholat di awal waktu,
beliau selalu ingin dibangunkan di awal waktu shubuh,
dan bertanya kapan adzan berkumandang,
entahlah, mungkin ia berpikir takut belum melaksanakan sholat sebelum ajal mendahuluinya.

Nenekku memiliki nafsu makan yang baik,
cemilan yang ia suka adalah yang manis dan ia tidak terlalu suka cemilan asin
favorit nenekku adalah rasa keju,
malah aku pernah rebutan richeese dan martabak dengan nenek,
ah.. lucu juga kalau diingat.

Nenekku seorang yang hidupnya sehat,
ia tidak memiliki masalah kesehatan yang berat di masa tuanya,
ia meminum banyak air putih setiap harinya,
mungkin itu menjadi salah satu alasan mengapa ia panjang umur hingga 86 tahun

Nenekku selalu bertanya-tanya kapan ia akan pergi,
cita-citanya ingin mati dalam keadaan khusnul khatimah,
nenek hanya ingin seluruh dosanya telah diampuni oleh Allah SWT,
beliau berkata tidak ingin hidup hingga 90 atau 100 tahun.
Nenek pun berwasiat, ia tidak ingin ada tahlilan jika ia mati,
karena ia berkata hal tersebut adalah bid'ah.

Selamat jalan, Nenekku,
tak ada lagi orang yang selalu bertanya kapan adzan akan berkumandang,
tak ada lagi pasang popok secara bergiliran antara aku dan saudara-saudaraku pada malam hari,
tak ada lagi orang yang selalu menyanyikan nyanyian khas setiap hari,
aku hanya bisa berdoa agar kuburmu dilapangkan, dosamu diampuni dan amal ibadahmu diterima oleh Allah,
semoga Nenek bisa bertemu dengan Allah di surgaNya kelak,
aamiin.