Tampilkan postingan dengan label riba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label riba. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Mei 2018

Bank syariah atau riba?

Disclaimer dulu sebelumnya:
Gw gak kerja di bank syariah ataupun lembaga keuangan syariah lain, gw cuma lulusan S1 ilmu ekonomi syariah di ipb angkatan 48 (lulusnya tahun 2015). Gw juga gak berniat memojokkan orang yang kerja di lembaga keuangan konvensional, karena tugas gw cuma menyampaikan dan ngasih tau apa yang benar dan salah. Bukan untuk ngatur-ngatur hidup orang lain 😊.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan gw, biasanya orang yang skeptis sama bank syariah itu terbagi dua, (1) orang yang (maaf) kurang islami dan jadi mikirnya "yaudahlah sama aja, emang apanya yang beda" dan berakhir di bank konvensional, atau (2) orang yang islami banget dan nganggep bagi hasil bank syariah pun sama aja haram, jadi mikirnya ya gapapa nabung aja di bank konvensional asal ga ambil bunganya, juga gak mau ambil kredit bank syariah karena ragu sama kehalalannya.

Well, gw akui gw sendiri pake kok atm bank konvensional, tapi sekadar untuk 'transaksi' ya bukan untuk 'menabung'. Setiap rekening gw saldonya sekian ya langsung gw transfer ke rekening bank syariah gw, gw punya 2 atm bank syariah yang tujuannya menabung. Gw pake hanya untuk kemudahan orang transfer karena ga bisa dipungkiri semua kebanyakan masih pake atm bank konvensional. Sebenernya sama aja sih prinsip gw ini kayak lembaga zakat gitu yang masih pake bank konvensional, hanya untuk kemudahan, dan gak makan bunganya, yang pun jauhh lebih rendah dari biaya admin bulanan banknya.

Terus ceritanya kemaren gw naik taxi online pulang dari mall di Jakarta bareng sepupu gw. Nah driver mobilnya kepo jadi dia nanya, "Saya kira pulang pengajian Mba, bajunya kayak jamaah mamah dedeh nih jangan-jangan."

Panjang lah ya gw juga lupa dia ngomong apa aja terus dia nanya lagi, "Mba masih kuliah atau udah lulus?". Dan singkat cerita nyampe ke sepupu gw bilang kalo dia lulusan ekonomi syariah di Trisakti. Disini lah si bapak memulai nanya-nanya yang agak ngajak gw debat.

Bapaknya nanya "Wah kebetulan nih Mba, saya mau nanya, "ekonomi syariah" tuh maksudnya gimana ya?

Gw jawab, "ya sama aja pak kayak ekonomi biasa, bedanya ada yang dilarang dan ada yang diperbolehkan. Sebenernya menurut saya, ekonomi syariah itu baru bisa dipahami kalo beriman, karena ini tentang halal haram."

"Emang bunga sama keuntungan apa tuh Mba bedanya? Semisal saya kredit mobil 100jt terus bank dapat keuntungan 50jt. Itu apa bedanya berarti. Kan sama aja kan mba berarti sama bank biasa."

"Kalo margin itu dr akad murabahah ibarat saya minta tolong ke temen nih pak beliin minum, nah ada komisi keuntungan buat dia semisal 500, nanti bayarnya dicicil bulanan. Kalo bunga langsung dari pokok utangnya"

(panjang lah ya Bapaknya ngajak debat dan diakhiri kata "Bener ga?" ke gw tapi selalu gw jawab balik)

"Nah kalo gitu sama aja dong Mba berarti, bener ga?"

"Ngga sih pak beda, lebih ke konsep awalnya, kalo bank syariah itu patokannya ke nilai barangnya, tapi kalo bank konvensional itu dari value uangnya. Emang beda tipis pak tapi ya beda."

"Oh jadi beda tipis nih mba?"

"Ya iya pak sama aja kayak Bapak makan ayam, yang satu disembelih pake Bismillah yang satu lagi nggak. Sama-sama ayam kan Pak tapi yang satu halal dan satunya lagi haram."

...(dari sini pun Bapaknya udah mulai berhenti ngajak debatnya)

"Emang ayam kalo gak disembelih pake bismillah haram ya mba?"

"Ya iya pak. Kalo bank konvensional mah udah ibarat babi."

(Terus gw bilang potongan ayat al baqarah 275 saking semangat haha dan pembagian halal haram menurut fiqh.)

Terus bapaknya ketawa dan bilang, "Berarti mba bagus nih kuliahnya gak main-main ya ngerti ilmunya," dan gak ngajak debat lagi sampe ke akhir perjalanan.

Well, menurut gw sih, yang namanya perintah agama dan syariat halal dan haram itu gak selalu logis, tapi karena Tuhan kita emang memerintahkan demikian. Dan bagi sebagian orang lain yang gak beriman, ya akan memandang aneh karena tidak masuk logika mereka. Dan itulah agama, banyak aturan yang tidak logis, karena logika manusia itu terbatas, Dia lebih tau.

Jumat, 09 Oktober 2015

Idealisme Syariah Pasca Kampus

Disclaimer: 
Tulisan ini ditulis oleh seorang fresh-graduate dari Ilmu Ekonomi Syariah IPB yang baru saja wisuda awal September 2015. Tulisan ini hanya merupakan pendapat dan pemikiran penulis saja, tidak bermaksud menghakimi atau mengatur pilihan orang lain. Hanya sekedar sharing pendapat dan tidak memaksa orang lain untuk sependapat :)

Semasa saya kuliah, terutama pada tingkat 2 hingga tingkat 3, saya sangat aktif berorganisasi pada Himpunan Mahasiswa Ekonomi Syariah, yang bernama Sharia Economics Student Club (SES-C), bahkan saya juga lumayan aktif pada lingkup regional Jabodetabek sebagai staff ahli di bidang Litbang FoSSEI (Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam). Semasa kuliah, baik pada saat mendengarkan kuliah dosen maupun di luar kelas, idealisme saya sebagai mahasiswa ekonomi syariah terhitung lumayan. Tidak pernah terbayangkan rasanya saya akan mengkhianati idealisme yang telah saya bangun semasa kuliah.

Saya pun berpikiran demikian pada teman-teman maupun kolega di sekitar saya. Saya berpikir, dengan pendidikan yang telah kita tempuh selama itu, masa sih mereka tega untuk mengkhianatinya selepas lulus dan berakhirnya masa studi?

Pandangan saya pun berubah total setelah saya melepas status mahasiswa saya. Saya juga dapat dikatakan lulus lebih awal dibandingkan teman-teman sekelas saya. Mungkin bagi para mahasiswa tingkat 2-3 yang belum merasakan perjuangan skripsi hingga akhir lalu perjuangan mencari pekerjaan ataupun beasiswa ataupun mencari suami, mereka belum mengetahui betul mengapa banyak orang-orang yang idealismenya semakin memudar pasca kampus. Mereka juga belum mengalami langsung bagaimana persaingan di dunia pasca kampus dalam mendapatkan pekerjaan idaman.

Awal-awal saat saya lulus idealisme saya masih terasa menggebu-gebu. Saya menolak untuk mendaftar semua lowongan kerja bank konvensional. Teman saya yang berseberangan mayor dengan saya, yaitu Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, mengatakan bahwa tidak masalah bekerja di bank konvensional, karena rejeki bisa datang dari mana saja. Saya langsung mengutarakan bahwa "Rejeki? Kalau sumber uang yang dihasilkan adalah dari riba yang notabene haram, maka itu bukanlah rejeki.. tetapi MUSIBAH."

Lama kelamaan, idealisme yang dulu terasa menggebu-gebu itu memudar. Pernah suatu kali saya tergoda untuk mendaftar internship di bank konvensional skala multi nasional. Saya bertanya pada beberapa kerabat saya tentang magang di bank ribawi. Jawaban mereka pun masih idealis. Saat itu saya merasa bersyukur bahwa lingkungan saya yang mengingatkan saya untuk tetap teguh pendirian pada pilihan untuk tidak bekerja di bank ribawi.

Mungkin bagi sebagian orang, bekerja di bank konvensional, menabung, melakukan kegiatan kredit rumah, serta meminjam uang pada bank ribawi tersebut adalah suatu hal yang lumrah karena biasa dilakukan oleh masyarakat. Tetapi jika saja kita tahu bahwa banyak ayat Al-Quran maupun Al-Hadits mengatakan bahwa riba jelas-jelas haram. "Memakan" uang riba adalah dosa yang amat berat, bahkan salah satu hadits mengatakan bahwa dosa riba yang paling kecil adalah sama seperti dosa berzina dengan ibu kandung sendiri. Naudzubillah. 

Sebagai orang muslim, mari kita gunakan analogi seperti ini.. kita semua tau kan bahwa daging babi itu haram? Lalu jika kita adalah muslim yang taat dan normal, tentu kita akan merasa jijik kan memakan daging babi? Nah, sama halnya dengan kita memakan uang riba, itupun haram. 

Sejujurnya ada sedikit rasa sedih saat teman saya yang berkata "Ah bank syariah juga sama aja sebenernya sama bank konvensional kan", apalagi jika yang mengatakan hal tersebut adalah orang yang pernah belajar ekonomi syariah dan tau hukumnya. Saya pun menjawab bahwa jelas berbeda, karena pada bank syariah masih ada Dewan Pengawas Syariah yang mengontrol aktivitas bank agar tetap patuh pada prinsip syariah. Konsep yang ditawarkan pada syariah pun berbeda dengan konvensional. Sistem ekonomi syariah, termasuk perbankan, merupakan sistem yang harus dipahami dengan iman kepada Allah SWT. Mengapa demikian? Karena jika kita tidak percaya pada hukum Allah SWT yang mengatakan dengan tegas bahwa maysir, gharar, maupun riba adalah haram hukumnya, maka penjelasan macam apapun akan menjadi percuma untuk mereka yang memang dasarnya tidak percaya.

Sebagian besar kolega saya yang lain masih idealis untuk menolak berkarir di lembaga keuangan konvensional. Perlahan, saya menjadi lebih toleran terhadap teman atau orang lain yang (padahal) saat mahasiswa menggeluti kegiatan ekonomi syariah tetapi bekerja pada bank ataupun lembaga keuangan lain yang konvensional/non syariah. Saya sangat mengerti sekali mengapa banyak orang yang tidak lagi seidealis dulu. Alasan-alasan yang mereka utarakan pun juga saya pun merasakannya. Walaupun demikian, saya berusaha untuk "keras" terhadap diri sendiri dan tetap teguh pendirian untuk tetap bertahan.

Berikut adalah alasan-alasan yang sering saya dengar jika (yang dulunya) aktivis ekonomi syariah. ataupun orang muslim yang telah mengetahui bahwa riba itu haram tetapi tetap memilih untuk berkarir di bank konvensional:
1.  "Namanya juga masih fresh graduate, wajar lah pekerjaan apapun diambil. Yang penting kan niatnya aja."
2.  "Cari kerja kan sekarang susah, lagian kerja di bank kan lumrah-lumrah aja. Daripada jadi pengangguran. Jangan terlalu pemilih lah dalam cari pekerjaan."
3.   "Gaji di bank syariah itu kan kecil, mending kerja di bank konven aja sih kalo gitu mah yang gajinya jauh lebih gede."
4.   "Ah bank syariah juga gak murni syariah kok, mirip-mirip aja sama bank konvensional"
5.   "Bank Syariah sama Bank Konven yang penting mah bayar zakat aja"
6.   "Gapapa untuk sementara ini kerja di konven dulu buat tambah pengalaman, nanti abis itu karir setelahnya tetep di syariah."


Finally, menurut gw, hidup ini bukan sekedar tentang mencari uang dan bekerja, tetapi tentang mempertahankan apa yang kita yakini sebagai kebenaran. Dan jawaban tentang pilihan itu tetap adanya dalam hati. Jika hatimu memang berkata bahwa kerja tersebut tidak masalah, ya lakukan saja. Tapi jika dalam hatimu kau ragu-ragu dan merasa janggal dalam hati, tetaplah pada pendirian tersebut. Bismillah, semoga Allah mempermudah saya mempertahankan apa yang saya yakini.