Jumat, 09 Oktober 2015

Idealisme Syariah Pasca Kampus

Disclaimer: 
Tulisan ini ditulis oleh seorang fresh-graduate dari Ilmu Ekonomi Syariah IPB yang baru saja wisuda awal September 2015. Tulisan ini hanya merupakan pendapat dan pemikiran penulis saja, tidak bermaksud menghakimi atau mengatur pilihan orang lain. Hanya sekedar sharing pendapat dan tidak memaksa orang lain untuk sependapat :)

Semasa saya kuliah, terutama pada tingkat 2 hingga tingkat 3, saya sangat aktif berorganisasi pada Himpunan Mahasiswa Ekonomi Syariah, yang bernama Sharia Economics Student Club (SES-C), bahkan saya juga lumayan aktif pada lingkup regional Jabodetabek sebagai staff ahli di bidang Litbang FoSSEI (Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam). Semasa kuliah, baik pada saat mendengarkan kuliah dosen maupun di luar kelas, idealisme saya sebagai mahasiswa ekonomi syariah terhitung lumayan. Tidak pernah terbayangkan rasanya saya akan mengkhianati idealisme yang telah saya bangun semasa kuliah.

Saya pun berpikiran demikian pada teman-teman maupun kolega di sekitar saya. Saya berpikir, dengan pendidikan yang telah kita tempuh selama itu, masa sih mereka tega untuk mengkhianatinya selepas lulus dan berakhirnya masa studi?

Pandangan saya pun berubah total setelah saya melepas status mahasiswa saya. Saya juga dapat dikatakan lulus lebih awal dibandingkan teman-teman sekelas saya. Mungkin bagi para mahasiswa tingkat 2-3 yang belum merasakan perjuangan skripsi hingga akhir lalu perjuangan mencari pekerjaan ataupun beasiswa ataupun mencari suami, mereka belum mengetahui betul mengapa banyak orang-orang yang idealismenya semakin memudar pasca kampus. Mereka juga belum mengalami langsung bagaimana persaingan di dunia pasca kampus dalam mendapatkan pekerjaan idaman.

Awal-awal saat saya lulus idealisme saya masih terasa menggebu-gebu. Saya menolak untuk mendaftar semua lowongan kerja bank konvensional. Teman saya yang berseberangan mayor dengan saya, yaitu Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, mengatakan bahwa tidak masalah bekerja di bank konvensional, karena rejeki bisa datang dari mana saja. Saya langsung mengutarakan bahwa "Rejeki? Kalau sumber uang yang dihasilkan adalah dari riba yang notabene haram, maka itu bukanlah rejeki.. tetapi MUSIBAH."

Lama kelamaan, idealisme yang dulu terasa menggebu-gebu itu memudar. Pernah suatu kali saya tergoda untuk mendaftar internship di bank konvensional skala multi nasional. Saya bertanya pada beberapa kerabat saya tentang magang di bank ribawi. Jawaban mereka pun masih idealis. Saat itu saya merasa bersyukur bahwa lingkungan saya yang mengingatkan saya untuk tetap teguh pendirian pada pilihan untuk tidak bekerja di bank ribawi.

Mungkin bagi sebagian orang, bekerja di bank konvensional, menabung, melakukan kegiatan kredit rumah, serta meminjam uang pada bank ribawi tersebut adalah suatu hal yang lumrah karena biasa dilakukan oleh masyarakat. Tetapi jika saja kita tahu bahwa banyak ayat Al-Quran maupun Al-Hadits mengatakan bahwa riba jelas-jelas haram. "Memakan" uang riba adalah dosa yang amat berat, bahkan salah satu hadits mengatakan bahwa dosa riba yang paling kecil adalah sama seperti dosa berzina dengan ibu kandung sendiri. Naudzubillah. 

Sebagai orang muslim, mari kita gunakan analogi seperti ini.. kita semua tau kan bahwa daging babi itu haram? Lalu jika kita adalah muslim yang taat dan normal, tentu kita akan merasa jijik kan memakan daging babi? Nah, sama halnya dengan kita memakan uang riba, itupun haram. 

Sejujurnya ada sedikit rasa sedih saat teman saya yang berkata "Ah bank syariah juga sama aja sebenernya sama bank konvensional kan", apalagi jika yang mengatakan hal tersebut adalah orang yang pernah belajar ekonomi syariah dan tau hukumnya. Saya pun menjawab bahwa jelas berbeda, karena pada bank syariah masih ada Dewan Pengawas Syariah yang mengontrol aktivitas bank agar tetap patuh pada prinsip syariah. Konsep yang ditawarkan pada syariah pun berbeda dengan konvensional. Sistem ekonomi syariah, termasuk perbankan, merupakan sistem yang harus dipahami dengan iman kepada Allah SWT. Mengapa demikian? Karena jika kita tidak percaya pada hukum Allah SWT yang mengatakan dengan tegas bahwa maysir, gharar, maupun riba adalah haram hukumnya, maka penjelasan macam apapun akan menjadi percuma untuk mereka yang memang dasarnya tidak percaya.

Sebagian besar kolega saya yang lain masih idealis untuk menolak berkarir di lembaga keuangan konvensional. Perlahan, saya menjadi lebih toleran terhadap teman atau orang lain yang (padahal) saat mahasiswa menggeluti kegiatan ekonomi syariah tetapi bekerja pada bank ataupun lembaga keuangan lain yang konvensional/non syariah. Saya sangat mengerti sekali mengapa banyak orang yang tidak lagi seidealis dulu. Alasan-alasan yang mereka utarakan pun juga saya pun merasakannya. Walaupun demikian, saya berusaha untuk "keras" terhadap diri sendiri dan tetap teguh pendirian untuk tetap bertahan.

Berikut adalah alasan-alasan yang sering saya dengar jika (yang dulunya) aktivis ekonomi syariah. ataupun orang muslim yang telah mengetahui bahwa riba itu haram tetapi tetap memilih untuk berkarir di bank konvensional:
1.  "Namanya juga masih fresh graduate, wajar lah pekerjaan apapun diambil. Yang penting kan niatnya aja."
2.  "Cari kerja kan sekarang susah, lagian kerja di bank kan lumrah-lumrah aja. Daripada jadi pengangguran. Jangan terlalu pemilih lah dalam cari pekerjaan."
3.   "Gaji di bank syariah itu kan kecil, mending kerja di bank konven aja sih kalo gitu mah yang gajinya jauh lebih gede."
4.   "Ah bank syariah juga gak murni syariah kok, mirip-mirip aja sama bank konvensional"
5.   "Bank Syariah sama Bank Konven yang penting mah bayar zakat aja"
6.   "Gapapa untuk sementara ini kerja di konven dulu buat tambah pengalaman, nanti abis itu karir setelahnya tetep di syariah."


Finally, menurut gw, hidup ini bukan sekedar tentang mencari uang dan bekerja, tetapi tentang mempertahankan apa yang kita yakini sebagai kebenaran. Dan jawaban tentang pilihan itu tetap adanya dalam hati. Jika hatimu memang berkata bahwa kerja tersebut tidak masalah, ya lakukan saja. Tapi jika dalam hatimu kau ragu-ragu dan merasa janggal dalam hati, tetaplah pada pendirian tersebut. Bismillah, semoga Allah mempermudah saya mempertahankan apa yang saya yakini.

Rabu, 08 Juli 2015

STOP MEROKOK (DI SEKITAR SAYA)

Saya seorang perempuan berumur 21 tahun yang tinggal di Bogor, Indonesia dari lahir hingga sekarang. Saya tinggal di keluarga maupun lingkungan yang kebanyakan perokok. Saya mengidap penyakit asma dan alergi debu (rhinitis) pada saluran pernafasan saya. Ya, asma saya memang tidak secara langsung dipengaruhi oleh "polusi" udara. Penyakit asma yang saya miliki adalah alergi terhadap pengawet dan penyedap rasa pada makanan. Tetapi, menghirup asap rokok juga tak jarang membuat saya sesak nafas dan alergi debu saya kambuh. Bersin-bersin dan berujung pada flu berkepanjangan. 
Dear para perokok, saya tidak tertarik dengan betapa enaknya menghisap rokok bagi kalian dan saya pun sama sekali tidak berminat untuk menyicipi rasa merokok tersebut. Walau saya berkeyakinan bahwa rokok memang haram dan memiliki lebih banyak mudharat daripada manfaat, tetapi saya tidak masalah dan tidak ikut campur dengan kebiasaan kalian merokok JIKA TIDAK MEROKOK DI SEKITAR SAYA. Bahkan jika kalian anggap itu masih berjarak jauh dari saya, menurut saya bau asap tersebut masih tercium karena hidung saya sangat sensitif.
Berikut adalah alasan mengapa para perokok tidak berhak merokok di tempat umum, terutama di dekat saya:
  1. Orang lain berhak menghirup udara segar. 
  2. Saya TIDAK SUDI asap rokok tersebut masuk ke paru-paru saya.
  3. Orang lain yang berada di dekat anda belum tentu memiliki kondisi kesehatan yang prima, anda tidak tahu kan kalau saja orang yang terkena asap rokok anda itu adalah pengidap asma, ISPA, dll?
  4. Apa anda yakin bahwa anda tidak mengganggu orang lain? Saya sangat kesal dengan orang yang percaya diri mengatakan bahwa asap merokok mereka tidak mengganggu dan ingin dimaklumi oleh orang yang tidak merokok dan ingin menghirup udara bersih serta segar. Jangan tanyakan pada diri anda sendiri apakah rokok tersebut mengganggu atau tidak, tanyakan pada orang sekitar anda. Kalau saya yang ditanyakan sih ya saya jawab jujur, JELAS MENGGANGGU.
  5. Apa anda tidak sayang dengan tubuh anda sendiri? Benda bernama rokok yang anda hisap hanya mengandung zat berbahaya. Belum pernah saya dengar orang yang memiliki kebiasaan merokok menjadi lebih sehat daripada sebelumnya saat dia tidak merokok.
  6. Merokok sama saja membakar uang anda sendiri. Sudahlah, akui saja.. sebagian budget anda dialokasikan untuk merokok kan.
  7. Beberapa perokok yang ngeyel jika dinasehati dan diperingatkan untuk merokok sering mengatakan bahwa "merokok bisa saja sakit, tidak merokok belum tentu sakit". Dalam mengambil kesimpulan, janganlah berpatokan pada data pencilan/outlier. 
  8. Perokok yang ngeyel dan sering ngotot untuk merokok dimanapun dia mau walaupun banyak anak-anak dan orang-orang yang memiliki penyakit pernapasan juga ada yang mengatakan bahwa seharusnya orang lain memaklumi dia, menganggap lumrah, dan membiasakan diri menghirup asap rokok. Ini adalah perokok yang paling menjengkelkan bagi saya. Saya adalah korban, kenapa saya yang harus mengalah? Saya berhak menghirup udara segar, kenapa saya yang harus memaklumi? Dia yang mengganggu, kenapa orang lain yang harus bersabar?
  9. Ada lagi alasan ngeyel bahwa rokok (katanya) memiliki manfaat. Walaupun menurut sebagian orang ngeyel rokok memiliki manfaat, tetapi tentu saja LEBIH BANYAK MUDHARATNYA. Bukankah kaidah agama sangat jelas? Bahwa hal yang lebih banyak mudharat daripada manfaat harus ditinggalkan.
  10. (bakal ditambah)
Kalau memang tidak bisa berenti merokok, minimal jangan ganggu dan mengajak-ngajak orang lain untuk menghirup asap rokok anda. Saya sebagai penderita penyakit asma dan rhinitis merasa sangat terganggu dengan asap rokok. Saya berhak untuk menghirup udara bersih dan segar. Saya pun tidak sudi membiarkan asap tersebut masuk ke paru-paru saya.