Sabtu, 31 Desember 2016

Ketika aku gagal dan ingin bangkit

Dulu, saat kegagalan yang begitu menohok itu, gagal LPDP 2 kali,
dunia serasa runtuh,
ragaku seperti dihempas badai,
jiwaku seperti hilang,
mimpiku menguap dan berdifusi pada angin
masa depanku seperti hilang

Aku merasa seperti produk gagal, mengapa aku gagal dua kali? Apa memang aku tak pantas? Apa memang ini hukuman untukku? YaAllah dari sekian banyak orang lain berhasil mengapa aku digagalkan. Mengapa aku sebodoh itu untuk sesuatu yang sangat mudah didapatkan orang lain?

Aku berusaha kuat. Aku berusaha tegar. Aku menutup diriku dari keramaian. Aku malu yaAllah. Aku tak ingin orang lain tau dan meremehkan aku. Aku yang biasanya tak tahan untuk bicara dengan sifat keterbukaanku tak ingin membaginya pada siapapun. Aku block, unfollow, dan hapus semua keyword "LPDP" agar aku lupa dan move on dari semua kesedihan itu. Aku jalani hari demi hari dengan (berusaha) sabar. Aku browsing segala blog untuk membangkitkan semangatku. Mencari-cari barangkali ada yang senasib denganku, dan dengan cara itu aku menghibur diriku sendiri.
Dua sampai bahkan tiga bulan hatiku masih sangat terasa sakit saat melihat awardee LPDP di social media, mendengar kata LPDP, dan bahasan apapun tentang LPDP. Aku bahkan uninstall Path untuk move on.

Hari demi hari ku jalani dengan penuh kesedihan. Dalam hati aku bersyukur walaupun sakit sekali dan merasa bahwa dunia tidak adil, tetapi aku mendapat kepastian, dan yang jelas aku tidak berharap pada angan semu lagi. Aku jalani hari demi hari dengan melankolis. Aku pelan-pelan membenahi semuanya. Sempat sih aku masih berharap pada beasiswa ketiga yang aku daftar, tapi penolakan ketiga tidak begitu terasa sakit apa-apa. Sepertinya aku sudah mulai kebal terhadap penolakan. Walau ya.. tetal ada rasa nyess dan sakit sih dalam hati.

Batinku bersyukur.. Alhamdulillah yaAllah..  Kau menjadikan aku lebih kuat dengan dua kali kegagalan. Kau memberikan aku takdir yang lebih indah.

Setelah mendapatkan kepastian, kujalani hidup dengan usaha penuh untuk sabar, setiap hari aku memaksa diri menjadi kasir di toko milik orang tuaku dan diberi upah. Mencoba melamar kerja tapi aku menyadari bahwa semangatku bukan disana, bukan pada karir dunia kerja kantoran yang dikejar orang-orang lain.

Aku mencoba mengeluarkan modal pada sisa-sisa tabungan yang aku punya. Dalam hati aku sedih dan takut, yaAllah bahkan stok dagang aku sebelumnya aja dalam waktu tiga bulan masih lumayan bersisa. Bagaimana sekarang? Dimana masa depanku yaAllah. Apa aku sanggup sejahtera dengan cara berbeda dari sekelilingku? Apa aku bisa memiliki penghasilan seperti pegawai-pegawai kantoran itu?

Hatiku masih sakit. Bahkan melihat quote di krl saja air mataku menetes. Aku sampai malu dengan orang yang melihatku menangis. Hatiku berkata, "YaAllah mengapa hidupku jadi seperti ini,  apa masa depan indah itu masih layak untukku?".

Atas dasar kuasa dan pertolongan Allah, walau usahaku baru berjalan hitungan bulan. Dan itu semua tidak mulus, terjal jalan yang ku lalui. Sendiri aku jalani itu semua. Dengan modal keberanian, kepasrahan, bahkan bisa dibilang nekat dengan resiko sangat tinggi.. Aku sekarang berada di titik ini. Tak perlulah aku besar-besarkan dan umbar. Karena ya memang, tak ada yang bisa diumbar. Bismillah.. Permudahlah yaAllah..

-ian yang sekarang sudah merasa hidup sekarang sudah jauh terasa lebih baik

Sabtu, 01 Oktober 2016

My Business Journey

Mumpung weekend, gw pengen nulis tentang perjalanan gw hingga akhirnya gw begini. Akhir-akhir ini, sejak 1.5-2 bulan terakhir, gw disibukkan dengan berdagang online. Bagi sebagian orang mungkin bertanya-tanya, kok sibuk? Kan kalo jualan online santai-santai aja. Iya, bisa santai.. tapi nanti dagangannya gak keurus, pesenan orang terbengkalai. Awalnya mungkin kayak sepi gitu nunggu orderan, bisa sambil jaga kasir di toko orang tua. Tapi lama kelamaan jadi capek harus banyak yang diurus, bolak balik beli kain, bolak balik ke jne, bolak balik ke konveksi, belum lagi bales-balesin chat.

Mau cerita dari asal mula gw jualan. Jadi, dulu jaman gw kuliah TPB (Tingkat Persiapan Bersama, tingkat satu) sampe sekitar semester 4 lah, gw itu sukaaaaa banget belanja baju. Apalagi gw lagi seneng beli rok. Dan gw emang suka jalan-jalan. Memang dasarnya gw itu BPJS (Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita), gw pun senang membeli barang-barang yang diskonan di dept store (alias yang di bak, bukan di gantungan), seneng ubek-ubek pasar sampe nemu toko yang jual barang-barang lucu di antara barang-barang massive production di pasar. Selama gw ubek-ubek pasaran, kok rasanya susah ya nemu produk yang bener-bener kena ke hati dengan harga yang standar/murah? 

Terus tau-tau gw lihat ibu pake mesin jahit buat jelujur kain di rumah, dan mesin jahit ini gampang digunainnya karena tinggal pencet tombol bukan diinjek gitu. Gw pun minta ajarin ibu gimana cara pakai mesin jahit itu, tapi ibu kan sibuk di toko dan kalopun dia di rumah dia kayak ogah-ogahan ngajarin gw. Akhirnya, dengan kepo gw sotoy aja pake mesin jahit itu coba-coba. Dan hasilnyaa.... rusak dan emak gw marah-marah. HAHA keluar uang 150ribu kata ibu buat betulinnya. Yaudah habis itu gw diajarin cara pakai mesin jait yang benar, dan hasil jahitan gw berantakan x)).

Sebelum itu, gw cari-cari kain, tadinya gw ke pasar bogor, tapi setelah itu gw gak puas euy saya kain-kainnya. Yaudah akhirnya ajak ibu ke Cahaya Textile di Pasar Anyar. Gw cuma beli 1m buat percobaan jahit aja, coba gw masih nyimpen ya rok jahitan pertama gw yang (bisa disebut) rapih (untuk ukuran newbie). Lalu gw cari-cari di google bagusnya beli kain itu dimana, dan akhirnya gw beli kain di sebuah toko katun yang cukup terkenal di google. Gw biasanya pilih-pilih lamaa banget bisa 2 jam di toko itu. Dan cuma beli 1m buat beberapa motif kain. Masih cukup dijadiin rok karena abang-abang yang potongnya kan suka kepanjangan. Tadinya gw kepengen semua motif-motif lucu itu buat gw semua ajaa kan lumayan bisa punya banyak rok baruuu dengan harga ekonomis karena gw sendiri yang jahit. Tapi ternyata gw lumayan kalap jadi mahal.

Gw pun akhirnya mencoba jual-jualin roknya. Dengan jahitan sederhana dari gw, dan tadinya gw beli karet cuma meteran lho belum roll-an. Sharing dari gw, kalo ada yang minat jualan tapi mikirin dimana beli yang murah, menurut gw sih ya jalani aja dulu dengan modal bahan baku yang mahal, seiring berjalannya waktu, nanti pasti nemu deh dimana sela-selanya dan bisa membuat produk dengan lebih efisien dan murah kalau sudah lebih banyak produksi dan penjualannya (economics of scale).

Setelah beberapa kali restock gw jahit sendiri, ayah bilang ngapain gw harus jahit-jahit, mending kasih aja kainnya ke Pak Maman (penjait vermak lepis deket rumah) dan gw tinggal kuliah aja nanti gw jualin. Akhirnya gw pun bisa jual lebih banyak. Gw lupa berapa kali persisnya gw buka PO dan jual-jualin rok-rok itu, yang akhirnya juga merambah ke jualan dress lekbong (tanpa lengan). Sampai terakhir sebelum gw ingin fokus skripsian aja, gw buka PO apa aja warna yang orang-orang pengen dan gw tinggal kasih-kasih barangnya ke mereka setelah jadi. Dan gw ambil untung gak besar kok, paling sekitar 45-60% aja dari modal (bahkan sampai sekarang). Banyak brand-brand lokal baru yang kalo ambil untung gw lihat sampe 100-250%. Faktor branding juga kali ya.

Setelah gw berjualan selama kuliah itu, tabungan gw bisa melejit sampe sekitar 10juta isinya (Alhamdulillah). Dan dasaran gw masih berjiwa muda yang mikirnya masih pendek, gw beli gadget karena gw penasaran pengen beli kamera Samsung Mirrorless NX3000 dan saldo gw pun langsung terpangkas setengahnya. Hahaha. Tapi alhamdulillahnya kepake banget sih kamera coklatku itu sampai sekarang :"") buat foto-fotoin produk, karena kamera HP gw walau 8MP tapi terbatas dan gak secanggih kamera (ya kamera gw juga gak canggih-canggih amat sih dibanding kamera-kamera mahal sebenernya mah).

Gw pun susah multitasking dan saat itu yang ada di otak gw, gw ingin fokus skripsi biar cepat lulus dan wisuda, jadi gw tinggalkan lah bisnis itu. Setelah lulus, gw seperti kehilangan arah. Terus terang, terlahir di keluarga ini, gw gak melihat ada figur orang yang sukses di karir, orang tua gw punya usaha sendiri aja untuk makan dan hidup kami. Gw sering bantu-bantu jadi kasir dan mengoperasikan program kasir komputer sudah dari jaman kelas 2 SD (bahkan kelas 1 SD). Aktivitas bisnis bukanlah hal yang benar-benar baru buat gw.

Setelah lulus, gw pun coba jualan lagi, sekitar hampir 4juta lah gw ngemodal. Tapi gagal dan gw rugi, karena gw banyak gaya, dan sangat awam serta kurang pengetahuan gw tentang cara membuat baju yang bagus dan yang baik. Gw pun gak semangat, coba cari-cari kerja, jadi pengangguran ga jelas di rumah, ditolak-tolakin wawancara sampai bulan November tanggal 30 gw lelah cari-cari kerja eh tau-taunya gw ditawarin Kak Nadilla (kakak ini baik banget deh, makasih ya kak, selama perjalanan gw, kayaknya sering banget dibantu sama Kak Nadilla) buat kerja di sebuah lembaga pemerintah penyedia asuransi kesehatan (you know what lah) sebagai karyawan kontrak cuma satu bulan. Ya karena gw adalah orang yang suka tantangan, dan suka sesuatu yang exciting dan membuat otak gw terus berpikir, gw kurang betah dan gak ngerasa cocok dengan tugas administratif. Hehehe.

Setelah itu, batin gw pun terusik, gw kan pengen buat kuliah S2 ke LN pake beasiswa yang lagi happening sejagad Indonesia itu. Gw urus segala dokumen-dokumen dan setelah tes ielts gw mendapatkan LoA Unconditional (surat masuk tanpa syarat) ke MSc Islamic Finance Durham University. Dan takdir ternyata belum mengijinkan gw untuk berangkat (dan karena gw masih fresh graduate lugu yang masih 'hijau' juga, yang jelas banyaaaak hikmah dan pelajaran yang gw ambil dari ini, walau terasa sakit). Gw janji pasti cerita soal penolakan beasiswa 2x yang membuat gw gak bisa apply lagi akan gw ceritakan, tapi bukan sekarang. Belum mood dan gw belum ingin membagi soal itu disini. Even an extroverted person like me need a space for myself, too. 

Penolakan kedua itu membuat gw sangaaaaaaaaaaaat down, merasa itu titik terendah hidup gw, merasa cita-cita gw hancur, merasa gw produk gagal, orang bodoh, dan orang terbuang. Gw mulai pelan-pelan coba-coba cari kerja tapi gw gak semangat, dan bahkan untuk tes kerja yang sebenarnya mudah buat gw, gw gak lolos. Akhirnya gw lelah, dan gw putuskan... untuk meneruskan yang sebelumnya belum serius gw perjuangkan. Gw gak bener-bener bisa bilang kalo ini "passion", tapi semangat terdalam gw saat gw beraktivitas, dan ngobrol, dan semua-muanya itu di bisnis dan wirausaha. Gw hanyalah remah gorengan di antara wirausahawan hebat, tapi gw yakin kalau gw bisa mengarungi ini semua. 

Gw menjalani @bytwin.ian dengan pelan-pelan dan single fighter, sendirian, tanpa partner. Yang awalnya nama olshopnya super culun karena gak kreatif ngasih nama, akhirnya gw ganti sampai ke @bytwin.ian. Teringat salah satu teman bilang "gak mau nikah? bisnis bareng suami kan seru". Hmmm, bisnis gak harus nunggu apapun kalau mau mulai, jalani aja dari sekarang kalau memang niat, bukan nunggu-nunggu terus. Atau ada aja orang yang nanya, "gak mau kerja aja, lowongan x lagi buka nih". Bukannya gak mau kerja sih, tapi gw udah lelah dengan penolakan kerja. Hahaha. Dan bisnis ini susaaaaaah banget buat disambi. Bahkan bisa dibilang hampir gak mungkin. Kecuali sebagai dropshipper, jadi tim marketing aja. Selain itu, gw emang gak betah dengan jam kerja nine to five dan gw orang yang cepat bosan untuk urusan kerjaan. Kalo ada yang tanya, enakan bisnis atau kerja aja? Ya bagi gw yang karakternya begini, ya jelas enakan bisnis. Tapi bagi orang lain? Gw gak tau.

Bisnis ini membuat gw harus menjadi wanita tangguh, dari mulai awalnya angkut-angkut barang sendiri dari Tanah Abang ke stasiunnya, sampai pakai porter, dibantu saudara kembar gw, Ani, atau dia jadi model buat baju jualan gw *LOL*, terus harus bawa 70pcs baju di karung pake motor, nyetir sendiri ke Tanah Abang, hujan-hujanan di motor setelah beli kain. Alhamdulillah, selama ini sepertinya Allah mudahkan, walau gak benar-benar mulus jalan gw. Gw masih terus belajar dari kesalahan, dari komplain pembeli, dan dari apa yang gw rasa kurang ketika pakai produk gw sendiri. Dan dari itu semua gw belajar, ternyata memang harga bersaing yang orang cari, tetapi kualitas lah yang membuat konsumen menjadi loyal dan senang terhadap barang kita. Hidup gw sekarang terasa sangat "susah" dan merasa "miskin", setiap ada uang lebih, gw kepikiran harus bayar jahitan, harus bayar beli kain nanti, dll.

Gw juga jadi dipertemukan dengan orang-orang yang mau berbagi dan membuat pengetahuan gw tentang bisnis pakaian makin bertambah. Rasanya gw bersyukur, memang ini bukanlah hal yang awalnya gw inginkan, tapi gw merasa senang bisa menyelami aktivitas ini. Dapat pengetahuan baru dari mulai dari kurir, supplier kain, konveksi, kakak kelas, orang tua, penjahit, pembeli yang bersemangat, serta dropshipper gw yang membuat gw lebih terpacu untuk melawan rasa malas dan terkadang jenuh. Walau sementara ini sering terlintas dan mengganjal pikiran, apa yang akan gw lakukan kalo bisnis gw ini semakin besar dan gw ingin meneruskan cita-cita untuk S2 ke LN? Bismillah, jalani aja dulu, Tuhan yang akan jawab.

Kamis, 08 September 2016

Lelah Jadi Manusia Kembar

Pengen nulis tulisan yang gak terlalu serius sekarang. Seperti yang orang-orang ketahui, gw adalah manusia yang ditakdirkan terlahir kembar identik. Gak terhitung ya berapa kali orang salah manggil sampe takjub denger suara gw sama Ani (kembaran gw) yang bahkan kata mereka sama. Walaupun kalo adik-adik dan orang tua gw sih tau biarpun kadang salah. Bingung sih sebenernya umur udah 22 tahun tapi tetep aja masih suka ditanya-tanya tentang kekembaran gw sama orang di angkutan umum, dimana-mana dll. Padahal kalo gw liat sih muka gw sama dia kan beda, beda banget malahan, jelas cantikan gw. Sebelumnya gw pernah nulis sih tentang rasanya anak kembar juga, nih liat aja. Suka pada nanya gimana rasanya jadi orang kembar, nih gw ceritain deh:

1. Selalu mendapat pertanyaan template.
Kata temen gw yang kembar juga sih, yang nanya baru sekali yang ditanya udah ribuan kali. Bosan, malas, dan lelah aqu. Lagi ngobrol atau baru kenalan bahkan gak kenal tiba-tiba disamber pertanyaan, diantara lain:
"wah beda berapa menit?" 2 menit
"bedanya apa?" ya mana gw tau kan bagi gw sih beda, gatau menurut lu apa
"yang kakak yang mana?" ini yang lahir duluan (nunjuk diri sendiri)
"loh harusnya yang kakak yang lahir kedua dong kan dia yang mendorong si yang pertama duluan, kita sih orang jawa begitu" ye kok lu yang ngotot sih, gw yang kembar bukan lu, di akte kelahiran juga gw anak pertama, lagian gw bukan orang jawa. auk ah emosi
"kalo punya pacar ketuker ga tuh" sorry gw sih gak pacaran, kan kata ustadz haram *ciyegitu
"Namanya siapa?" ian sama ani
"Loh kok bukan ani dan ina?" Lah mana gw tau yang ngasih nama kan orang tua gw, ina mah nama adik sayah

Terus... buat ngehindarin ditanya pertanyaan membosankan dan sebenernya gaada manfaatnya juga, gw pun suka menyiasati dengan trik...

2. Jangan duduk di angkot sebelahan, mending berhadapan aja untuk menghindari orang kepo.
Biasanya sih, kalo di angkot duduk sebelahan, orang di kursi hadapan kita yang sedang bosan di perjalanan akan melihat kemiripan dan mulai mencari lima perbedaan yang ada pada wajah si kembar. Lalu biasanya mereka akan mulai menanyakan lagi pertanyaan-pertanyaan template tersebut.
 
3. Orang sering menganggap udah "mahir" membedakan padahal sih gw suka nyaut aja kalo dipanggil "Ani"
Karena keseringan dan males kalo segala harus "klarifikasi", gw dan Ani suka nyaut aja kalo orang salah manggil nama, ya daripada lama. Tapi kemudian orang-orang tersebut menganggap dirinya benar. Padahal sebenernya kalo gw dipanggil "Ani", males banget kalo gw selalu harus bilang "Ini ian bukan ani" capek ah mending langsung jawab aja Haha.
Pernah nih gw masih inget kejadiannya, pas kelas 2 SMA dulu gw baru pertama berhijab dan kerudung yang gw punya sedikit, beda sama si Ani yang udah pake kerudung sejak lama dan kerudung dia buat sekolah jauh lebih banyak daripada gw. Sewaktu-waktu kerudung gw abis dicuci semua dan gw bingung pake kerudung apa ke sekolah. (Coba aja ya pas jaman gw sma dulu ada kerudung anti tembem kayak sekarang, mungkin foto gw jaman SMA gak sememalukan sekarang. wkwkwk). 
Okay lanjut, pas gw bingung pake kerudung apa akhirnya gw pakai kerudung Ani. Baru jalan di koridor sekolah mau masuk pintu kelas pun orang-orang udah salah nyapa gw jadi "Ani" dan gw langsung bilang "ini Ian bukan Ani" dan semua pun langsung heboh -_-.
Dan gw kzlll zblll kalo gw dijulukin upin-ipin, kembar-kembir or whatever.

4. Dikira satu orang
Pernah nih ya gw main ke kosan Ani pas di Bandung. Gw kira temen-temen kosannya pada tau aja kan kalo dia kembar, taunya ternyata belum pada tau. Keluarlah gw dari kamar si ani buat ke kamar mandi. Lalu ada temannya yang nyapa, "eh Ani, potong rambut ya sekarang", gw pun jawab, "ini bukan Ani, ini kembarannya Ani namanya Ian". Gw mikirnya kan dia udah tau aja, ternyata karena si Ani sifatnya suka bercanda dia pun menyangka kalo Ani emang potong rambut dan gaya-gayaan bilang punya kembaran, dan dia bilang, (namanya Vira) "Oh, ini juga kembarannya Vira, namanya Viro". Sekitar beberapa waktu kemudian, Vira pun hendak meminjam sesuatu ke kamar Ani dan super kaget pas liat ternyata Ani emang kembar. LOL

Pas wisuda, si Ani cerita dia beberapa kali dikasih bunga dan dia sampe ngomong "ini bukan Ian" ke orang-orang katanya. Gw wisuda duluan sih bulan September, sedangkan dia Oktober. Berbekal pengalaman tersebut, saat arak-arakan wisuda di ITB gw menghindari memakai baju kebaya biar orang lain gak salah mengira. Ya awalnya sih pas gw ikut barisan sih fine-fine aja ya kan si Ani juga sebelah gw pake toga jadi apalah gw kan bukan wisudawati. Saat arak-arakan sudah sampai ujung, gw pun lelah dan memutuskan keluar dari barisan. Lalu... tiba-tiba gw dipeluk dan cipika-cipiki. Wkwkwkwk.

Ada lagi cerita sales di Toko orang tua baru aja kemaren bilang "kok saya ga pernah ketemu kembarannya sih selama saya jadi sales di toko ini", gw pun jawab, "yaeyalah emang Bapak nyadar  pas kembaran saya yang jadi kasir, kan Bapak liatnya sama aja kale mukanya".

Terus ada lagi cerita pas gw masih kecil, gw juga lupa berapa umur gw disitu. Ceritany gw sekeluarga lagi makan di KFC, lalu si Ani duluan minta tutup gelas pepsi ke kasir, dapetlah dia. Setelah Ani ke kasir, gw pun ke kasir lagi buat minta tutup juga, eh ternyata gak dikasih karena kata kasirnya "Loh gimana sih kan tadi udah, masa minta lagi", gw jawab "masa sih mbak, belum ah". Gw pun bete dan ngajak Ani ke kasir juga biar kasirnya tau kalo gw kembar. Lalu kasirnya kaget sampe melotot liat ada dua x)).

Apalagi ya? Sebenernya banyak sih, tapi yang gw inget sekarang itu aja, dan gw seneng tertakdirkan jadi anak kembar identik, kayak pemberian dari Tuhan aja sih dari sekian banyak orang yang terlahir di dunia sendiri, gw jadi anak kembar. Yang bikin bosennya cuma pertanyaan template aja. Hahaha

Selasa, 06 September 2016

Sharing tentang Beriklan di Instagram

Well, pengen nulis post ini karena... selama ini gw mencoba  googling tapi gak ketemu, jadi ya gw mencoba nulis hasil pengalaman gw aja, no? Sebenernya bisnis online itu gak cuma tentang iklan atau sekedar berjualan, tapi rangkaian dari hulu ke hilir, mulai dari produksi sampai barang sampai ke konsumen. Apa karena gw bukan reseller ya tapi produksi sendiri? Ah yang jelas lumayan menguras waktu dan gak bisa double-job. Gw gak berniat bahas yang lain, yang gw akan bahas adalah marketingnya aja. Kalo tentang berjualan, gw pernah nulis sih di post ini

Gw mulai serius menekuni bisnis online ini 1,5 bulan terakhir. Tapi account ini udah ada dari sekitar tahun 2014, cuma ya sebelumnya setengah hati aja ngejalaninnya. Produk yang gw jual adalah berupa dress dan rok, sebagai pemula tentu gw masih banyaaaaak yang perlu dibenahi. Dan followers @bytwin.ian juga sebenernya masih terhitung sedikit, sampai post ini ditulis ada sekitar 2.800. Gak bener-bener tahu karena belum sampai ke titik followers 5.000, tapi berdasarkan hasil sharing dengan teman gw yang sering gw tanya-tanya pengalamannya bisnis online lebih dulu dari gw, kalo followers udah sampai lima ribu jualannya lebih lancar. Kenapa gw sharing? ya semoga aja bermanfaat dan senang bisa sharing.

Dari sekian banyak pengalaman, jualan di instagram ini kuncinya adalah pada foto, dan page yang selalu ada viewers, tapi untuk mendapat pelanggan tetap, ya kuncinya sama aja kayak jualan di toko offline biasa, kualitas dan apa yang dibutuhkan konsumen harus tetap ada di produk itu. 

Pertama-tama, harus tau dulu teknik-teknik pemasaran di instagram. Kalau yang advanced sih ada instagram ads, pernah dikasihtau sama teman caranya gimana, tapi belum sempat aja buat prakteknya, selain itu juga stok dari penjualanku belum sebesar itu buat iklan disini. Setelah instagram ads, teknik promosi di instagram ada paid-promote, endorse, paid keroyok, paid keroyok target, post terus dengan hashtags banyak (bisa dengan membuat akun promosi hashtag), sfs (shout for shout, yang sering dianggap spam-for-spam), spamming, fff (follow-for-follow), lfl (like-for-like). Atau juga teknik menggembok instagram biar banyak followers dan bisa memberikan giveaway, atau spamlike biar tetap ramai.

Sebenarnya, cara tercepat buat dapat followers itu yang gratis pula adalah dengan fff, tapi fff ini engagement dengan followersnya rendah, para followers tersebut follow bukan karena dia betul-betul ingin dengan produk yang ada dalam akun onlineshop tersebut. Dan lagi, dengan cara fff ini angka following terlihat terlalu banyak dan tidak terlalu "elegan" dilihatnya.

Sejauh ini, yang mendatangkan konsumen secara efektif adalah paid promote. Gw belum pernah endorse yang benar-benar efektif, tapi alhamdulillah fotonya bagus deh jadi ya gak rugi juga mengendorse. Ya mungkin karena influencer untuk endorse yang gw pilih bukan yang benar-benar punya "fans", karena banyak juga yang punya followers puluhan bahkan ratusan ribu tapi sebenarnya selebgram tersebut engagementnya rendah terhadap followersnya.

Selama gw paid promote berkali-kali, tentu ada saatnya gw gagal dan ada saatnya gw berhasil dan promosi tersebut mendatangkan ratusan followers dan banyak pembeli, bahkan pelanggan (alias pembeli yang repeat order). Berdasarkan pengamatan gw, kalau mau efektif, ini caranya:

1. Foto yang bagus dan jernih.
Selain bagus dan jernih, fotonya pun harus fokus pada SATU PRODUK SAJA. Mungkin sebelumnya kita ingin kalau promosinya lebih menghasilkan banyak "celuk" pasar, misalnya pembeli peminat rok sekaligus dengan dress, tetapi hasilnya, jika kita ingin menampilkan terlalu banyak, hasilnya adalah konsumen yang sedang scroll home timeline instagramnya malah tidak memperhatikan produk yang ditawarkan. Secara psikologis, kita pribadi melihat instagram hanya scroll dan melihat hanya sekian detik, kan? Atau kecuali foto yang mengesankan dan menarik, maka... untuk memperpanjang detik orang melihat foto kita pada timeline yang sekedar lewat, tampilkanlah kualitas foto yang baik.

2. Jam dan tanggal tayang
Secara umum, orang lebih sering membuka instagramnya pada saat malam, jam makan siang, setelah bangun tidur (mungkin), atau sebelum tidur, kan. Nah, sisi inilah yang juga diperhatikan, akan ada berapa banyak viewers dan akan menjadi followers bahkan berubah menjadi pembeli yang datang? Tanggal pun diperhatikan, selama gw berjualan, pada tanggal gajian, lebih banyak orang yang tertarik untuk berbelanja dan memenuhi koleksi lemarinya. 

3. Caption yang menarik
Dari buku yang gw baca dan akhirnya gw sadari, orang membeli suatu produk sebenarnya hakikatnya adalah MANFAAT yang ia dapatkan di produk tersebut. Misalnya, banyak perempuan yang ingin dress yang dapat digunakan untuk menyusui, dress yang tidak menerawang, rok yang harga terjangkau tapi tetap menarik, dan hal-hal lain yang ingin dimiliki oleh orang tersebut. Inilah mengapa menggunakan model yang visually-attractive mempengaruhi penjualan secara signifikan. Karena para pembeli merasa bahwa jika ia memakai baju itu, maka ia dapat terlihat seperti model yang memakai.
 
4. Memilih page yang kualitas followersnya baik
Ada yang murah fee beriklannya, tapi kualitas followersnya tidak sebagus kualitas followers yang lain. Ya pintar-pintar pilih page yang bagus aja sih, apa karakteristiknya sesuai dengan target pasar yang kita inginkan.

Apalagi, ya? Mungkin ini dulu yang bisa gw share. Semoga bermanfaat!

Senin, 04 Juli 2016

Alasan Pilih di KRL Gerbong Wanita

Walaupun kebanyakan orang berpendapat kalo gerbong wanita itu egois, kejam, sadis, dan sebagainya, tapi gw adalah "langganan" memilih gerbong wanita kalo naik KRL. Yah tapi emang gw relatif jarang sih naik KRL, bukan tiap hari kayak orang-orang kantoran itu. Tapi yha lumayan lha gw kan tinggal di Bogor jadi kalo ada keperluan ke Jakarta atau Depok dsb gw naik KRL. Menurut gw sih, sebenarnya gerbong wanita tidak seseram itu kok, malah gerbong wanita punya beberapa kelebihan daripada gerbong campuran. Diantaranya yaitu:

1. Lebih nyaman dan tidak merasa risih kalau berdesakannya dengan sesama wanita.
 Pada saat jam ramai, rasanya jauh lebih mending dan nyaman untuk berdesakan dengan sesama wanita, aja. Gak perlu takut bersentuhan dengan laki-laki. Apalagi kalo KRLnya lagi padat kayak teri dalam toples.

2. "Aroma" keringat dan bau di gerbong wanita masih lebih mending daripada gerbong campur.
 Nah kalo yang ini, gerbong wanita juga bukan berarti gak bau sih, tapi jauh lebih mending hehehe. Dibuktikan kalo udah sampe final destination alias stasiun Bogor penumpang laki-laki berdatangan ke gerbong wanita paling ujung... beuh baunya yaaa gitulah.

3. Takut dicolek, pernah ada kejadian tidak mengenakkan di gerbong campur.
 Gak cuma sekali, ada bapak-bapak iseng pas gerbong gak penuh sengaja senggal senggolin kakinya ke kaki gw. Spontan langsung aja gw pelototin. Bapak-bapak itu langsung pindah tempat deh. Bagus lah, siapa suruh iseng. Sejak kejadian begini neh gw ga mau naik di gerbong campur.

4. Ngerasa gak enak kalo dapat kursi terus ada bapak-bapak yang tua yang menolak diberikan kursi.
 Kadang suka pengen ngasih kursi eh tapi dia nolak terus juga kan laki-laki lain juga banyak yang pura-pura gatau malahan pura-pura tidur. Ya gitulah pokonya haha.

5. Sebenernya di gerbong campur juga sama aja ada yang egoisnya, kok. 
 Walau gw akui emang lebih cepet dapet korsi di gerbong campur (lol), tapi sepengalaman gw, bukan di gerbong wanita doang yang suka egois ngasih kursi. Pernah dulu di gerbong campur ada bapak-bapak pura-pura tidur pas ada ibu-ibu gendong anak bayi naik. Akhirnya kakak kelas gw (perempuan) ngalah buat ngasih kursi ke ibu-ibu itu.  *sigh*

6. Sering relatif lebih sepi dibanding gerbong lain.
 Sering lho gw dapet kursi disini, yah minimal lega deh gak sedek-sedekan, sedangkan gerbong lain penuh banget. Hehehe

Sekian pendapat gw, kalian gimana?

Jumat, 24 Juni 2016

Review My Daughter Seo Young


Udah lamaaa banget pengen nulis review drama korea ini di blog. Walaupun drama 50 episodes ini release tahun 2012, yang berarti 4 tahun lalu, tapi gw pribadi nonton ini pas jaman-jaman skripsi (2015) dan rasanya ngena banget nontonnya. Gw ini termasuk picky dalam nonton drama korea, film, dan sejenisnya. Misalnya, cerita pertama harus menarik dan minimal visual yang diberikan bikin gw betah liatnya, atau plot yang diberikan jelas (bukan asal kejut tapi gak ada plot kayak drama terbaru itu tuh yang bikin Song Joong Ki terkenal). Hahaha.

Nonton film My Daughter Seo Young ini setelah nonton drama Lee Bo Young yang lain, "I Hear Your Voice (2013)". Karakternya beda banget yang diperanin dia di IHYV dan MDSY. Suka banget deh sama kualitas akting istri Jisung ini, bagus bangeeet. Sampe terbawa sama pendalaman perannya. Nih, poster drama My Daughter Seo Young..


Oke, gw jabarkan sinopsisnya berdasarkan apa yang gw tonton (buat yang belum nonton dan berminat untuk nonton, maaf ya kalo agak spoiler). Jadi ceritanya, Seo Young ini terlahir dari keluarga yang tadinya normal aja, tapi tau-tau ada krisis moneter IMF yang membuat ayahnya di-PHK saat dia dan saudara kembar laki-lakinya, Sang Woo, masih SMA kelas 2. Seo Young dan adik kembarnya sama-sama punya cita-cita jadi dokter, tapi mereka diremehkan oleh guru sekolah bahwa gak pantas orang miskin mau masuk kedokteran yang biaya kuliahnya tinggi. Seo Young yang setiap ujian selalu mendapat peringkat satu di sekolah pun kesal dan semakin ingin membuktikan bahwa ia dan adiknya mampu walau miskin.

Lanjut, Seo Young akhirnya memutuskan buat DO sekolah dan ngumpulin uang selama 1 tahun penuh jadi tukang delivery dan diam-diam naro berkas Sang Woo ke jurusan kedokteran. Uang hasil kerja kerasnya pun dipakai Sang Woo kuliah. Sementara dia mengalah, memilih melanjutkan sekolahnya di jurusan hukum biar jadi pengacara karena cepat kaya dan sekolahnya lebih cepat lulus menurut dia. Saat masa-masa sulit itu, ayahnya pun gemar judi dan gak sukses-sukses ikutan bisnis MLM. Itu membuat Seo Young harus nombokin utang bapaknya terus sementara dia sendiri udah kesusahan. Kekesalan dan kebencian Seo Young pada bapaknya akhirnya mencapai puncaknya saat ibunya meninggal sedangkan bapaknya main judi. Dia yang walaupun benci dan sering ngomong kasar ke bapaknya malah bayarin utang bapaknya lagi saat ibunya mati pake uang buat kuliahnya di semester akhir.


Seo Young tadinya udah mau nyerah sama mimpinya buat lulus dan jadi pengacara, tau-tau datang kakak kelasnya yang nawarin bantuan biar dia gak usah defer kuliah dengan jadi tutor anak dari keluarga kaya yang selalu bebal mau dikasih tutor apapun, tapi dikasih bayaran dua kali lipat. Long story short, kakak dari si anak tutor, Woo Jae, jatuh cinta ke Seo Young dan ngajak dia nikah. Seo Young udah terlanjur bohong bilang bahwa ayahnya udah mati, karena mikirnya toh gaakan mungkin keluarga kaya ngasih ijin anak laki-lakinya nikah sama cewek miskin kayak dia. Eh, yang ada pokoknya dengan segala bumbu drama si cowok boleh nikah sama dia dan bikin dia bingung bukan kepalang. 

Seo Young pun yang awalnya nolak karena dia udah bohong tentang bapaknya akhirnya gak kuat dan bohong ke bapaknya kalo dia sekolah ke luar negeri. Dan ternyata bapaknya jadi tamu bayaran di pernikahan Seo Young. Bapaknya walaupun sedih dan sangat terpukul tapi gak bilang ke siapa-siapa dan mutusin ngumpet biar Seo Young gatau kalo dia ngeliat perkawinan itu. Dan bapaknya selalu ngeliat keadaan anaknya dan mastiin kalo Seo Young baik-baik aja. 

Begitulah kurang lebih cerita intinya, tapi masih banyak sidestorynya yang juga menarik. Setelah nonton sampe beres, kurang lebih yang gw tangkap, secara garis besar si penulis cerita ingin memberi pesan kalau kita baru bisa merasakan apa yang orang rasakan kalo kita udah merasakan ada di posisi dia. Ada lagi cerita tentang keluarga yang suaminya tajir melintir tapi dingin dan galak ke anak-anaknya, sementara suami yang hangat dan romantis tapi hartanya gak melimpah.. sedangkan masing-masing istrinya iri satu sama lain. Yang gw suka dari drama ini, banyak nilai positif yang bisa diambilnya. Nih, gw kasih snapshot bagian-bagian adegan yang jadi favorit gw karena captionnya quote-able:

1. Saat Woo Jae ngasih nasihat ke adiknya, Seong Jae yang gagal.
 

2. Saat Seo Young ngehibur Seong Jae yang lagi sedih banget karena ngerasa bersalah kalo dia ternyata... (tonton aja deh haha)


 3. Saat ibunya Ho Jeong nasihatin dia tentang pernikahan hahaha




4. Saat Sang Woo melamar Ho Jeong walaupun gak cinta tapi ikhlas karena tau itu yang terbaik




5. Saat Ho Jeong patah hati tau kalo Sang Woo pacaran sama Migyeong. Well, Hojeong, I know how  that damn brokenheart feels.. wkwkwk



6. Saat ibunya Woo Jae takut kalo Seo Young bakal beneran jadi menantunya.





7. Saat bapaknya curhat ke Sangwoo





8. And the last :))


Sebenernya masih banyak sih kayaknya, tapi yaudah deh segitu aja dulu. Yah pokoknya gw suka banget sama drama ini, karena saat nonton gw bisa relate ceritanya. Overall, this drama is really worthed to watch. Walaupun sebenernya menurut gw bisa jadi padat ga harus 50 episode. Lee Bo Young eonni dapet Daesang (grand prize) dari drama ini :))

Minggu, 01 Mei 2016

Sepupu Bukanlah Mahram

Saya bukanlah perempuan yang bercadar, belum berjilbab syari yang sangat lebar ataupun lebar. Sampai sekarang, sejak Oktober 2009 saya memutuskan berhijab, saya masih belajar untuk berhijab secara sempurna. Saya memang hanya seorang muslimah biasa saja, belajar untuk memakai rok, tetapi terkadang walau jarang masih memakai celana jeans. Walaupun hijab saya masih jauh dari sempurna, saya adalah orang yang memegang teguh prinsip saya. Saya menjaga dan tidak ingin aurat saya dilihat oleh sembarang orang yang bukan mahram.

Darimanakah standar saya menjaga aurat terhadap orang lain? Hal tersebut tercantum pada Al Quran surah An-Nur ayat 31, "Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”  

Untuk lebih mudahnya, nih saya comot dari google diagram mahram (sumber: http://berkhalifah.com/siapa-saja-mahram-kita-dalam-islam/)


Bagi orang lain yang tidak memiliki prinsip yang sama dengan saya, terutama keluarga, seringkali mereka mengatakan bahkan memaksakan kehendak mereka bahwa sepupu juga boleh melihat aurat karena masih saudara. Padahal, berdasarkan dalil yang ada, sepupu (alias anak dari saudara kandung ayah) tidaklah termasuk pada mahram wanita. Rumah saya merupakan rumah yang terkadang ada beberapa laki-laki yang harus masuk karena keperluan bisnis orang tua ataupun saudara yang berkunjung. Hal ini membuat risiko aurat saya terlihat oleh orang yang bukan mahram besar. 

Kenapa saya marah? Karena usaha saya menjaga aurat dan mempertahankan prinsip saya gagal saat ada orang, terlebih laki-laki yang bukan mahram saya, yang mengatakan dan beralasan bahwa mereka masuk ke rumah secara tidak sengaja, padahal mereka sama sekali tidak mengucapkan salam dan/atau mengetuk pintu sebelum masuk yang membuat saya gagal. Mengapa saya kesal? Karena seharusnya jika mereka bertamu dan menyadari ada wanita berhijab didalamnya, seharusnya memperhatikan adab sesuai firman Allah SWT pada surah An-Nur ayat 28-29.

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik agar kau selalu diingat." (28)
"Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu "Kembalilah!" Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (29)

Yang saya sebal adalah jika saya dipaksa untuk melanggar prinsip hidup saya bahwa "gakpapa kali sepupu ngeliat aurat mah, kan saudara". Maka sepupu tersebut seenaknya masuk rumah tanpa mengetuk pintu dan memberi salam sehingga saya tidak bisa siap-siap berhijab pakaian. Gak bisa dong, sembarangan gitu, prinsip saya kan tidak seperti itu. Apalagi saya sudah pernah menghimbau pada dia untuk masuk dengan salam dan ketuk pintu. Ini membuat saya emosi dan marah. Apalagi prinsip hidup saya diremehkan begitu saja. Akan sangat merepotkan diri saya, dong, jika di dalam rumah saja saya harus berbaju tertutup. Rumah itu kan hijab juga bagi perempuan. Kalau masih ngomong "berprinsip boleh tapi jangan saklek", itu tandanya masih belum menghargai sepenuhnya prinsip orang, sih.

Bagi seorang muslimah seperti saya yang selalu menjaga auratnya agar tidak terlihat pada laki-laki selain mahram, rasanya sangat sedih, marah, dan beragam perasaan tidak enak bercampur jika saya gagal menjaga aurat agar tidak terlihat. Terus terang saya rasanya sangat kesal, sedih, serta sakit hati saat orang malah mencemooh saya. Rasanya kecewa saat suatu hal yang telah dijaga hari demi hari hilang begitu saja. Bahkan saya bisa saja marah tak terkontrol jika hal itu terjadi.

Saya sadar bahwa tidak semua perempuan berprinsip dan berpikiran seperti saya untuk menjaga aurat. Saya menghargai prinsip dan pemikiran tersebut, dan saya akan sangat senang kalau prinsip dan pemikiran saya pun dihargai. Makin kesal dan sedih rasanya jika prinsip saya ini dibilang lebay atau radikal. Padahal jika aurat saya terlihat, maka yang dirugikan dan jadi gak enak kan saya dong, tubuh saya pun ya saya yang berhak mengaturnya siapa saja yang boleh melihat. Sama seperti perempuan lain yang mengatakan "perayaan kebebasan tubuh", sama dong berarti dengan prinsip saya, terserah dan otonomi saya untuk memperlihatkan tubuh saya ke siapa.

Melalui tulisan ini saya berpesan pada setiap laki-laki, dan apalagi pada setiap perempuan lain yang bisa saja berprinsip beda untuk menghargai prinsip hidup setiap orang, salah satunya muslimah seperti saya ini. Hal yang menurutmu biasa saja dan tidak penting, bagi orang seperti saya adalah hal yang penting untuk dijaga. Masing-masing manusia memiliki prinsip hidupnya masing-masing, bukan?

Selasa, 16 Februari 2016

Nikah?


Cinta adalah hal yang banyak diagung-agungkan hampir seluruh orang. Bahkan orang yang berpikiran paling logis dan rasional dapat berubah menjadi orang yang paling melankolis dan irrasional ketika jatuh cinta. Karena cinta mereka bisa melakukan banyak hal, mulai dari bertransformasi menjadi orang yang lebih baik hingga membenarkan perilaku dosa. Dibandingkan perempuan-perempuan di sekitar gw, gw merupakan seorang perempuan yang cenderung lebih banyak menggunakan logika dan lebih sedikit memakai hati dalam pemikiran serta keputusan-keputusan yang gw ambil.

Sebelumnya, sewaktu gw menjadi mahasiswa, banyak sekali "dongeng-dongeng" akan betapa indahnya menikah muda. Ditambah lagi dengan dakwah islami yang menyebar di media sosial maupun dunia nyata yang menyatakan bahwa pacaran itu haram. Menikah pun semakin diasosiasikan sebagai "pacaran halal". Hmmm iya sih awalnya gw juga mikir gitu. "Asik kali yaa kalo nikah muda". "Asik kali yaa kalo punya temen blabla...". Tapi lama-lama pemikiran semacam itu pun bergeser karena banyak hal. Pernikahan di otak gw bukan lagi tentang pacaran halal, tetapi sebagai suatu hal yang perlu dipertimbangkan secara hati-hati dan tidak bisa terburu-buru, setidaknya bagi gw pribadi.

Setelah lulus, teman-teman seangkatan gw pun mulai banyak yang memutuskan menikah, apalagi kan sekarang jaman taaruf-taarufan. Dan entah kenapa semua kabar-kabar pernikahan yang gw terima, dari mulai kabar yang udah terverfikasi sampe kabar burung, membuat gw merasa..... tua dan awkward. Gw jd merasa seperti diingatkan bahwa di umur 20an gw ini pun nanti akan ada giliran gw juga. Dan gw pun heran kenapa mereka merasa sesiap itu untuk menikah? Sudah ikhlas menjadi istri seseorang. Dan gw juga heran sama temen gw yang bilang "persiapkan nikah blabla"... hmmm emang apanya yang harus disiapin? Bukannya itu sekedar common sense? Apalagi kalo siapin dari segi agama, bukannya tujuan siapin itu karena Allah? Kenapa harus siapin karena nanti bakal ada suami bakal nikah bakal jadi ibu blablabla?

Apalagi kalo emak gw, sodara, atau temen bilang "belajar rapih-rapih biar nanti kalo punya laki terbiasa". HELLOO~~ ini nih yang paling bikin gw malah jadi males nikah muda. Gw mikir.. ummm... emang nikah jadi pembantu gitu ya? Hmmm iya sih emang kebanyakan laki-laki kan pemales urus rumah, tapi kan gak berarti gw rapih-rapih tujuannya suami keles, rapih-rapih mah rapih-rapih aja supaya rapih (ya pokoknya maksud gw gitu).Yang lebih absurd lagi kalo gw liat akun dakwah atau obrolan temen gw tentang "Panjangkan jilbab, tutup aurat, jangan berdandan karena suami lebih suka yang blabla". Horeee gw sih gak punya suami, jadi bebas dong? Lagi-lagi gw berpikir, kalo mau jadi yang lebih baik ya berubahlah karena Tuhan, bukan karena "impian punya suami sempurna".

Dan salah satu hal yang masuk di otak gw juga adalah, menikah itu adalah tentang menunda realisasi ambisi dan cita-cita. Yaa mungkin sih bagi sebagian orang dan "pakar-pakar nikah" itu nikah gak akan membuat cita-cita hilang dan pergi, tapi kan tetep aja kan pasti akan tertunda? Misalnya aja kalo mau s2, atau membangun bisnis startup, atau malah bangun karir kantoran, dll... kalo nikah, bagi perempuan, pasti prioritas pun akan berubah menjadi keluarga, harus banyak mengalah dan banyak yang jadi pertimbangan. Yaa mungkin ada sebagian perempuan yang bisa mengejar cita-cita tanpa melupakan keluarga, tapi kan itu outlier bukan modus atau mean dalam data hahaha. Apalagi kalo udah hamil, hmmm pasti nanti abis melahirkan harus nyusuin anak, urus semua-muanya tentang anaknya juga. Dan gw berpikir pasti kalo udah jadi seorang ibu mau gak mau pasti pikiran akan selalu tercurah buat anak. Kalo belum siap, lebih baik nanti aja pas udah siap lahir batin, ketika jalan menuju cita-cita sudah terbuka, ya minimal terbuka setengahnya. Saat itulah gw mampu buat ikhlas dan memprioritaskan seluruh pikiran dan waktu buat keluarga. Lagian kalo sekarang kagak ada juga sih yang lamar (dan ini bukan kode ya maksudnya) hahaha.

Selanjutnya adalah tentang kesetiaan. Hal yang bayanginnya aja bikin merinding disko adalah diselingkuhin atau dipoligami. Soal isu ini bikin gw sebel, apalagi kalo sebabnya adalah karena si istri dianggap gak cantik lagi, sudah menua, dan sudah menggendut. HELLO~~ kan si suaminya juga udah gak secakep dulu, udah tua juga, perutnya juga udah buncit, palingan menang di duitnya doang sih yang nambah banyak (okay duit bukan "doang"). Ngeliat banyak kasus-kasus kayak gini sih yang bikin gw takut. Mungkin ketakutan dan kegalauan kayak gini gak hanya ada di pihak perempuan ya. Bagi laki-laki, dia takut pasangannya pergi karena dia gak selalu ada dan uangnya habis. Bagi perempuan, dia takut pasangannya pergi karena kelak kulit cantiknya pun akan keriput dan menua dimakan oleh waktu.

Belum lagi soal isu poligami. (Oke sebelumnya disclaimer: ini adalah pandangan gw sebagai perempuan atas isu itu). Gw gak menganggap poligami adalah sesuatu yang haram karena memang firman Allah SWT dalam Al Quran membolehkan hal tersebut. Dan menurut gw sah-sah aja kalo memang semua pihak di keluarga itu mau, pilihan hidup mereka. Tapi gw gak akan mau mengambil pilihan hidup macam itu. Dan yang gw gak setuju adalah kalau poligami hukumnya dikatakan sunnah, sedangkan hal itu sebenarnya hukumnya mubah (boleh) saja. Bisa sih dikatakan "adil", tapi bagi gw pribadi, buat apa "membagi" kalau bisa "dapat semua"? Dan hati yang terluka karena diselingkuhi atau dipoligami bukan hanya sekedar karena "cinta yang terbagi", tetapi juga soal "harga diri". Perasaan dibuang dan disepelekan itu menyebalkan. Soal isu ini sensitif sih, alhamdulillah gw tidak terlahir dari latar belakang keluarga yang ayahnya punya istri lebih dari satu. Berikut pengamatan gw tentang poligami:

Pertama, biasanya poligami itu terjadi kalau istri pertama tidak punya penghasilan sendiri. Posisi istri pun dianggap dibawah dari "level" suaminya. Yang awalnya enjoy-enjoy aja jadi Ibu Rumah Tangga, nemenin suaminya berjuang dari miskin, pas udah tua pun suaminya banyak uang sedangkan dia gak menghasilkan uang sama sekali. Suaminya pun mikir kalo dia poligami istrinya gak akan berani buat gugat cerai, karena istrinya "susah gerak". Istrinya pun milih sabar demi anak-anaknya walaupun rasanya sakit hati. Kedua, perempuan yang rela dipoligami biasanya menikah karena "agama dan Allah SWT" dan "kewajiban", not because of what so called "love". Perempuan ini biasanya merasa bahwa cukup berat tugasnya di rumah.. melayani suami, mengurus anak, merapihkan rumah, dll dll. Lalu dia pun merasa tugas beratnya itu akan berkurang jika "bagi-bagi tugas" dengan perempuan lain. Lumayan kan, suaminya gak selalu ada di rumah, ya jadi setengah minggu aja. Ngurang deh sebagian kewajiban dia. Tapi bagi perempuan yang menikah karena cinta atau gak nganggap kewajiban itu sebagai "beban"? Ya sorry-sorry aja deh bagi-bagi :D. Ketiga, kalo dipoligami itu nanti uang dan harta warisan bagian istri dibagi dua, tiga, atau empat ke istri-istrinya. Nah ini nih malesin. Terus kalo si istri meninggal duluan, harta warisan dia bakal gede bagian buat suaminya. Dipake deh tuh uangnya buat seneng-seneng sama si madu. Hahaha (sorry if I sound rude). Dan banyak hal lain tentang poligami tapi gw udah males nulisnya :p.

Yaa tapi walaupun banyak banget hal yang membuat gw skeptis tentang pernikahan, bukan berarti gw gak mau nikah sih. Bukan apa-apa, kalo gw gak nikah nanti gw gak bisa menyempurnakan separuh agama dan lebih parahnya gw lebih takut kalo pas gw udah tua gw menjelma jadi nenek-nenek sebatang kara yang hidup sama kucing hahaha. Cita-cita gw sesimpel jadi ibu dan istri yang memprioritaskan keluarga, bisa mengaktualisasikan diri gw, dan punya penghasilan sendiri sih.Then again, gw minta maaf kalau postingan ini menyinggung pihak tertentu. Tulisan ini murni catatan pribadi dan catatan santai aja :D

Sabtu, 06 Februari 2016

Pengalaman dan Persiapan Mengikuti Tes IELTS

Tulisan ini dibuat karena gw berjanji ke diri sendiri kalau nilai IELTS gw minimal 6.5 dengan masing-masing elemen minimal 6 (sesuai syarat beasiswa dan universitas yang gw mau), gw akan posting di blog tentang cerita perjalanan gw mengikuti tes IELTS ini. 

Disclaimer: Saya tidak mengambil preparation course karena sudah merasa cukup pada writing dan speaking section. Saya mengikuti kursus bahasa inggris di LIA selama 4 tahun dari 2006-2010 (saat SMP-SMA). Jika ada yang merasa kurang di writing dan speaking section, dan membutuhkan skor tertentu dalam jangka waktu dekat alangkah baiknya mengambil preparation course. Tentunya berbeda dengan listening dan reading section yang lebih mudah dilatih sendiri tanpa tutor.

Setelah lulus dari sidang dan segala aktivitas mengurus kelulusan, gw semangat untuk belajar IELTS. Sebelumnya, dari organisasi gw, SES-C IPB, ngadain acara pelatihan dan simulasi IELTS tanpa speaking, gw yang sebelumnya sama sekali gak familiar dengan format dll IELTS ikut simulasi tanpa persiapan. Sebenernya setelah gw belajar sendiri, gw jadi tau sih itu soal IELTSnya ambil dari buku Cambridge aja ternyata. Skor gw saat itu adalah Listening 6, Reading 5, Writing 5. Setelah itu gw jadi semangat dan tertantang buat ningkatin kemampuan IELTS.

Langkah pertama, gw beli buku kecil tentang tips IELTS dan beberapa tesnya, lumayan sih buat dibaca2, warna pink-hitam gitu deh bukunya. Setelah beres sidang, gw penasaran tentang kemampuan speaking dan writing gw, akhirnya gw datang ke ILP Cimanggu Bogor yang di Jalan Baru, nanyain tentang ada atau gak prediction test buat IELTS disitu dan ternyata disana juga tempat tes resmi dari IALF buat tes. Gw pun mikir buat uji kemampuan yaudah gw mau tes prediction aja dulu dan seterusnya belajar sendiri kalo emang skor writing dan speaking gw udah cukup buat syarat. Harga untuk mock test disitu untuk non native examiner IDR 250.000, sedangkan kalo mau near native examiner IDR 300.000. Berhubung IELTS asli kan examinernya bule, yaudah gw pilih near native examiner aja.

Saat gw mock test disitu, yang gw agak kecewa adalah kertas soal listening yang gak bisa dicoret-coret, padahal kalo tes aslinya kan lembar soal listening bisa dicorat-coret jadi lebih gampang untuk konsen mindahin jawabannya. Yaudahlah ya tapi kan itu mock test ini. Bagian speakingnya examiner gw laki-laki bule yang masih muda, gw lupa siapa namanya haha cuma lumayan berkesan sih speaking ini, karena kan sebelumnya gw ga pernah sama sekali. Hasil dari mock test gw saat itu adalah Listening 5, Reading 5, Writing 6.5, dan Speaking 7. Agak shock sih karena gw sebelumnya kepedean tentang listening sama reading.

Abis itu gw liat-liat dan browsing tentang biaya kursus IELTS Preparation, kok mahal-mahal semua ya bagi gw yang kantongnya pas-pasan, sekitar 3,5-5jutaan. Malah gw sempet ikutan placement test gratisan dari tempat kursus yang lagi promo stand di Botani Square hahaha tapi ujungnya gak jadi. Emang sih awalnya ayah bilang kalo dia mau bayarin biaya gw les IELTS, tapi gw ngerasa gak enak aja abis lulus kuliah minta-minta uang lagi, walau ujungnya gw tes IELTS pake uang ayah sih :p
Atas dasar skor prediction test gw yang gw anggap cukup untuk writing dan speaking, gw memutuskan untuk fokus belajar pada listening dan reading aja dulu. Gw pun akhirnya inisiatif buat download materi IELTS dari Cambridge 1-10 dan Barrons versi lama. Tapi setelah gw belajar dan try out sendiri lagi, kok materinya gak cukup ya, gw takut sampe ujung gw belajar soal-soal itu hasilnya masih stagnan aja. Dari hasil browsing gw, nilai Listening dan Reading untuk Academic Training itu skalanya kira-kira begini berdasar hasil jumlah bener dari total 40 soal:


source: https://ieltstacticsblog.wordpress.com/2015/10/17/do-you-know-how-ielts-band-score-is-calculated/
Karena skor Listening dan Reading yang relatif stagnan dan jalan di tempat di skor 5 sampe maksimal 6 aja (pernah sih sekali skor gw 6.5 terus langung jingkrak-jingkrak), akhirnya gw memutuskan untuk memperbanyak amunisi dengan download banyaaaak banget materi, diantaranya yang menurut gw bagus adalah Cambridge IELTS Trainer, Macmillan Testbuilder, Complete IELTS band 6.5-7.5 (ini recommended banget sih menurut gw, soalnya dia bukunya kayak buku les gitu dan ngebuat gw bisa belajar step by step dan ada tips-tipsnya juga), ya pokoknya banyak banget lah sampe ujung-ujungnya banyakan yang ga kepake haha karena gw dikejar waktu dan mungkin gw kurang konsisten dalam menerapkan jadwal belajar.
Pertama untuk Listening, kesulitan dan kesalahan yang gw alami adalah:
- jawaban yang diminta adalah yang tidak terdengar jelas karena kosakata yang agak advanced di telinga gw, terutama untuk section 4.
- ini fatal sih, kurang huruf "s" saat menulis jawaban, misalnya yang diminta adalah "books" bukan "book", maka salah. Atau gw tidak menulis grammar secara sesuai dengan yang diminta soal, bukan yang kita dengar. Misalya di isian soal ditanya "Nationality", di speaker terdengar "...from Indonesia", isinya yang benar bukan "Indonesia", tapi "Indonesian".
- ada beberapa kata yang gw gak hapal spellingnya
- tidak move on untuk soal yang terlewat, padahal harusnya move on aja soalnya nanti soal selanjutnya bisa salah dan cek di ujung section aja.
- jawabannya mengecoh, awalnya misalnya dia bilang "Thursday", eh terus ganti jadi "Wednesday".
- kurang konsentrasi, bahkan 2 detik skip aja jawabannya ilang, jadi konsentrasi itu penting banget.

Kedua, untuk Reading, kesulitan yang gw alami adalah:
- awalnya gw agak sulit memahami isi bacaan dan malah jadi isi asal aja karena udah keburu males baca vocab-vocab yang menurut gw advanced, tapi pelan-pelan belajar gw akhirnya bisa memahami isi bacaan.
- pada soal yang ada, tertulis rephrase dari kalimat yang ada di paragraf, gak sama persis terutama vocabnya, jadi harus teliti.
- waktu yang terbatas, makanya tiap latihan gw selalu ngasih limit dan liat jam agar masing2 section gak lebih dari 20 menit. Kalo bisa sih malah section 1 yang relatif lebih gampang dari section 2 dan 3 bisa dipress waktunya biar untuk section 2 dan 3 bisa punya lebih banyak waktu.
- sama kayak listening, grammar pada isian reading juga kadang salah kalo gak teliti.
- pada tipe soal Yes, No, Not Given atau True, False, Not Given... kadang suka salah faham antara false atau not given, bahkan kebolak balik juga pahamnya. atau malah diminta soal ditulisnya yes/no, nulisnya malah true/false. 
- biar lebih gampang gw suka baca dulu soal baru baca pelan-pelan nyari jawaban dari bacaannya, bukan baca dulu semua baru isi, karena gw pelupa. Tapi lagi-lagi beda-beda tiap orang, kalau kalian lebih nyaman baca dulu semua baru isi ya berarti bagusnya memang begitu :)

Untuk writing, gw lebih banyak belajar dari kosakata apa aja yang harus digunakan sih, buat pembuka, penghubung, dan penutup. Pas gw les bahasa inggris di LIA jaman sekolah dulu, pernah dan sering sih tes nulis gitu. Jadi kalo gw nulis bagian writing biasanya sih:
-Paragraf awal: introductory statement, lalu di kalimat akhir thesis statement yang menyatakan apa yang akan kita tulis di body paragraph.
-Paragraf kedua, tiga, empat, lima dst (yang jelas body paragraph): ditulis dengan penghubung "First, Second, Third,..." atau bisa juga "Next, After that, ...". Tulis pendapat kita aja tentang tulisan itu atau fakta-fakta yang ada di task 1, sesuai apa pernyataan kita.
-Paragraf akhir: nulis awal-awalnya tentang simpulan dan di ujung adalah rephrase dari thesis statement yang kita tulis di paragraf awalnya.

Untuk speaking, gw semaksimal mungkin mengurangi "nggg...." "hmmm...", gw berusaha untuk bicara secara rileks aja hehe. Tips-tips yang gw dapat tentang tes IELTS banyak dari web ielts-simon.com, buku-buku yang gw download (yang gw inget sih Complete IELTS band 6.5-7.5), sama buku yang gw beli dari gramed itu sih (lupa bukunya entah kemana). Bagi kalian yang mau belajar ielts, tentukan aja cara belajar paling efektif buat diri sendiri, karena beda-beda sih tiap orang.
Sempet berhenti juga sih gw belajar IELTS karena bulan Desember gw kerja kontrak di BPJS satu bulan, awalnya gw ambil tawaran jobnya karena gw butuh uang buat tes IELTS, eh tapi ternyata qadarullah uangnya kepake buat berkas yang lain. Setelah gw beres kontrak, gw ngebut ngelengkapin berkas beasiswa dan gw pun memberanikan diri buat ambil IELTS tanggal 23 Januari 2016 di British Council Jakarta. Jujur gw ngerasa belom siap banget, apalagi gw selama ini hanya fokus belajar di Listening dan Reading (malahan gw suka males belajar reading karena lebih lama waktu untuk belajar 1 tesnya dibanding listening hahaha).

Gw daftar tes secara online dan disuruh transfer ke rekening bank HSBC british councilnya. Venue untuk tes Listening, Reading, dan Writing di Millenium Hotel Sirih Jakarta dan tanggal 24nya tes speaking di kantor British Council di Office 8 SCBD. Sampai di hari H, gw dari bogor naik KRL terus naik gojek dari stasiun Sudirman (katanya sih harusnya lebih deket dari stasiun Tanah Abang). Mana sempet gw deg-degan banget takut telat si abang gak tau jalan, padahal gw udah bilang itu deket BI tapi dia gatau BI itu apa ternyata -_- (oke skip). 

Sampe sana ternyataaaa, antrinya panjang banget, sampe mengular ke belakang, eh mana gw kebelet tapi takut antrian gw disalip, akhirnya gw tahan-tahan aja dulu deh, sialnya saat semua barang harus dititip dan ditinggal biar pas masuk ruangan cuma bawa KTP aja, ternyata gak boleh ke WC dulu -_-. Jadi buat yang mau tes IELTS, gw saranin kalo emang mau buang air kecil dari sebelum registrasi aja yaa. Akhirnya gw buang air kecil di tengah-tengah reading test gw ijin ke WC karena gw udah usahain buat section 1 biar kurang dari 20menit jadi gw bisa ke belakang hahaha. Makan waktu 5menit lebih dikit sih, no problem lah ya daripada nahan kebelet hahaha. 

Saat tesnya, kalo waktu sudah habis kita bener-bener harus lepasin alat tulis dari tangan, dan gw baru nyadar ternyata jawaban reading yang gw hapus dan ganti di last minute adalah yang bener -__-. Saat tes writing, ternyata task 1nya bukan grafik atau chart, tapi mendeskripsikan perubahan tempat dari 4 tahun lalu dan sekarang gitu. Kalo task 2nya sih ya mirip2 aja lah sama yang ada di buku Cambridge 1-10. 
Besoknya gw tes speaking di Office 8 dan gw yang ga pula ngerti jalan jadi jalan kaki dari halte Polda kesana, dan ternyata jauh ya bok, jadi kalo dari situ nanti ada Grand Lucky Superstore terus ada jalan tikus kecil masuk deh ke Office 8-nya. Sampe sana gw nunggu giliran gw speaking sama mister siapa ya gw lupa apa ga nanya namanya ya haha. Tema general dari speaking itu adalah tentang animal dan beberapa pertanyaan general aja. 

Setelah beres semua rangkaian tesnya, gw deg-degan banget nunggu hasilnya, apalagi gw gak yakin untuk hasil tes writing bisa cukup. Semua pikiran tentang tes mahal sayang duit blabla muncul di otak gw kalo skor gw ga mencukupi. Akhirnya... setelah menunggu lama tanggal 5 Februari 2016 keluar hasilnya dan alhamdulillah tidak mengecewakan dan bahkan saking terharunya gw liat hasil speaking sama writing sampe pengen nangis :"") (lebay sih tapi emang iya).


Gak percuma lah ya gw ngeprint soal-soal dan segala waktu yang gw habiskan buat persiapan, alhamdulillah skor gw cukup dan lebih dikit buat syarat. Jalan masih panjang, Bismillah... Sekian tulisan gw, buat kalian yang mau tes IELTS juga, goodluck yaa :)