Sabtu, 31 Desember 2016

Ketika aku gagal dan ingin bangkit

Dulu, saat kegagalan yang begitu menohok itu, gagal LPDP 2 kali,
dunia serasa runtuh,
ragaku seperti dihempas badai,
jiwaku seperti hilang,
mimpiku menguap dan berdifusi pada angin
masa depanku seperti hilang

Aku merasa seperti produk gagal, mengapa aku gagal dua kali? Apa memang aku tak pantas? Apa memang ini hukuman untukku? YaAllah dari sekian banyak orang lain berhasil mengapa aku digagalkan. Mengapa aku sebodoh itu untuk sesuatu yang sangat mudah didapatkan orang lain?

Aku berusaha kuat. Aku berusaha tegar. Aku menutup diriku dari keramaian. Aku malu yaAllah. Aku tak ingin orang lain tau dan meremehkan aku. Aku yang biasanya tak tahan untuk bicara dengan sifat keterbukaanku tak ingin membaginya pada siapapun. Aku block, unfollow, dan hapus semua keyword "LPDP" agar aku lupa dan move on dari semua kesedihan itu. Aku jalani hari demi hari dengan (berusaha) sabar. Aku browsing segala blog untuk membangkitkan semangatku. Mencari-cari barangkali ada yang senasib denganku, dan dengan cara itu aku menghibur diriku sendiri.
Dua sampai bahkan tiga bulan hatiku masih sangat terasa sakit saat melihat awardee LPDP di social media, mendengar kata LPDP, dan bahasan apapun tentang LPDP. Aku bahkan uninstall Path untuk move on.

Hari demi hari ku jalani dengan penuh kesedihan. Dalam hati aku bersyukur walaupun sakit sekali dan merasa bahwa dunia tidak adil, tetapi aku mendapat kepastian, dan yang jelas aku tidak berharap pada angan semu lagi. Aku jalani hari demi hari dengan melankolis. Aku pelan-pelan membenahi semuanya. Sempat sih aku masih berharap pada beasiswa ketiga yang aku daftar, tapi penolakan ketiga tidak begitu terasa sakit apa-apa. Sepertinya aku sudah mulai kebal terhadap penolakan. Walau ya.. tetal ada rasa nyess dan sakit sih dalam hati.

Batinku bersyukur.. Alhamdulillah yaAllah..  Kau menjadikan aku lebih kuat dengan dua kali kegagalan. Kau memberikan aku takdir yang lebih indah.

Setelah mendapatkan kepastian, kujalani hidup dengan usaha penuh untuk sabar, setiap hari aku memaksa diri menjadi kasir di toko milik orang tuaku dan diberi upah. Mencoba melamar kerja tapi aku menyadari bahwa semangatku bukan disana, bukan pada karir dunia kerja kantoran yang dikejar orang-orang lain.

Aku mencoba mengeluarkan modal pada sisa-sisa tabungan yang aku punya. Dalam hati aku sedih dan takut, yaAllah bahkan stok dagang aku sebelumnya aja dalam waktu tiga bulan masih lumayan bersisa. Bagaimana sekarang? Dimana masa depanku yaAllah. Apa aku sanggup sejahtera dengan cara berbeda dari sekelilingku? Apa aku bisa memiliki penghasilan seperti pegawai-pegawai kantoran itu?

Hatiku masih sakit. Bahkan melihat quote di krl saja air mataku menetes. Aku sampai malu dengan orang yang melihatku menangis. Hatiku berkata, "YaAllah mengapa hidupku jadi seperti ini,  apa masa depan indah itu masih layak untukku?".

Atas dasar kuasa dan pertolongan Allah, walau usahaku baru berjalan hitungan bulan. Dan itu semua tidak mulus, terjal jalan yang ku lalui. Sendiri aku jalani itu semua. Dengan modal keberanian, kepasrahan, bahkan bisa dibilang nekat dengan resiko sangat tinggi.. Aku sekarang berada di titik ini. Tak perlulah aku besar-besarkan dan umbar. Karena ya memang, tak ada yang bisa diumbar. Bismillah.. Permudahlah yaAllah..

-ian yang sekarang sudah merasa hidup sekarang sudah jauh terasa lebih baik

Sabtu, 01 Oktober 2016

My Business Journey

Mumpung weekend, gw pengen nulis tentang perjalanan gw hingga akhirnya gw begini. Akhir-akhir ini, sejak 1.5-2 bulan terakhir, gw disibukkan dengan berdagang online. Bagi sebagian orang mungkin bertanya-tanya, kok sibuk? Kan kalo jualan online santai-santai aja. Iya, bisa santai.. tapi nanti dagangannya gak keurus, pesenan orang terbengkalai. Awalnya mungkin kayak sepi gitu nunggu orderan, bisa sambil jaga kasir di toko orang tua. Tapi lama kelamaan jadi capek harus banyak yang diurus, bolak balik beli kain, bolak balik ke jne, bolak balik ke konveksi, belum lagi bales-balesin chat.

Mau cerita dari asal mula gw jualan. Jadi, dulu jaman gw kuliah TPB (Tingkat Persiapan Bersama, tingkat satu) sampe sekitar semester 4 lah, gw itu sukaaaaa banget belanja baju. Apalagi gw lagi seneng beli rok. Dan gw emang suka jalan-jalan. Memang dasarnya gw itu BPJS (Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita), gw pun senang membeli barang-barang yang diskonan di dept store (alias yang di bak, bukan di gantungan), seneng ubek-ubek pasar sampe nemu toko yang jual barang-barang lucu di antara barang-barang massive production di pasar. Selama gw ubek-ubek pasaran, kok rasanya susah ya nemu produk yang bener-bener kena ke hati dengan harga yang standar/murah? 

Terus tau-tau gw lihat ibu pake mesin jahit buat jelujur kain di rumah, dan mesin jahit ini gampang digunainnya karena tinggal pencet tombol bukan diinjek gitu. Gw pun minta ajarin ibu gimana cara pakai mesin jahit itu, tapi ibu kan sibuk di toko dan kalopun dia di rumah dia kayak ogah-ogahan ngajarin gw. Akhirnya, dengan kepo gw sotoy aja pake mesin jahit itu coba-coba. Dan hasilnyaa.... rusak dan emak gw marah-marah. HAHA keluar uang 150ribu kata ibu buat betulinnya. Yaudah habis itu gw diajarin cara pakai mesin jait yang benar, dan hasil jahitan gw berantakan x)).

Sebelum itu, gw cari-cari kain, tadinya gw ke pasar bogor, tapi setelah itu gw gak puas euy saya kain-kainnya. Yaudah akhirnya ajak ibu ke Cahaya Textile di Pasar Anyar. Gw cuma beli 1m buat percobaan jahit aja, coba gw masih nyimpen ya rok jahitan pertama gw yang (bisa disebut) rapih (untuk ukuran newbie). Lalu gw cari-cari di google bagusnya beli kain itu dimana, dan akhirnya gw beli kain di sebuah toko katun yang cukup terkenal di google. Gw biasanya pilih-pilih lamaa banget bisa 2 jam di toko itu. Dan cuma beli 1m buat beberapa motif kain. Masih cukup dijadiin rok karena abang-abang yang potongnya kan suka kepanjangan. Tadinya gw kepengen semua motif-motif lucu itu buat gw semua ajaa kan lumayan bisa punya banyak rok baruuu dengan harga ekonomis karena gw sendiri yang jahit. Tapi ternyata gw lumayan kalap jadi mahal.

Gw pun akhirnya mencoba jual-jualin roknya. Dengan jahitan sederhana dari gw, dan tadinya gw beli karet cuma meteran lho belum roll-an. Sharing dari gw, kalo ada yang minat jualan tapi mikirin dimana beli yang murah, menurut gw sih ya jalani aja dulu dengan modal bahan baku yang mahal, seiring berjalannya waktu, nanti pasti nemu deh dimana sela-selanya dan bisa membuat produk dengan lebih efisien dan murah kalau sudah lebih banyak produksi dan penjualannya (economics of scale).

Setelah beberapa kali restock gw jahit sendiri, ayah bilang ngapain gw harus jahit-jahit, mending kasih aja kainnya ke Pak Maman (penjait vermak lepis deket rumah) dan gw tinggal kuliah aja nanti gw jualin. Akhirnya gw pun bisa jual lebih banyak. Gw lupa berapa kali persisnya gw buka PO dan jual-jualin rok-rok itu, yang akhirnya juga merambah ke jualan dress lekbong (tanpa lengan). Sampai terakhir sebelum gw ingin fokus skripsian aja, gw buka PO apa aja warna yang orang-orang pengen dan gw tinggal kasih-kasih barangnya ke mereka setelah jadi. Dan gw ambil untung gak besar kok, paling sekitar 45-60% aja dari modal (bahkan sampai sekarang). Banyak brand-brand lokal baru yang kalo ambil untung gw lihat sampe 100-250%. Faktor branding juga kali ya.

Setelah gw berjualan selama kuliah itu, tabungan gw bisa melejit sampe sekitar 10juta isinya (Alhamdulillah). Dan dasaran gw masih berjiwa muda yang mikirnya masih pendek, gw beli gadget karena gw penasaran pengen beli kamera Samsung Mirrorless NX3000 dan saldo gw pun langsung terpangkas setengahnya. Hahaha. Tapi alhamdulillahnya kepake banget sih kamera coklatku itu sampai sekarang :"") buat foto-fotoin produk, karena kamera HP gw walau 8MP tapi terbatas dan gak secanggih kamera (ya kamera gw juga gak canggih-canggih amat sih dibanding kamera-kamera mahal sebenernya mah).

Gw pun susah multitasking dan saat itu yang ada di otak gw, gw ingin fokus skripsi biar cepat lulus dan wisuda, jadi gw tinggalkan lah bisnis itu. Setelah lulus, gw seperti kehilangan arah. Terus terang, terlahir di keluarga ini, gw gak melihat ada figur orang yang sukses di karir, orang tua gw punya usaha sendiri aja untuk makan dan hidup kami. Gw sering bantu-bantu jadi kasir dan mengoperasikan program kasir komputer sudah dari jaman kelas 2 SD (bahkan kelas 1 SD). Aktivitas bisnis bukanlah hal yang benar-benar baru buat gw.

Setelah lulus, gw pun coba jualan lagi, sekitar hampir 4juta lah gw ngemodal. Tapi gagal dan gw rugi, karena gw banyak gaya, dan sangat awam serta kurang pengetahuan gw tentang cara membuat baju yang bagus dan yang baik. Gw pun gak semangat, coba cari-cari kerja, jadi pengangguran ga jelas di rumah, ditolak-tolakin wawancara sampai bulan November tanggal 30 gw lelah cari-cari kerja eh tau-taunya gw ditawarin Kak Nadilla (kakak ini baik banget deh, makasih ya kak, selama perjalanan gw, kayaknya sering banget dibantu sama Kak Nadilla) buat kerja di sebuah lembaga pemerintah penyedia asuransi kesehatan (you know what lah) sebagai karyawan kontrak cuma satu bulan. Ya karena gw adalah orang yang suka tantangan, dan suka sesuatu yang exciting dan membuat otak gw terus berpikir, gw kurang betah dan gak ngerasa cocok dengan tugas administratif. Hehehe.

Setelah itu, batin gw pun terusik, gw kan pengen buat kuliah S2 ke LN pake beasiswa yang lagi happening sejagad Indonesia itu. Gw urus segala dokumen-dokumen dan setelah tes ielts gw mendapatkan LoA Unconditional (surat masuk tanpa syarat) ke MSc Islamic Finance Durham University. Dan takdir ternyata belum mengijinkan gw untuk berangkat (dan karena gw masih fresh graduate lugu yang masih 'hijau' juga, yang jelas banyaaaak hikmah dan pelajaran yang gw ambil dari ini, walau terasa sakit). Gw janji pasti cerita soal penolakan beasiswa 2x yang membuat gw gak bisa apply lagi akan gw ceritakan, tapi bukan sekarang. Belum mood dan gw belum ingin membagi soal itu disini. Even an extroverted person like me need a space for myself, too. 

Penolakan kedua itu membuat gw sangaaaaaaaaaaaat down, merasa itu titik terendah hidup gw, merasa cita-cita gw hancur, merasa gw produk gagal, orang bodoh, dan orang terbuang. Gw mulai pelan-pelan coba-coba cari kerja tapi gw gak semangat, dan bahkan untuk tes kerja yang sebenarnya mudah buat gw, gw gak lolos. Akhirnya gw lelah, dan gw putuskan... untuk meneruskan yang sebelumnya belum serius gw perjuangkan. Gw gak bener-bener bisa bilang kalo ini "passion", tapi semangat terdalam gw saat gw beraktivitas, dan ngobrol, dan semua-muanya itu di bisnis dan wirausaha. Gw hanyalah remah gorengan di antara wirausahawan hebat, tapi gw yakin kalau gw bisa mengarungi ini semua. 

Gw menjalani @bytwin.ian dengan pelan-pelan dan single fighter, sendirian, tanpa partner. Yang awalnya nama olshopnya super culun karena gak kreatif ngasih nama, akhirnya gw ganti sampai ke @bytwin.ian. Teringat salah satu teman bilang "gak mau nikah? bisnis bareng suami kan seru". Hmmm, bisnis gak harus nunggu apapun kalau mau mulai, jalani aja dari sekarang kalau memang niat, bukan nunggu-nunggu terus. Atau ada aja orang yang nanya, "gak mau kerja aja, lowongan x lagi buka nih". Bukannya gak mau kerja sih, tapi gw udah lelah dengan penolakan kerja. Hahaha. Dan bisnis ini susaaaaaah banget buat disambi. Bahkan bisa dibilang hampir gak mungkin. Kecuali sebagai dropshipper, jadi tim marketing aja. Selain itu, gw emang gak betah dengan jam kerja nine to five dan gw orang yang cepat bosan untuk urusan kerjaan. Kalo ada yang tanya, enakan bisnis atau kerja aja? Ya bagi gw yang karakternya begini, ya jelas enakan bisnis. Tapi bagi orang lain? Gw gak tau.

Bisnis ini membuat gw harus menjadi wanita tangguh, dari mulai awalnya angkut-angkut barang sendiri dari Tanah Abang ke stasiunnya, sampai pakai porter, dibantu saudara kembar gw, Ani, atau dia jadi model buat baju jualan gw *LOL*, terus harus bawa 70pcs baju di karung pake motor, nyetir sendiri ke Tanah Abang, hujan-hujanan di motor setelah beli kain. Alhamdulillah, selama ini sepertinya Allah mudahkan, walau gak benar-benar mulus jalan gw. Gw masih terus belajar dari kesalahan, dari komplain pembeli, dan dari apa yang gw rasa kurang ketika pakai produk gw sendiri. Dan dari itu semua gw belajar, ternyata memang harga bersaing yang orang cari, tetapi kualitas lah yang membuat konsumen menjadi loyal dan senang terhadap barang kita. Hidup gw sekarang terasa sangat "susah" dan merasa "miskin", setiap ada uang lebih, gw kepikiran harus bayar jahitan, harus bayar beli kain nanti, dll.

Gw juga jadi dipertemukan dengan orang-orang yang mau berbagi dan membuat pengetahuan gw tentang bisnis pakaian makin bertambah. Rasanya gw bersyukur, memang ini bukanlah hal yang awalnya gw inginkan, tapi gw merasa senang bisa menyelami aktivitas ini. Dapat pengetahuan baru dari mulai dari kurir, supplier kain, konveksi, kakak kelas, orang tua, penjahit, pembeli yang bersemangat, serta dropshipper gw yang membuat gw lebih terpacu untuk melawan rasa malas dan terkadang jenuh. Walau sementara ini sering terlintas dan mengganjal pikiran, apa yang akan gw lakukan kalo bisnis gw ini semakin besar dan gw ingin meneruskan cita-cita untuk S2 ke LN? Bismillah, jalani aja dulu, Tuhan yang akan jawab.

Kamis, 08 September 2016

Lelah Jadi Manusia Kembar

Pengen nulis tulisan yang gak terlalu serius sekarang. Seperti yang orang-orang ketahui, gw adalah manusia yang ditakdirkan terlahir kembar identik. Gak terhitung ya berapa kali orang salah manggil sampe takjub denger suara gw sama Ani (kembaran gw) yang bahkan kata mereka sama. Walaupun kalo adik-adik dan orang tua gw sih tau biarpun kadang salah. Bingung sih sebenernya umur udah 22 tahun tapi tetep aja masih suka ditanya-tanya tentang kekembaran gw sama orang di angkutan umum, dimana-mana dll. Padahal kalo gw liat sih muka gw sama dia kan beda, beda banget malahan, jelas cantikan gw. Sebelumnya gw pernah nulis sih tentang rasanya anak kembar juga, nih liat aja. Suka pada nanya gimana rasanya jadi orang kembar, nih gw ceritain deh:

1. Selalu mendapat pertanyaan template.
Kata temen gw yang kembar juga sih, yang nanya baru sekali yang ditanya udah ribuan kali. Bosan, malas, dan lelah aqu. Lagi ngobrol atau baru kenalan bahkan gak kenal tiba-tiba disamber pertanyaan, diantara lain:
"wah beda berapa menit?" 2 menit
"bedanya apa?" ya mana gw tau kan bagi gw sih beda, gatau menurut lu apa
"yang kakak yang mana?" ini yang lahir duluan (nunjuk diri sendiri)
"loh harusnya yang kakak yang lahir kedua dong kan dia yang mendorong si yang pertama duluan, kita sih orang jawa begitu" ye kok lu yang ngotot sih, gw yang kembar bukan lu, di akte kelahiran juga gw anak pertama, lagian gw bukan orang jawa. auk ah emosi
"kalo punya pacar ketuker ga tuh" sorry gw sih gak pacaran, kan kata ustadz haram *ciyegitu
"Namanya siapa?" ian sama ani
"Loh kok bukan ani dan ina?" Lah mana gw tau yang ngasih nama kan orang tua gw, ina mah nama adik sayah

Terus... buat ngehindarin ditanya pertanyaan membosankan dan sebenernya gaada manfaatnya juga, gw pun suka menyiasati dengan trik...

2. Jangan duduk di angkot sebelahan, mending berhadapan aja untuk menghindari orang kepo.
Biasanya sih, kalo di angkot duduk sebelahan, orang di kursi hadapan kita yang sedang bosan di perjalanan akan melihat kemiripan dan mulai mencari lima perbedaan yang ada pada wajah si kembar. Lalu biasanya mereka akan mulai menanyakan lagi pertanyaan-pertanyaan template tersebut.
 
3. Orang sering menganggap udah "mahir" membedakan padahal sih gw suka nyaut aja kalo dipanggil "Ani"
Karena keseringan dan males kalo segala harus "klarifikasi", gw dan Ani suka nyaut aja kalo orang salah manggil nama, ya daripada lama. Tapi kemudian orang-orang tersebut menganggap dirinya benar. Padahal sebenernya kalo gw dipanggil "Ani", males banget kalo gw selalu harus bilang "Ini ian bukan ani" capek ah mending langsung jawab aja Haha.
Pernah nih gw masih inget kejadiannya, pas kelas 2 SMA dulu gw baru pertama berhijab dan kerudung yang gw punya sedikit, beda sama si Ani yang udah pake kerudung sejak lama dan kerudung dia buat sekolah jauh lebih banyak daripada gw. Sewaktu-waktu kerudung gw abis dicuci semua dan gw bingung pake kerudung apa ke sekolah. (Coba aja ya pas jaman gw sma dulu ada kerudung anti tembem kayak sekarang, mungkin foto gw jaman SMA gak sememalukan sekarang. wkwkwk). 
Okay lanjut, pas gw bingung pake kerudung apa akhirnya gw pakai kerudung Ani. Baru jalan di koridor sekolah mau masuk pintu kelas pun orang-orang udah salah nyapa gw jadi "Ani" dan gw langsung bilang "ini Ian bukan Ani" dan semua pun langsung heboh -_-.
Dan gw kzlll zblll kalo gw dijulukin upin-ipin, kembar-kembir or whatever.

4. Dikira satu orang
Pernah nih ya gw main ke kosan Ani pas di Bandung. Gw kira temen-temen kosannya pada tau aja kan kalo dia kembar, taunya ternyata belum pada tau. Keluarlah gw dari kamar si ani buat ke kamar mandi. Lalu ada temannya yang nyapa, "eh Ani, potong rambut ya sekarang", gw pun jawab, "ini bukan Ani, ini kembarannya Ani namanya Ian". Gw mikirnya kan dia udah tau aja, ternyata karena si Ani sifatnya suka bercanda dia pun menyangka kalo Ani emang potong rambut dan gaya-gayaan bilang punya kembaran, dan dia bilang, (namanya Vira) "Oh, ini juga kembarannya Vira, namanya Viro". Sekitar beberapa waktu kemudian, Vira pun hendak meminjam sesuatu ke kamar Ani dan super kaget pas liat ternyata Ani emang kembar. LOL

Pas wisuda, si Ani cerita dia beberapa kali dikasih bunga dan dia sampe ngomong "ini bukan Ian" ke orang-orang katanya. Gw wisuda duluan sih bulan September, sedangkan dia Oktober. Berbekal pengalaman tersebut, saat arak-arakan wisuda di ITB gw menghindari memakai baju kebaya biar orang lain gak salah mengira. Ya awalnya sih pas gw ikut barisan sih fine-fine aja ya kan si Ani juga sebelah gw pake toga jadi apalah gw kan bukan wisudawati. Saat arak-arakan sudah sampai ujung, gw pun lelah dan memutuskan keluar dari barisan. Lalu... tiba-tiba gw dipeluk dan cipika-cipiki. Wkwkwkwk.

Ada lagi cerita sales di Toko orang tua baru aja kemaren bilang "kok saya ga pernah ketemu kembarannya sih selama saya jadi sales di toko ini", gw pun jawab, "yaeyalah emang Bapak nyadar  pas kembaran saya yang jadi kasir, kan Bapak liatnya sama aja kale mukanya".

Terus ada lagi cerita pas gw masih kecil, gw juga lupa berapa umur gw disitu. Ceritany gw sekeluarga lagi makan di KFC, lalu si Ani duluan minta tutup gelas pepsi ke kasir, dapetlah dia. Setelah Ani ke kasir, gw pun ke kasir lagi buat minta tutup juga, eh ternyata gak dikasih karena kata kasirnya "Loh gimana sih kan tadi udah, masa minta lagi", gw jawab "masa sih mbak, belum ah". Gw pun bete dan ngajak Ani ke kasir juga biar kasirnya tau kalo gw kembar. Lalu kasirnya kaget sampe melotot liat ada dua x)).

Apalagi ya? Sebenernya banyak sih, tapi yang gw inget sekarang itu aja, dan gw seneng tertakdirkan jadi anak kembar identik, kayak pemberian dari Tuhan aja sih dari sekian banyak orang yang terlahir di dunia sendiri, gw jadi anak kembar. Yang bikin bosennya cuma pertanyaan template aja. Hahaha

Selasa, 06 September 2016

Sharing tentang Beriklan di Instagram

Well, pengen nulis post ini karena... selama ini gw mencoba  googling tapi gak ketemu, jadi ya gw mencoba nulis hasil pengalaman gw aja, no? Sebenernya bisnis online itu gak cuma tentang iklan atau sekedar berjualan, tapi rangkaian dari hulu ke hilir, mulai dari produksi sampai barang sampai ke konsumen. Apa karena gw bukan reseller ya tapi produksi sendiri? Ah yang jelas lumayan menguras waktu dan gak bisa double-job. Gw gak berniat bahas yang lain, yang gw akan bahas adalah marketingnya aja. Kalo tentang berjualan, gw pernah nulis sih di post ini

Gw mulai serius menekuni bisnis online ini 1,5 bulan terakhir. Tapi account ini udah ada dari sekitar tahun 2014, cuma ya sebelumnya setengah hati aja ngejalaninnya. Produk yang gw jual adalah berupa dress dan rok, sebagai pemula tentu gw masih banyaaaaak yang perlu dibenahi. Dan followers @bytwin.ian juga sebenernya masih terhitung sedikit, sampai post ini ditulis ada sekitar 2.800. Gak bener-bener tahu karena belum sampai ke titik followers 5.000, tapi berdasarkan hasil sharing dengan teman gw yang sering gw tanya-tanya pengalamannya bisnis online lebih dulu dari gw, kalo followers udah sampai lima ribu jualannya lebih lancar. Kenapa gw sharing? ya semoga aja bermanfaat dan senang bisa sharing.

Dari sekian banyak pengalaman, jualan di instagram ini kuncinya adalah pada foto, dan page yang selalu ada viewers, tapi untuk mendapat pelanggan tetap, ya kuncinya sama aja kayak jualan di toko offline biasa, kualitas dan apa yang dibutuhkan konsumen harus tetap ada di produk itu. 

Pertama-tama, harus tau dulu teknik-teknik pemasaran di instagram. Kalau yang advanced sih ada instagram ads, pernah dikasihtau sama teman caranya gimana, tapi belum sempat aja buat prakteknya, selain itu juga stok dari penjualanku belum sebesar itu buat iklan disini. Setelah instagram ads, teknik promosi di instagram ada paid-promote, endorse, paid keroyok, paid keroyok target, post terus dengan hashtags banyak (bisa dengan membuat akun promosi hashtag), sfs (shout for shout, yang sering dianggap spam-for-spam), spamming, fff (follow-for-follow), lfl (like-for-like). Atau juga teknik menggembok instagram biar banyak followers dan bisa memberikan giveaway, atau spamlike biar tetap ramai.

Sebenarnya, cara tercepat buat dapat followers itu yang gratis pula adalah dengan fff, tapi fff ini engagement dengan followersnya rendah, para followers tersebut follow bukan karena dia betul-betul ingin dengan produk yang ada dalam akun onlineshop tersebut. Dan lagi, dengan cara fff ini angka following terlihat terlalu banyak dan tidak terlalu "elegan" dilihatnya.

Sejauh ini, yang mendatangkan konsumen secara efektif adalah paid promote. Gw belum pernah endorse yang benar-benar efektif, tapi alhamdulillah fotonya bagus deh jadi ya gak rugi juga mengendorse. Ya mungkin karena influencer untuk endorse yang gw pilih bukan yang benar-benar punya "fans", karena banyak juga yang punya followers puluhan bahkan ratusan ribu tapi sebenarnya selebgram tersebut engagementnya rendah terhadap followersnya.

Selama gw paid promote berkali-kali, tentu ada saatnya gw gagal dan ada saatnya gw berhasil dan promosi tersebut mendatangkan ratusan followers dan banyak pembeli, bahkan pelanggan (alias pembeli yang repeat order). Berdasarkan pengamatan gw, kalau mau efektif, ini caranya:

1. Foto yang bagus dan jernih.
Selain bagus dan jernih, fotonya pun harus fokus pada SATU PRODUK SAJA. Mungkin sebelumnya kita ingin kalau promosinya lebih menghasilkan banyak "celuk" pasar, misalnya pembeli peminat rok sekaligus dengan dress, tetapi hasilnya, jika kita ingin menampilkan terlalu banyak, hasilnya adalah konsumen yang sedang scroll home timeline instagramnya malah tidak memperhatikan produk yang ditawarkan. Secara psikologis, kita pribadi melihat instagram hanya scroll dan melihat hanya sekian detik, kan? Atau kecuali foto yang mengesankan dan menarik, maka... untuk memperpanjang detik orang melihat foto kita pada timeline yang sekedar lewat, tampilkanlah kualitas foto yang baik.

2. Jam dan tanggal tayang
Secara umum, orang lebih sering membuka instagramnya pada saat malam, jam makan siang, setelah bangun tidur (mungkin), atau sebelum tidur, kan. Nah, sisi inilah yang juga diperhatikan, akan ada berapa banyak viewers dan akan menjadi followers bahkan berubah menjadi pembeli yang datang? Tanggal pun diperhatikan, selama gw berjualan, pada tanggal gajian, lebih banyak orang yang tertarik untuk berbelanja dan memenuhi koleksi lemarinya. 

3. Caption yang menarik
Dari buku yang gw baca dan akhirnya gw sadari, orang membeli suatu produk sebenarnya hakikatnya adalah MANFAAT yang ia dapatkan di produk tersebut. Misalnya, banyak perempuan yang ingin dress yang dapat digunakan untuk menyusui, dress yang tidak menerawang, rok yang harga terjangkau tapi tetap menarik, dan hal-hal lain yang ingin dimiliki oleh orang tersebut. Inilah mengapa menggunakan model yang visually-attractive mempengaruhi penjualan secara signifikan. Karena para pembeli merasa bahwa jika ia memakai baju itu, maka ia dapat terlihat seperti model yang memakai.
 
4. Memilih page yang kualitas followersnya baik
Ada yang murah fee beriklannya, tapi kualitas followersnya tidak sebagus kualitas followers yang lain. Ya pintar-pintar pilih page yang bagus aja sih, apa karakteristiknya sesuai dengan target pasar yang kita inginkan.

Apalagi, ya? Mungkin ini dulu yang bisa gw share. Semoga bermanfaat!

Senin, 04 Juli 2016

Alasan Pilih di KRL Gerbong Wanita

Walaupun kebanyakan orang berpendapat kalo gerbong wanita itu egois, kejam, sadis, dan sebagainya, tapi gw adalah "langganan" memilih gerbong wanita kalo naik KRL. Yah tapi emang gw relatif jarang sih naik KRL, bukan tiap hari kayak orang-orang kantoran itu. Tapi yha lumayan lha gw kan tinggal di Bogor jadi kalo ada keperluan ke Jakarta atau Depok dsb gw naik KRL. Menurut gw sih, sebenarnya gerbong wanita tidak seseram itu kok, malah gerbong wanita punya beberapa kelebihan daripada gerbong campuran. Diantaranya yaitu:

1. Lebih nyaman dan tidak merasa risih kalau berdesakannya dengan sesama wanita.
 Pada saat jam ramai, rasanya jauh lebih mending dan nyaman untuk berdesakan dengan sesama wanita, aja. Gak perlu takut bersentuhan dengan laki-laki. Apalagi kalo KRLnya lagi padat kayak teri dalam toples.

2. "Aroma" keringat dan bau di gerbong wanita masih lebih mending daripada gerbong campur.
 Nah kalo yang ini, gerbong wanita juga bukan berarti gak bau sih, tapi jauh lebih mending hehehe. Dibuktikan kalo udah sampe final destination alias stasiun Bogor penumpang laki-laki berdatangan ke gerbong wanita paling ujung... beuh baunya yaaa gitulah.

3. Takut dicolek, pernah ada kejadian tidak mengenakkan di gerbong campur.
 Gak cuma sekali, ada bapak-bapak iseng pas gerbong gak penuh sengaja senggal senggolin kakinya ke kaki gw. Spontan langsung aja gw pelototin. Bapak-bapak itu langsung pindah tempat deh. Bagus lah, siapa suruh iseng. Sejak kejadian begini neh gw ga mau naik di gerbong campur.

4. Ngerasa gak enak kalo dapat kursi terus ada bapak-bapak yang tua yang menolak diberikan kursi.
 Kadang suka pengen ngasih kursi eh tapi dia nolak terus juga kan laki-laki lain juga banyak yang pura-pura gatau malahan pura-pura tidur. Ya gitulah pokonya haha.

5. Sebenernya di gerbong campur juga sama aja ada yang egoisnya, kok. 
 Walau gw akui emang lebih cepet dapet korsi di gerbong campur (lol), tapi sepengalaman gw, bukan di gerbong wanita doang yang suka egois ngasih kursi. Pernah dulu di gerbong campur ada bapak-bapak pura-pura tidur pas ada ibu-ibu gendong anak bayi naik. Akhirnya kakak kelas gw (perempuan) ngalah buat ngasih kursi ke ibu-ibu itu.  *sigh*

6. Sering relatif lebih sepi dibanding gerbong lain.
 Sering lho gw dapet kursi disini, yah minimal lega deh gak sedek-sedekan, sedangkan gerbong lain penuh banget. Hehehe

Sekian pendapat gw, kalian gimana?