Minggu, 01 Mei 2016

Sepupu Bukanlah Mahram

Saya bukanlah perempuan yang bercadar, belum berjilbab syari yang sangat lebar ataupun lebar. Sampai sekarang, sejak Oktober 2009 saya memutuskan berhijab, saya masih belajar untuk berhijab secara sempurna. Saya memang hanya seorang muslimah biasa saja, belajar untuk memakai rok, tetapi terkadang walau jarang masih memakai celana jeans. Walaupun hijab saya masih jauh dari sempurna, saya adalah orang yang memegang teguh prinsip saya. Saya menjaga dan tidak ingin aurat saya dilihat oleh sembarang orang yang bukan mahram.

Darimanakah standar saya menjaga aurat terhadap orang lain? Hal tersebut tercantum pada Al Quran surah An-Nur ayat 31, "Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”  

Untuk lebih mudahnya, nih saya comot dari google diagram mahram (sumber: http://berkhalifah.com/siapa-saja-mahram-kita-dalam-islam/)


Bagi orang lain yang tidak memiliki prinsip yang sama dengan saya, terutama keluarga, seringkali mereka mengatakan bahkan memaksakan kehendak mereka bahwa sepupu juga boleh melihat aurat karena masih saudara. Padahal, berdasarkan dalil yang ada, sepupu (alias anak dari saudara kandung ayah) tidaklah termasuk pada mahram wanita. Rumah saya merupakan rumah yang terkadang ada beberapa laki-laki yang harus masuk karena keperluan bisnis orang tua ataupun saudara yang berkunjung. Hal ini membuat risiko aurat saya terlihat oleh orang yang bukan mahram besar. 

Kenapa saya marah? Karena usaha saya menjaga aurat dan mempertahankan prinsip saya gagal saat ada orang, terlebih laki-laki yang bukan mahram saya, yang mengatakan dan beralasan bahwa mereka masuk ke rumah secara tidak sengaja, padahal mereka sama sekali tidak mengucapkan salam dan/atau mengetuk pintu sebelum masuk yang membuat saya gagal. Mengapa saya kesal? Karena seharusnya jika mereka bertamu dan menyadari ada wanita berhijab didalamnya, seharusnya memperhatikan adab sesuai firman Allah SWT pada surah An-Nur ayat 28-29.

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik agar kau selalu diingat." (28)
"Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu "Kembalilah!" Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (29)

Yang saya sebal adalah jika saya dipaksa untuk melanggar prinsip hidup saya bahwa "gakpapa kali sepupu ngeliat aurat mah, kan saudara". Maka sepupu tersebut seenaknya masuk rumah tanpa mengetuk pintu dan memberi salam sehingga saya tidak bisa siap-siap berhijab pakaian. Gak bisa dong, sembarangan gitu, prinsip saya kan tidak seperti itu. Apalagi saya sudah pernah menghimbau pada dia untuk masuk dengan salam dan ketuk pintu. Ini membuat saya emosi dan marah. Apalagi prinsip hidup saya diremehkan begitu saja. Akan sangat merepotkan diri saya, dong, jika di dalam rumah saja saya harus berbaju tertutup. Rumah itu kan hijab juga bagi perempuan. Kalau masih ngomong "berprinsip boleh tapi jangan saklek", itu tandanya masih belum menghargai sepenuhnya prinsip orang, sih.

Bagi seorang muslimah seperti saya yang selalu menjaga auratnya agar tidak terlihat pada laki-laki selain mahram, rasanya sangat sedih, marah, dan beragam perasaan tidak enak bercampur jika saya gagal menjaga aurat agar tidak terlihat. Terus terang saya rasanya sangat kesal, sedih, serta sakit hati saat orang malah mencemooh saya. Rasanya kecewa saat suatu hal yang telah dijaga hari demi hari hilang begitu saja. Bahkan saya bisa saja marah tak terkontrol jika hal itu terjadi.

Saya sadar bahwa tidak semua perempuan berprinsip dan berpikiran seperti saya untuk menjaga aurat. Saya menghargai prinsip dan pemikiran tersebut, dan saya akan sangat senang kalau prinsip dan pemikiran saya pun dihargai. Makin kesal dan sedih rasanya jika prinsip saya ini dibilang lebay atau radikal. Padahal jika aurat saya terlihat, maka yang dirugikan dan jadi gak enak kan saya dong, tubuh saya pun ya saya yang berhak mengaturnya siapa saja yang boleh melihat. Sama seperti perempuan lain yang mengatakan "perayaan kebebasan tubuh", sama dong berarti dengan prinsip saya, terserah dan otonomi saya untuk memperlihatkan tubuh saya ke siapa.

Melalui tulisan ini saya berpesan pada setiap laki-laki, dan apalagi pada setiap perempuan lain yang bisa saja berprinsip beda untuk menghargai prinsip hidup setiap orang, salah satunya muslimah seperti saya ini. Hal yang menurutmu biasa saja dan tidak penting, bagi orang seperti saya adalah hal yang penting untuk dijaga. Masing-masing manusia memiliki prinsip hidupnya masing-masing, bukan?

Selasa, 16 Februari 2016

Nikah?


Cinta adalah hal yang banyak diagung-agungkan hampir seluruh orang. Bahkan orang yang berpikiran paling logis dan rasional dapat berubah menjadi orang yang paling melankolis dan irrasional ketika jatuh cinta. Karena cinta mereka bisa melakukan banyak hal, mulai dari bertransformasi menjadi orang yang lebih baik hingga membenarkan perilaku dosa. Dibandingkan perempuan-perempuan di sekitar gw, gw merupakan seorang perempuan yang cenderung lebih banyak menggunakan logika dan lebih sedikit memakai hati dalam pemikiran serta keputusan-keputusan yang gw ambil.

Sebelumnya, sewaktu gw menjadi mahasiswa, banyak sekali "dongeng-dongeng" akan betapa indahnya menikah muda. Ditambah lagi dengan dakwah islami yang menyebar di media sosial maupun dunia nyata yang menyatakan bahwa pacaran itu haram. Menikah pun semakin diasosiasikan sebagai "pacaran halal". Hmmm iya sih awalnya gw juga mikir gitu. "Asik kali yaa kalo nikah muda". "Asik kali yaa kalo punya temen blabla...". Tapi lama-lama pemikiran semacam itu pun bergeser karena banyak hal. Pernikahan di otak gw bukan lagi tentang pacaran halal, tetapi sebagai suatu hal yang perlu dipertimbangkan secara hati-hati dan tidak bisa terburu-buru, setidaknya bagi gw pribadi.

Setelah lulus, teman-teman seangkatan gw pun mulai banyak yang memutuskan menikah, apalagi kan sekarang jaman taaruf-taarufan. Dan entah kenapa semua kabar-kabar pernikahan yang gw terima, dari mulai kabar yang udah terverfikasi sampe kabar burung, membuat gw merasa..... tua dan awkward. Gw jd merasa seperti diingatkan bahwa di umur 20an gw ini pun nanti akan ada giliran gw juga. Dan gw pun heran kenapa mereka merasa sesiap itu untuk menikah? Sudah ikhlas menjadi istri seseorang. Dan gw juga heran sama temen gw yang bilang "persiapkan nikah blabla"... hmmm emang apanya yang harus disiapin? Bukannya itu sekedar common sense? Apalagi kalo siapin dari segi agama, bukannya tujuan siapin itu karena Allah? Kenapa harus siapin karena nanti bakal ada suami bakal nikah bakal jadi ibu blablabla?

Apalagi kalo emak gw, sodara, atau temen bilang "belajar rapih-rapih biar nanti kalo punya laki terbiasa". HELLOO~~ ini nih yang paling bikin gw malah jadi males nikah muda. Gw mikir.. ummm... emang nikah jadi pembantu gitu ya? Hmmm iya sih emang kebanyakan laki-laki kan pemales urus rumah, tapi kan gak berarti gw rapih-rapih tujuannya suami keles, rapih-rapih mah rapih-rapih aja supaya rapih (ya pokoknya maksud gw gitu).Yang lebih absurd lagi kalo gw liat akun dakwah atau obrolan temen gw tentang "Panjangkan jilbab, tutup aurat, jangan berdandan karena suami lebih suka yang blabla". Horeee gw sih gak punya suami, jadi bebas dong? Lagi-lagi gw berpikir, kalo mau jadi yang lebih baik ya berubahlah karena Tuhan, bukan karena "impian punya suami sempurna".

Dan salah satu hal yang masuk di otak gw juga adalah, menikah itu adalah tentang menunda realisasi ambisi dan cita-cita. Yaa mungkin sih bagi sebagian orang dan "pakar-pakar nikah" itu nikah gak akan membuat cita-cita hilang dan pergi, tapi kan tetep aja kan pasti akan tertunda? Misalnya aja kalo mau s2, atau membangun bisnis startup, atau malah bangun karir kantoran, dll... kalo nikah, bagi perempuan, pasti prioritas pun akan berubah menjadi keluarga, harus banyak mengalah dan banyak yang jadi pertimbangan. Yaa mungkin ada sebagian perempuan yang bisa mengejar cita-cita tanpa melupakan keluarga, tapi kan itu outlier bukan modus atau mean dalam data hahaha. Apalagi kalo udah hamil, hmmm pasti nanti abis melahirkan harus nyusuin anak, urus semua-muanya tentang anaknya juga. Dan gw berpikir pasti kalo udah jadi seorang ibu mau gak mau pasti pikiran akan selalu tercurah buat anak. Kalo belum siap, lebih baik nanti aja pas udah siap lahir batin, ketika jalan menuju cita-cita sudah terbuka, ya minimal terbuka setengahnya. Saat itulah gw mampu buat ikhlas dan memprioritaskan seluruh pikiran dan waktu buat keluarga. Lagian kalo sekarang kagak ada juga sih yang lamar (dan ini bukan kode ya maksudnya) hahaha.

Selanjutnya adalah tentang kesetiaan. Hal yang bayanginnya aja bikin merinding disko adalah diselingkuhin atau dipoligami. Soal isu ini bikin gw sebel, apalagi kalo sebabnya adalah karena si istri dianggap gak cantik lagi, sudah menua, dan sudah menggendut. HELLO~~ kan si suaminya juga udah gak secakep dulu, udah tua juga, perutnya juga udah buncit, palingan menang di duitnya doang sih yang nambah banyak (okay duit bukan "doang"). Ngeliat banyak kasus-kasus kayak gini sih yang bikin gw takut. Mungkin ketakutan dan kegalauan kayak gini gak hanya ada di pihak perempuan ya. Bagi laki-laki, dia takut pasangannya pergi karena dia gak selalu ada dan uangnya habis. Bagi perempuan, dia takut pasangannya pergi karena kelak kulit cantiknya pun akan keriput dan menua dimakan oleh waktu.

Belum lagi soal isu poligami. (Oke sebelumnya disclaimer: ini adalah pandangan gw sebagai perempuan atas isu itu). Gw gak menganggap poligami adalah sesuatu yang haram karena memang firman Allah SWT dalam Al Quran membolehkan hal tersebut. Dan menurut gw sah-sah aja kalo memang semua pihak di keluarga itu mau, pilihan hidup mereka. Tapi gw gak akan mau mengambil pilihan hidup macam itu. Dan yang gw gak setuju adalah kalau poligami hukumnya dikatakan sunnah, sedangkan hal itu sebenarnya hukumnya mubah (boleh) saja. Bisa sih dikatakan "adil", tapi bagi gw pribadi, buat apa "membagi" kalau bisa "dapat semua"? Dan hati yang terluka karena diselingkuhi atau dipoligami bukan hanya sekedar karena "cinta yang terbagi", tetapi juga soal "harga diri". Perasaan dibuang dan disepelekan itu menyebalkan. Soal isu ini sensitif sih, alhamdulillah gw tidak terlahir dari latar belakang keluarga yang ayahnya punya istri lebih dari satu. Berikut pengamatan gw tentang poligami:

Pertama, biasanya poligami itu terjadi kalau istri pertama tidak punya penghasilan sendiri. Posisi istri pun dianggap dibawah dari "level" suaminya. Yang awalnya enjoy-enjoy aja jadi Ibu Rumah Tangga, nemenin suaminya berjuang dari miskin, pas udah tua pun suaminya banyak uang sedangkan dia gak menghasilkan uang sama sekali. Suaminya pun mikir kalo dia poligami istrinya gak akan berani buat gugat cerai, karena istrinya "susah gerak". Istrinya pun milih sabar demi anak-anaknya walaupun rasanya sakit hati. Kedua, perempuan yang rela dipoligami biasanya menikah karena "agama dan Allah SWT" dan "kewajiban", not because of what so called "love". Perempuan ini biasanya merasa bahwa cukup berat tugasnya di rumah.. melayani suami, mengurus anak, merapihkan rumah, dll dll. Lalu dia pun merasa tugas beratnya itu akan berkurang jika "bagi-bagi tugas" dengan perempuan lain. Lumayan kan, suaminya gak selalu ada di rumah, ya jadi setengah minggu aja. Ngurang deh sebagian kewajiban dia. Tapi bagi perempuan yang menikah karena cinta atau gak nganggap kewajiban itu sebagai "beban"? Ya sorry-sorry aja deh bagi-bagi :D. Ketiga, kalo dipoligami itu nanti uang dan harta warisan bagian istri dibagi dua, tiga, atau empat ke istri-istrinya. Nah ini nih malesin. Terus kalo si istri meninggal duluan, harta warisan dia bakal gede bagian buat suaminya. Dipake deh tuh uangnya buat seneng-seneng sama si madu. Hahaha (sorry if I sound rude). Dan banyak hal lain tentang poligami tapi gw udah males nulisnya :p.

Yaa tapi walaupun banyak banget hal yang membuat gw skeptis tentang pernikahan, bukan berarti gw gak mau nikah sih. Bukan apa-apa, kalo gw gak nikah nanti gw gak bisa menyempurnakan separuh agama dan lebih parahnya gw lebih takut kalo pas gw udah tua gw menjelma jadi nenek-nenek sebatang kara yang hidup sama kucing hahaha. Cita-cita gw sesimpel jadi ibu dan istri yang memprioritaskan keluarga, bisa mengaktualisasikan diri gw, dan punya penghasilan sendiri sih.Then again, gw minta maaf kalau postingan ini menyinggung pihak tertentu. Tulisan ini murni catatan pribadi dan catatan santai aja :D

Sabtu, 06 Februari 2016

Pengalaman dan Persiapan Mengikuti Tes IELTS

Tulisan ini dibuat karena gw berjanji ke diri sendiri kalau nilai IELTS gw minimal 6.5 dengan masing-masing elemen minimal 6 (sesuai syarat beasiswa dan universitas yang gw mau), gw akan posting di blog tentang cerita perjalanan gw mengikuti tes IELTS ini. 

Disclaimer: Saya tidak mengambil preparation course karena sudah merasa cukup pada writing dan speaking section. Saya mengikuti kursus bahasa inggris di LIA selama 4 tahun dari 2006-2010 (saat SMP-SMA). Jika ada yang merasa kurang di writing dan speaking section, dan membutuhkan skor tertentu dalam jangka waktu dekat alangkah baiknya mengambil preparation course. Tentunya berbeda dengan listening dan reading section yang lebih mudah dilatih sendiri tanpa tutor.

Setelah lulus dari sidang dan segala aktivitas mengurus kelulusan, gw semangat untuk belajar IELTS. Sebelumnya, dari organisasi gw, SES-C IPB, ngadain acara pelatihan dan simulasi IELTS tanpa speaking, gw yang sebelumnya sama sekali gak familiar dengan format dll IELTS ikut simulasi tanpa persiapan. Sebenernya setelah gw belajar sendiri, gw jadi tau sih itu soal IELTSnya ambil dari buku Cambridge aja ternyata. Skor gw saat itu adalah Listening 6, Reading 5, Writing 5. Setelah itu gw jadi semangat dan tertantang buat ningkatin kemampuan IELTS.

Langkah pertama, gw beli buku kecil tentang tips IELTS dan beberapa tesnya, lumayan sih buat dibaca2, warna pink-hitam gitu deh bukunya. Setelah beres sidang, gw penasaran tentang kemampuan speaking dan writing gw, akhirnya gw datang ke ILP Cimanggu Bogor yang di Jalan Baru, nanyain tentang ada atau gak prediction test buat IELTS disitu dan ternyata disana juga tempat tes resmi dari IALF buat tes. Gw pun mikir buat uji kemampuan yaudah gw mau tes prediction aja dulu dan seterusnya belajar sendiri kalo emang skor writing dan speaking gw udah cukup buat syarat. Harga untuk mock test disitu untuk non native examiner IDR 250.000, sedangkan kalo mau near native examiner IDR 300.000. Berhubung IELTS asli kan examinernya bule, yaudah gw pilih near native examiner aja.

Saat gw mock test disitu, yang gw agak kecewa adalah kertas soal listening yang gak bisa dicoret-coret, padahal kalo tes aslinya kan lembar soal listening bisa dicorat-coret jadi lebih gampang untuk konsen mindahin jawabannya. Yaudahlah ya tapi kan itu mock test ini. Bagian speakingnya examiner gw laki-laki bule yang masih muda, gw lupa siapa namanya haha cuma lumayan berkesan sih speaking ini, karena kan sebelumnya gw ga pernah sama sekali. Hasil dari mock test gw saat itu adalah Listening 5, Reading 5, Writing 6.5, dan Speaking 7. Agak shock sih karena gw sebelumnya kepedean tentang listening sama reading.

Abis itu gw liat-liat dan browsing tentang biaya kursus IELTS Preparation, kok mahal-mahal semua ya bagi gw yang kantongnya pas-pasan, sekitar 3,5-5jutaan. Malah gw sempet ikutan placement test gratisan dari tempat kursus yang lagi promo stand di Botani Square hahaha tapi ujungnya gak jadi. Emang sih awalnya ayah bilang kalo dia mau bayarin biaya gw les IELTS, tapi gw ngerasa gak enak aja abis lulus kuliah minta-minta uang lagi, walau ujungnya gw tes IELTS pake uang ayah sih :p
Atas dasar skor prediction test gw yang gw anggap cukup untuk writing dan speaking, gw memutuskan untuk fokus belajar pada listening dan reading aja dulu. Gw pun akhirnya inisiatif buat download materi IELTS dari Cambridge 1-10 dan Barrons versi lama. Tapi setelah gw belajar dan try out sendiri lagi, kok materinya gak cukup ya, gw takut sampe ujung gw belajar soal-soal itu hasilnya masih stagnan aja. Dari hasil browsing gw, nilai Listening dan Reading untuk Academic Training itu skalanya kira-kira begini berdasar hasil jumlah bener dari total 40 soal:


source: https://ieltstacticsblog.wordpress.com/2015/10/17/do-you-know-how-ielts-band-score-is-calculated/
Karena skor Listening dan Reading yang relatif stagnan dan jalan di tempat di skor 5 sampe maksimal 6 aja (pernah sih sekali skor gw 6.5 terus langung jingkrak-jingkrak), akhirnya gw memutuskan untuk memperbanyak amunisi dengan download banyaaaak banget materi, diantaranya yang menurut gw bagus adalah Cambridge IELTS Trainer, Macmillan Testbuilder, Complete IELTS band 6.5-7.5 (ini recommended banget sih menurut gw, soalnya dia bukunya kayak buku les gitu dan ngebuat gw bisa belajar step by step dan ada tips-tipsnya juga), ya pokoknya banyak banget lah sampe ujung-ujungnya banyakan yang ga kepake haha karena gw dikejar waktu dan mungkin gw kurang konsisten dalam menerapkan jadwal belajar.
Pertama untuk Listening, kesulitan dan kesalahan yang gw alami adalah:
- jawaban yang diminta adalah yang tidak terdengar jelas karena kosakata yang agak advanced di telinga gw, terutama untuk section 4.
- ini fatal sih, kurang huruf "s" saat menulis jawaban, misalnya yang diminta adalah "books" bukan "book", maka salah. Atau gw tidak menulis grammar secara sesuai dengan yang diminta soal, bukan yang kita dengar. Misalya di isian soal ditanya "Nationality", di speaker terdengar "...from Indonesia", isinya yang benar bukan "Indonesia", tapi "Indonesian".
- ada beberapa kata yang gw gak hapal spellingnya
- tidak move on untuk soal yang terlewat, padahal harusnya move on aja soalnya nanti soal selanjutnya bisa salah dan cek di ujung section aja.
- jawabannya mengecoh, awalnya misalnya dia bilang "Thursday", eh terus ganti jadi "Wednesday".
- kurang konsentrasi, bahkan 2 detik skip aja jawabannya ilang, jadi konsentrasi itu penting banget.

Kedua, untuk Reading, kesulitan yang gw alami adalah:
- awalnya gw agak sulit memahami isi bacaan dan malah jadi isi asal aja karena udah keburu males baca vocab-vocab yang menurut gw advanced, tapi pelan-pelan belajar gw akhirnya bisa memahami isi bacaan.
- pada soal yang ada, tertulis rephrase dari kalimat yang ada di paragraf, gak sama persis terutama vocabnya, jadi harus teliti.
- waktu yang terbatas, makanya tiap latihan gw selalu ngasih limit dan liat jam agar masing2 section gak lebih dari 20 menit. Kalo bisa sih malah section 1 yang relatif lebih gampang dari section 2 dan 3 bisa dipress waktunya biar untuk section 2 dan 3 bisa punya lebih banyak waktu.
- sama kayak listening, grammar pada isian reading juga kadang salah kalo gak teliti.
- pada tipe soal Yes, No, Not Given atau True, False, Not Given... kadang suka salah faham antara false atau not given, bahkan kebolak balik juga pahamnya. atau malah diminta soal ditulisnya yes/no, nulisnya malah true/false. 
- biar lebih gampang gw suka baca dulu soal baru baca pelan-pelan nyari jawaban dari bacaannya, bukan baca dulu semua baru isi, karena gw pelupa. Tapi lagi-lagi beda-beda tiap orang, kalau kalian lebih nyaman baca dulu semua baru isi ya berarti bagusnya memang begitu :)

Untuk writing, gw lebih banyak belajar dari kosakata apa aja yang harus digunakan sih, buat pembuka, penghubung, dan penutup. Pas gw les bahasa inggris di LIA jaman sekolah dulu, pernah dan sering sih tes nulis gitu. Jadi kalo gw nulis bagian writing biasanya sih:
-Paragraf awal: introductory statement, lalu di kalimat akhir thesis statement yang menyatakan apa yang akan kita tulis di body paragraph.
-Paragraf kedua, tiga, empat, lima dst (yang jelas body paragraph): ditulis dengan penghubung "First, Second, Third,..." atau bisa juga "Next, After that, ...". Tulis pendapat kita aja tentang tulisan itu atau fakta-fakta yang ada di task 1, sesuai apa pernyataan kita.
-Paragraf akhir: nulis awal-awalnya tentang simpulan dan di ujung adalah rephrase dari thesis statement yang kita tulis di paragraf awalnya.

Untuk speaking, gw semaksimal mungkin mengurangi "nggg...." "hmmm...", gw berusaha untuk bicara secara rileks aja hehe. Tips-tips yang gw dapat tentang tes IELTS banyak dari web ielts-simon.com, buku-buku yang gw download (yang gw inget sih Complete IELTS band 6.5-7.5), sama buku yang gw beli dari gramed itu sih (lupa bukunya entah kemana). Bagi kalian yang mau belajar ielts, tentukan aja cara belajar paling efektif buat diri sendiri, karena beda-beda sih tiap orang.
Sempet berhenti juga sih gw belajar IELTS karena bulan Desember gw kerja kontrak di BPJS satu bulan, awalnya gw ambil tawaran jobnya karena gw butuh uang buat tes IELTS, eh tapi ternyata qadarullah uangnya kepake buat berkas yang lain. Setelah gw beres kontrak, gw ngebut ngelengkapin berkas beasiswa dan gw pun memberanikan diri buat ambil IELTS tanggal 23 Januari 2016 di British Council Jakarta. Jujur gw ngerasa belom siap banget, apalagi gw selama ini hanya fokus belajar di Listening dan Reading (malahan gw suka males belajar reading karena lebih lama waktu untuk belajar 1 tesnya dibanding listening hahaha).

Gw daftar tes secara online dan disuruh transfer ke rekening bank HSBC british councilnya. Venue untuk tes Listening, Reading, dan Writing di Millenium Hotel Sirih Jakarta dan tanggal 24nya tes speaking di kantor British Council di Office 8 SCBD. Sampai di hari H, gw dari bogor naik KRL terus naik gojek dari stasiun Sudirman (katanya sih harusnya lebih deket dari stasiun Tanah Abang). Mana sempet gw deg-degan banget takut telat si abang gak tau jalan, padahal gw udah bilang itu deket BI tapi dia gatau BI itu apa ternyata -_- (oke skip). 

Sampe sana ternyataaaa, antrinya panjang banget, sampe mengular ke belakang, eh mana gw kebelet tapi takut antrian gw disalip, akhirnya gw tahan-tahan aja dulu deh, sialnya saat semua barang harus dititip dan ditinggal biar pas masuk ruangan cuma bawa KTP aja, ternyata gak boleh ke WC dulu -_-. Jadi buat yang mau tes IELTS, gw saranin kalo emang mau buang air kecil dari sebelum registrasi aja yaa. Akhirnya gw buang air kecil di tengah-tengah reading test gw ijin ke WC karena gw udah usahain buat section 1 biar kurang dari 20menit jadi gw bisa ke belakang hahaha. Makan waktu 5menit lebih dikit sih, no problem lah ya daripada nahan kebelet hahaha. 

Saat tesnya, kalo waktu sudah habis kita bener-bener harus lepasin alat tulis dari tangan, dan gw baru nyadar ternyata jawaban reading yang gw hapus dan ganti di last minute adalah yang bener -__-. Saat tes writing, ternyata task 1nya bukan grafik atau chart, tapi mendeskripsikan perubahan tempat dari 4 tahun lalu dan sekarang gitu. Kalo task 2nya sih ya mirip2 aja lah sama yang ada di buku Cambridge 1-10. 
Besoknya gw tes speaking di Office 8 dan gw yang ga pula ngerti jalan jadi jalan kaki dari halte Polda kesana, dan ternyata jauh ya bok, jadi kalo dari situ nanti ada Grand Lucky Superstore terus ada jalan tikus kecil masuk deh ke Office 8-nya. Sampe sana gw nunggu giliran gw speaking sama mister siapa ya gw lupa apa ga nanya namanya ya haha. Tema general dari speaking itu adalah tentang animal dan beberapa pertanyaan general aja. 

Setelah beres semua rangkaian tesnya, gw deg-degan banget nunggu hasilnya, apalagi gw gak yakin untuk hasil tes writing bisa cukup. Semua pikiran tentang tes mahal sayang duit blabla muncul di otak gw kalo skor gw ga mencukupi. Akhirnya... setelah menunggu lama tanggal 5 Februari 2016 keluar hasilnya dan alhamdulillah tidak mengecewakan dan bahkan saking terharunya gw liat hasil speaking sama writing sampe pengen nangis :"") (lebay sih tapi emang iya).


Gak percuma lah ya gw ngeprint soal-soal dan segala waktu yang gw habiskan buat persiapan, alhamdulillah skor gw cukup dan lebih dikit buat syarat. Jalan masih panjang, Bismillah... Sekian tulisan gw, buat kalian yang mau tes IELTS juga, goodluck yaa :)

Jumat, 09 Oktober 2015

Idealisme Syariah Pasca Kampus

Disclaimer: 
Tulisan ini ditulis oleh seorang fresh-graduate dari Ilmu Ekonomi Syariah IPB yang baru saja wisuda awal September 2015. Tulisan ini hanya merupakan pendapat dan pemikiran penulis saja, tidak bermaksud menghakimi atau mengatur pilihan orang lain. Hanya sekedar sharing pendapat dan tidak memaksa orang lain untuk sependapat :)

Semasa saya kuliah, terutama pada tingkat 2 hingga tingkat 3, saya sangat aktif berorganisasi pada Himpunan Mahasiswa Ekonomi Syariah, yang bernama Sharia Economics Student Club (SES-C), bahkan saya juga lumayan aktif pada lingkup regional Jabodetabek sebagai staff ahli di bidang Litbang FoSSEI (Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam). Semasa kuliah, baik pada saat mendengarkan kuliah dosen maupun di luar kelas, idealisme saya sebagai mahasiswa ekonomi syariah terhitung lumayan. Tidak pernah terbayangkan rasanya saya akan mengkhianati idealisme yang telah saya bangun semasa kuliah.

Saya pun berpikiran demikian pada teman-teman maupun kolega di sekitar saya. Saya berpikir, dengan pendidikan yang telah kita tempuh selama itu, masa sih mereka tega untuk mengkhianatinya selepas lulus dan berakhirnya masa studi?

Pandangan saya pun berubah total setelah saya melepas status mahasiswa saya. Saya juga dapat dikatakan lulus lebih awal dibandingkan teman-teman sekelas saya. Mungkin bagi para mahasiswa tingkat 2-3 yang belum merasakan perjuangan skripsi hingga akhir lalu perjuangan mencari pekerjaan ataupun beasiswa ataupun mencari suami, mereka belum mengetahui betul mengapa banyak orang-orang yang idealismenya semakin memudar pasca kampus. Mereka juga belum mengalami langsung bagaimana persaingan di dunia pasca kampus dalam mendapatkan pekerjaan idaman.

Awal-awal saat saya lulus idealisme saya masih terasa menggebu-gebu. Saya menolak untuk mendaftar semua lowongan kerja bank konvensional. Teman saya yang berseberangan mayor dengan saya, yaitu Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, mengatakan bahwa tidak masalah bekerja di bank konvensional, karena rejeki bisa datang dari mana saja. Saya langsung mengutarakan bahwa "Rejeki? Kalau sumber uang yang dihasilkan adalah dari riba yang notabene haram, maka itu bukanlah rejeki.. tetapi MUSIBAH."

Lama kelamaan, idealisme yang dulu terasa menggebu-gebu itu memudar. Pernah suatu kali saya tergoda untuk mendaftar internship di bank konvensional skala multi nasional. Saya bertanya pada beberapa kerabat saya tentang magang di bank ribawi. Jawaban mereka pun masih idealis. Saat itu saya merasa bersyukur bahwa lingkungan saya yang mengingatkan saya untuk tetap teguh pendirian pada pilihan untuk tidak bekerja di bank ribawi.

Mungkin bagi sebagian orang, bekerja di bank konvensional, menabung, melakukan kegiatan kredit rumah, serta meminjam uang pada bank ribawi tersebut adalah suatu hal yang lumrah karena biasa dilakukan oleh masyarakat. Tetapi jika saja kita tahu bahwa banyak ayat Al-Quran maupun Al-Hadits mengatakan bahwa riba jelas-jelas haram. "Memakan" uang riba adalah dosa yang amat berat, bahkan salah satu hadits mengatakan bahwa dosa riba yang paling kecil adalah sama seperti dosa berzina dengan ibu kandung sendiri. Naudzubillah. 

Sebagai orang muslim, mari kita gunakan analogi seperti ini.. kita semua tau kan bahwa daging babi itu haram? Lalu jika kita adalah muslim yang taat dan normal, tentu kita akan merasa jijik kan memakan daging babi? Nah, sama halnya dengan kita memakan uang riba, itupun haram. 

Sejujurnya ada sedikit rasa sedih saat teman saya yang berkata "Ah bank syariah juga sama aja sebenernya sama bank konvensional kan", apalagi jika yang mengatakan hal tersebut adalah orang yang pernah belajar ekonomi syariah dan tau hukumnya. Saya pun menjawab bahwa jelas berbeda, karena pada bank syariah masih ada Dewan Pengawas Syariah yang mengontrol aktivitas bank agar tetap patuh pada prinsip syariah. Konsep yang ditawarkan pada syariah pun berbeda dengan konvensional. Sistem ekonomi syariah, termasuk perbankan, merupakan sistem yang harus dipahami dengan iman kepada Allah SWT. Mengapa demikian? Karena jika kita tidak percaya pada hukum Allah SWT yang mengatakan dengan tegas bahwa maysir, gharar, maupun riba adalah haram hukumnya, maka penjelasan macam apapun akan menjadi percuma untuk mereka yang memang dasarnya tidak percaya.

Sebagian besar kolega saya yang lain masih idealis untuk menolak berkarir di lembaga keuangan konvensional. Perlahan, saya menjadi lebih toleran terhadap teman atau orang lain yang (padahal) saat mahasiswa menggeluti kegiatan ekonomi syariah tetapi bekerja pada bank ataupun lembaga keuangan lain yang konvensional/non syariah. Saya sangat mengerti sekali mengapa banyak orang yang tidak lagi seidealis dulu. Alasan-alasan yang mereka utarakan pun juga saya pun merasakannya. Walaupun demikian, saya berusaha untuk "keras" terhadap diri sendiri dan tetap teguh pendirian untuk tetap bertahan.

Berikut adalah alasan-alasan yang sering saya dengar jika (yang dulunya) aktivis ekonomi syariah. ataupun orang muslim yang telah mengetahui bahwa riba itu haram tetapi tetap memilih untuk berkarir di bank konvensional:
1.  "Namanya juga masih fresh graduate, wajar lah pekerjaan apapun diambil. Yang penting kan niatnya aja."
2.  "Cari kerja kan sekarang susah, lagian kerja di bank kan lumrah-lumrah aja. Daripada jadi pengangguran. Jangan terlalu pemilih lah dalam cari pekerjaan."
3.   "Gaji di bank syariah itu kan kecil, mending kerja di bank konven aja sih kalo gitu mah yang gajinya jauh lebih gede."
4.   "Ah bank syariah juga gak murni syariah kok, mirip-mirip aja sama bank konvensional"
5.   "Bank Syariah sama Bank Konven yang penting mah bayar zakat aja"
6.   "Gapapa untuk sementara ini kerja di konven dulu buat tambah pengalaman, nanti abis itu karir setelahnya tetep di syariah."


Finally, menurut gw, hidup ini bukan sekedar tentang mencari uang dan bekerja, tetapi tentang mempertahankan apa yang kita yakini sebagai kebenaran. Dan jawaban tentang pilihan itu tetap adanya dalam hati. Jika hatimu memang berkata bahwa kerja tersebut tidak masalah, ya lakukan saja. Tapi jika dalam hatimu kau ragu-ragu dan merasa janggal dalam hati, tetaplah pada pendirian tersebut. Bismillah, semoga Allah mempermudah saya mempertahankan apa yang saya yakini.

Rabu, 08 Juli 2015

STOP MEROKOK (DI SEKITAR SAYA)

Saya seorang perempuan berumur 21 tahun yang tinggal di Bogor, Indonesia dari lahir hingga sekarang. Saya tinggal di keluarga maupun lingkungan yang kebanyakan perokok. Saya mengidap penyakit asma dan alergi debu (rhinitis) pada saluran pernafasan saya. Ya, asma saya memang tidak secara langsung dipengaruhi oleh "polusi" udara. Penyakit asma yang saya miliki adalah alergi terhadap pengawet dan penyedap rasa pada makanan. Tetapi, menghirup asap rokok juga tak jarang membuat saya sesak nafas dan alergi debu saya kambuh. Bersin-bersin dan berujung pada flu berkepanjangan. 
Dear para perokok, saya tidak tertarik dengan betapa enaknya menghisap rokok bagi kalian dan saya pun sama sekali tidak berminat untuk menyicipi rasa merokok tersebut. Walau saya berkeyakinan bahwa rokok memang haram dan memiliki lebih banyak mudharat daripada manfaat, tetapi saya tidak masalah dan tidak ikut campur dengan kebiasaan kalian merokok JIKA TIDAK MEROKOK DI SEKITAR SAYA. Bahkan jika kalian anggap itu masih berjarak jauh dari saya, menurut saya bau asap tersebut masih tercium karena hidung saya sangat sensitif.
Berikut adalah alasan mengapa para perokok tidak berhak merokok di tempat umum, terutama di dekat saya:
  1. Orang lain berhak menghirup udara segar. 
  2. Saya TIDAK SUDI asap rokok tersebut masuk ke paru-paru saya.
  3. Orang lain yang berada di dekat anda belum tentu memiliki kondisi kesehatan yang prima, anda tidak tahu kan kalau saja orang yang terkena asap rokok anda itu adalah pengidap asma, ISPA, dll?
  4. Apa anda yakin bahwa anda tidak mengganggu orang lain? Saya sangat kesal dengan orang yang percaya diri mengatakan bahwa asap merokok mereka tidak mengganggu dan ingin dimaklumi oleh orang yang tidak merokok dan ingin menghirup udara bersih serta segar. Jangan tanyakan pada diri anda sendiri apakah rokok tersebut mengganggu atau tidak, tanyakan pada orang sekitar anda. Kalau saya yang ditanyakan sih ya saya jawab jujur, JELAS MENGGANGGU.
  5. Apa anda tidak sayang dengan tubuh anda sendiri? Benda bernama rokok yang anda hisap hanya mengandung zat berbahaya. Belum pernah saya dengar orang yang memiliki kebiasaan merokok menjadi lebih sehat daripada sebelumnya saat dia tidak merokok.
  6. Merokok sama saja membakar uang anda sendiri. Sudahlah, akui saja.. sebagian budget anda dialokasikan untuk merokok kan.
  7. Beberapa perokok yang ngeyel jika dinasehati dan diperingatkan untuk merokok sering mengatakan bahwa "merokok bisa saja sakit, tidak merokok belum tentu sakit". Dalam mengambil kesimpulan, janganlah berpatokan pada data pencilan/outlier. 
  8. Perokok yang ngeyel dan sering ngotot untuk merokok dimanapun dia mau walaupun banyak anak-anak dan orang-orang yang memiliki penyakit pernapasan juga ada yang mengatakan bahwa seharusnya orang lain memaklumi dia, menganggap lumrah, dan membiasakan diri menghirup asap rokok. Ini adalah perokok yang paling menjengkelkan bagi saya. Saya adalah korban, kenapa saya yang harus mengalah? Saya berhak menghirup udara segar, kenapa saya yang harus memaklumi? Dia yang mengganggu, kenapa orang lain yang harus bersabar?
  9. Ada lagi alasan ngeyel bahwa rokok (katanya) memiliki manfaat. Walaupun menurut sebagian orang ngeyel rokok memiliki manfaat, tetapi tentu saja LEBIH BANYAK MUDHARATNYA. Bukankah kaidah agama sangat jelas? Bahwa hal yang lebih banyak mudharat daripada manfaat harus ditinggalkan.
  10. (bakal ditambah)
Kalau memang tidak bisa berenti merokok, minimal jangan ganggu dan mengajak-ngajak orang lain untuk menghirup asap rokok anda. Saya sebagai penderita penyakit asma dan rhinitis merasa sangat terganggu dengan asap rokok. Saya berhak untuk menghirup udara bersih dan segar. Saya pun tidak sudi membiarkan asap tersebut masuk ke paru-paru saya.